Nyanyian Sumbang Untuk Penguasa

Negeri yang dihuni politisi yang terjun di arena dengan harapan menagkap peluang ekonomi, lalu memburunya demi segunung rupiah. Lalu, hidup bermewah-mewah dengan jabatan public di tangan (entah itu di parlemen atau instansi pemerintah dari atas kebawah, dari pusat ke daerah).
Negeri yang petani, nelayan,atau kalangan buruhnya harus sanggup merampungkan sendiri masalah ekonomi yang membelitnya-tanpa pemerintah atau aparatur yang membantu.
Negeri yang memberikan pasarnya seluas-luasnya untuk kepentingan kapitalisme global, dimasuki selaksa perusahaan multinasional, tetapi riang saja tanpa terusik.
Negeri yang dianjiri hasil produksi pertanian dari Negara-negara asing, wabilkhusus Tiongkok. Negeri yang dengan jemawa merasa nyawan dengan ekonomi pasar bebas. Yang kerap menjual asset-aset penting kepada perusahaan asing.
Negeri yang disesaki puluhan juta kaum miskin dari pedesaan dan perkotan. Yang standar hidupnya ‘’senin-kamis’’ bahkan tanpa papan yang mengelandang dari titik ke titik di metropolitan yang kian pongah dengan gedung-gedung beton tegak menjulang tinggi.
Negeri yang tak mampu menjamin anak-anak bangsa yang bias kuliah di perguruan tinggi (PT) lantaran biaya pendidikan semakin tak terjangkau mayorutas masyarakat. Tapi, itu dia pemerintah memberikan keluluasaan kepada PT untuk menjaring anak-anak dari keluarga mampu karena bias membayar puluhan hingga ratusan juta rupiah. Pokoknya, si miskin hanya bias berpanggku tangan karena pendidikan hanya milik mereka yang memiliki sekarung harta.
Negeri yang kian lupa dengan UUD 1945, lalu di jabarkan dalam pasal-pasal yang telah di amandemen beberapa kali. Negeri yang semakin kehilangan pegangan, kehilangan kebanggan-kebanggaan bahkan kebanggan keci, seperti mampu nomor satu di pentas SEA GAMES.
Negeri yang semakin tak punya identittas, bahkan, untuk urusan busana saja kitamakin disetir sesuatu yang berada diluar sana. Negeri yang pejabatnya, kelas menengahnya, hiangga masyarakatnya dibanyak lapisan terseret arus konsumerisme-serta karena itu kehilangan tekad dan kemampuan melakoni hidup sederhana.

Sumber: Jawa Pos Mingu, 23 Oktober 2011 yang telah penulis refisi dari penulis aslinya oleh MOH.SAMSUL Arifin.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s