Si AC Musuh Bebuyutan

Gambar

Latar belakang ku memang dari sebuah kampong halaman, tepatnya di kota ujung paling selatan, lokasi masuk dalam kawasan pantai selatan-yang kalau di tarik dari bibir pantai ke arah barat akan bertemu dengan negara Australia. Panggul, kota kecil yang menurutku kota ini mirip kota Qubec di Kanada, meskipun aku belum pernah menginjakkan kaki di kota Qubek. Karena kota Qubek yang aku baca dalam sebuah buku Ranah 3 Warna masyarakatnya  yang kehidupannya begitu makmur, dan itu sama persis dengan apa yang ada di Panggul. Meskipun sekarang kota Qubek sudah lepas dari Canada dan menjadi negara bagian sendiri.

 

Ketika di musim tanam padi berakir dan berpindah ke tanam kedelai. Di musim peralihan ini selalu tiap tahun di landa angin gunung yang turun dari daratan tinggi. Hembusan angin berembun setengah berkabut mengguyur. Akibatnya suhu menjadi lebih ekstra dingin kalau di malam hari.  Karena kota Panggul di apit oleh gunung dari berbagai penjuru dan sisi. Namun alhamdulilah bukan gunung yang masuk dalam kategori aktif.

 

Dari situ aku terbiasa dengan pola suhu seperti ini, lagamnya sudah kebal dengan suhu se-ekstrim apapun dinginya. Tapi ada sedikit yang eneh yang perlu aku bahas, meskipun aku terlahir di kota yang notabennya di apit gunung dari berbagai sisi tapi tubuh ku rentan masuk angun kalau terkena AC.

 

Pernah suatu ketika pas aku menghadapi ujian tes SNM PTN pada tahun 2010 kala itu. Tepatnya di gedung C kampus Universitas Negeri Surabaya yang lebih populer dengan sebutan UNESA. Tak tau apa yang ada dalam ruangan besar itu, dalam “bayangan”  ku gedung ini terbagi atas beberapa ruang kelas. Di dalam ruang kelas yang aku diami terdapat  seonggok kursi yang berjejer rapi untuk para peserta. Setelah saya masuk ruangan itu, memang benar dugaan saya. Kursi bejejer rapi membelah membentuk jalan setapak dari setiap deretan kursi.

 

Menegadahkan kepala ke atas, tatapan lurus menjurus aku melihat 4 buah AC (Pendingin Ruangan) yang  tepasang menggait di dinding. Ac itu membuat ancaman bagi kelangsungan ku di ruangan ini selama satu jam setengah. Baru masuk dan duduk di kursi saja aku langsung mengkrenyitkan dahiku, hawa dingin mulai menjalar, pelan-pelan kulitku mulai merinding terserang dingin. Aku mulai sedikit terusik. Kancing baju teratas kemejaku lengan panjang yang sebelumnya terbuka kini sudah merubuah posisi. Tertutup, aku terlihat anak cupu yang alergi terhadap AC.

 

Dengan demikian, kancing baju teratas yang aku tutup menjadi tameng. Tak tau untuk 5 menit, 10 menit atau dalam hitungan menit yang berkalkulasi menjadi hitungan jam, apakah aku mampu melewati ujian ini dengan lancar dengan ruangan Ber-Ac seperti ini.

 

 

 

 

 

Lima belas menit berlalu, baru 10 soal yang baru saja aku tumbangkan dari 60 butir soal keseluruhan, aku mulai tak konsentrasi dalam peperangan ini. Hawa dingin mulai mendominasi suhu badanku, pikiranku mulai terseyok-seyok pertanda otak ku tidak bisa lagi di ajak bekerja untuk berfikir. Telapak tangan ku mulai berembun, kelihatannya ruangan ber-AC ini memang tak cocok untuk aku diami. Perutku pun juga bergejolak, jika sudah begini ya sudah pasrahkan saja. Tinggal dalam hitungan detik udara  ber-AC ini mampu menumbangkan ku, benar saja aku mulai buang gas karbondioksida (istilah bahasa kasarnya: kentut). Untung tidak bunyi, kalapun bunyi satu ruangan ini bisa kacau dan panik hanya gara-gara bunyi kentut ku.

 

Belum sampai disitu saja, masalah terbesar adalah jika kentut ku ini mengelurkan bau yang  tidak  enak, tentu menganggu teman-teman para peseta tes ini, memang apa yang di katakan neneku dulu tentang filsofi kentut ada benarnya. “Lek  ora di tokne dadi molo, yen lek di tokne dadi perkoro lan doso,” (Kalau tidak di keluarkan menjadi penyakit, tapi kalau di keluarkan bikin perara dan dosa: kira-kira seperti itu kalau di terjemahkan dalam bahasa Indonesia).

 

Selang hitungan beberapa menit, untungnya tidak ada reaksi penyumbatan hidung dari teman-teman di sebelahku, pertanda gas buang ini memang tidak mengandung “racun”. Tiba-tiba seorang petugas penjaga ujian datang ke arahku, bapak berdasi, yang tak tau namanya ini langsung bertanya,” Apa kamu masuk aingin,”? Dengan cepat aku menyergah,” Oh…Tidak Pak, saya baik-baik saja,” !! Nampaknya mayoritas peserta tes dalam ruangan ini pandanganya langsung mengarah ke percakapan ku dengan bapak petugas ini. Yang jelas aku  mengelak dari pertanyan. Meskipun aku mengelak, tapi secara kasat mata jelas tidak terbantahkan,  aku terserang masuk angin. 

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s