Inspiratif: Si Sulung & Ibu Srikandi

“Siapa yang berpuasa maka berhak merayakan lebaran, siapa yang mampu berjuang keras maka wajib hukumnya merasakan kesuksesan, berlelah-lelahlah manisnya hidup setelah lelah berjuang, singkat kata dalam istilah bahasa jawa,” sopo seng tekun bakalan tekan,”

Begitulah sebait kalimat yang selama ini menjadi pemantik untuk terus growt (berkembang) mengikuti fase langkah kehidupan menuju yang telah lama di harapkan, yaitu impian (dream”s).  Hanya itu yang menjadi “pemantik” ketika semangat itu mulai lelah dan nampak padam, menjadi dasar sebagai pijakan ketika langkah mulai tak lagi ringan untuk  terayun.

Tempo itu, malam mulai beranjak terarak sunyi, di ruang  berpetak yang  berukuran  tak lebih luas dari ruang tahanan itu, hanya berisi meja  dan setumpuk buku yang entah kelihatanya sudah sebagian usang, memang mayoritas  buku itu statusnya  pinjaman, sudah terlalu lama  termakan waktu. Ada dua tumpukan buku yang mengunung, yang pertama buku  kuliah ku sendiri, dan yang ke dua bukunya Si Sulung, di antara dua tumpukan buku ini paling banyak bukunya Si Sulung lantaran ia sekarang sudah menempuh masa pendidikan S2-nya.

Begitu  sangat sempit ruangan ini ketika harus berbagi dengan meja dan seperangkat lemari kayu bewarna  lusuh yang catnya sudah mengelupas.

Seperti biasa aku membuka komputer jinjing ini entah tak tau untuk apa, duduk bersila takzim dan hanya memutar lagu-lagu klasik beritme pelan, beriring pas aku membolak-balikan lembar per halaman buku ini, bukan buku mata kuliah, hanya sepintas buku pengiring ketika aku harus berlari dari rutinitas di kampus. Atau bahkan  melepas keterjenuhan dan melepas kebosanan.

Tak selang beberapa lama Si Sulung datang, tidak ada suara ketokan pintu,  terlihat muka masamnya terlibas dari kesibukan hari ini,  hanya nampak senyap  yang di perlihatkan, aku tatap matanya, memang benar,  mungkin memang pertanda kegusaran.  Tenyata benar, mulutnya mulai bergumam.

 “Sandra dan Dina sekarang sudah kelas 1 SMA, 3 tahun lagi lulus, kita hanya ada waktu 3 tahun untuk mengumpulkan uang untuk mengkuliahkan mereka ber-2 kelak, jika ambil skenario terburuk dan mereka berdua kuliah di PTS setidaknya kita harus siapkan 80 juta buat mereka berdua,” tururnya dengan nada pelan.

 

Aku tak tau harus jawab apa, hatiku rusuh pelan-pelan tersimak. Hanya hening  yang ada dan itu berlagsung beberapa menit. Aku masih belum bisa menjawab. Perlahan-lahan aku mecari dalam perenungan.

Dengan nada berirama rendah, mulutku terucap jawaban,” jika kita punya niat dan tujuan mulia Allah akan memudahkan jalan itu,  menggerakkan delapan planet mengitari matahari saja Allah mudah, apa lagi hanya satu kaum hambanya,” tururku sambil mengrenyitkan dahi, mencoba meyakinkan.

Cak, Yang penting kamu sudah punya bekal, tamatan kuliahmu berlebel S2, nilaimu coumlaude, kamu akan di “kejar-kejar” bukan mengejar-ngejar, aku sebentar lagi lulus. Apakah kau ini  masih  gusar,” ?. Timpalku lagi, sembari meledakan dan meninggikan nada bicaraku. Tangan kananku mengepal,  aku sungguh-sungguh dengan jawaban ini.

“Ya sudah, skripsimu harus selesai semester ini, target 5 semester harus lulus,” jawab sulung sambil merebahkan punggungnya ke dinding kamar.

Dari awal masuk kuliah dulu, Si Sulung tak pernah membayar uang semester, beasiswa mulai di dapat semenjak semester 2,  sampai akhirnya terbebeas dari uang semester hingga sampai lulus kuliah, ceritanya IPK-nya itu yang membuat beasiswa tak enggan utuk menempelnya. Hingga pada suatu ketika wisuda menjelang dan berlangsung di salah satu hotel ternama yang ada di kota ini, Surabaya, Si Sulung mendapatan penghargaan sebagai wisudawan terbaik. Predikat BEST COMPLIMENT BACHELOR XXXIII telah di raih. Sungguh, tak menyangka, bahkan keheranan ku tak berujung. Masih tetap termenung. Padahal  Si Sulung kuliahnya masuk kelas malam, jam 7.00 pagi berangkat, jam 5.00 sore pulang kerja habis itu berangkat kuliah. Pulang pun waktu sudah larut malam. Memang Tuhan tak pernah tidur, berpihak pada hambanya yang benar-benar mau.

Kemudian, orang dalam kampusnya menawarinya untuk kuliah S2 dengan catatan, hanya mendapat  beasiswa selama satu tahun. Ya, udah akirya tanpa berfikir panjang lebar Si Sulung mengambilnya.

, Mau tak mau aku harus bisa lebih dari Si Sulung, bisa lebih hebat darinya, yang lebih lah pokoknya. Jika Si Sulung sekali dayung dua pulau terlampaui, kalau bisa seketika dayung aku tebas 1000 pulaupun sekalian aku lampaui. Going The Extrak mile”s. Berjuag di atas rata-rata. Selama aku masuk awal kuliah dulu, Si Sulunglah yang membiayai kuliahku. Tekat ku cuman satu, pokoknya semester pertama aku harus dapat beasiswa. Aku harus berhenti meminta uang semester kepada Si Sulung. Tapi  apa ada beasiswa dari semester satu ?? tanyaku dalam hati. Ah, yang penting berusaha saja.

Ketika informasi lowongan beasiswa di rilis, di ruang kemahasisan aku buru-buru untuk melihat semua kelengkapan persyarantannya, dan ternyata setelah aku baca sampai selesai, kalimat paling bawah sendiri,” Persyaratan IPK di atas 3,00,”. Lemes akhirya. Aku masih semester 2 jalan, yang ada masih IPS (Indeks Prestasi Sementara). Ya, sudah sesuai recana di awal meskipun dari persyaratan aku belum masuk “nomiasi” tapi akan aku coba dulu. Barang kali pihak kampus tau, kalau aku ngebet pengen dapat beasiswa. Aku harus gigih, meskipun nanti pas seleksi verfikasi kelengkapan data berkasku akan di sisihkan, paling tidak aku ada niatan dan semangat untuk kuliah terbebas dari uang semester, dengan acuan nilaku yang sudah memenuhi syarat.

Setelah beberapa bulan kemudian, pihak kemahasiswaan mengumumkan tentang siapa-siapa nama yang memperoleh beasiswa,???? Semua “pelamar” berjubel antri melihat selembar kertas yang di tempel di kaca ruang kemahasiswaan itu. Aku coba menerobos, di antara kerumunan pelamar beasiswa yang lain. Mataku pelan-pelan membaca daftar urutan nama dari yang teratas hingga sampai bawah, ternyata benar, namaku tidak tercantum dalam selebaran itu. Aku baca ulang selembar kertas itu, sambil berharap namaku terselip di atara ratusan nama yang lolos, tapi hasilnya tetap saja nihil.

Waktu kian berganti bulan, semester dua berjalan, dan ujian semester sudah berlalu aku sudah mengantongi tiket untuk mengurus beasiswa lagi, aku sudah punya IPK. Dan aku yakin nanti kalau ada informasi beasiswa lagi terus aku “lamar” pasti bakalan lolos. Tidak tau dari mana datangnya sebuah keyakinan, sampai aku se-optimis itu. Apa mungkin tekad ku itu yang membawaku pada keyakinan. Entahlah. Libur semester dua ini berlangsung 2 bulan, aku pulang ke nagari kampung halaman untuk sekedar melepas keterjenuhan dari kesibukan di kota ini, yang pasti suasana yang beda itu yang aku cari.  Ketika, masa tenangku sudah berlalu dan aku terburu balik ke rantauan tempat dimana aku menunutut untuk kelak masa yang akan datang. Dalam  perjalan, seketika aku di dalam mobil berplat “kuning” hand Phon (HP) berdering, serasa ada panggilan telfon masuk.

‘’Hallo….,”

“Iya Haloo,” jawab ku.

Suara perempuan, entah aku tak mengenalnya, suaranya jarang terlintas di telingaku. Masih asing. nomer berkode awal 031… … …

“Ini dengan Boedi,”

Iya, saya… Mohon maaf dengan siapa saya berbicara,”??? jawab ku, dengan rasa penasaran, suaranya seperti perempuan dewasa, lembut dan ramah pelan menyapa.

“Ini dengan Bu Srikandi, bagian kemahasiswaan,”

Maaf, dari kampus kah buk,”???

Iya..bener, eee.. Boedi kalau sudah masuk kuliah segera melengkapi, berkas persyaratan beasiswa ya, namamu akan di usulkan sebagai penerima beasiswa,”??

Benar kah buk,” jawab ku, tak yakin.

“Iya……,”

“Iya…. buk, terimakasih banyak sudah di kasih informasi, ini saya masih Trenggalek, perjalanan balik ke Surabaya,”

“Oooooo….gitu, besok kalau masuk kuliah, temui ibuk di ruang kemahasiswaan ya,”

Eenggeh (Iya)…. Pasti-pasti,”

“Ya sudah, gitu aja…. Wasalau,’alaiku….

“Wangaliku,’salam,” tut tut….tut……. suara dentiga spiker handphone yang terputus.

Dalam mobil, penuh sesak penumpang itu, aku tak henti menebar senyum. Rasanya tak tau mau di luapkan kemana hati yang rusuh meneria kabar senyum itu, hanya sebatas ucap wasyuukrulillah. Aku akan dapat beasiswa, ini yang aku cari, kian dekat, bahkan tinggal selangkah lagi. Hanya tinggal pengiriaman berkas kelengkapan. Dan setelah itu namaku tercantum dalam Selebar Kertas Berderet,” Penerima Beasiswa Berprestasi Tahun Akademik… … …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

 

Salam jabat erat, happy week and:

 

Boedi.S. Totoraharjo ‏@boedinstitute

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s