Dewi Citrawati

Jika mbah @sudjiwotedjo punya Retno Kusumarwardani dalam bukunya Jiwo j#ncuk, yang di  dalam tulisan itu mengulas mengenai perempuan piring terbang, semacam tipe perempuan, jika kebetulan dalam keadaan  marah bisa menerbangkan piring terbang, bahkan asumsi ku mengatakan mungkin bisa menerbangkan rak-rak piringnya sekalian. Hebat, bahkan mahkluk luar angkasa UFO pun kalah. Ini lah potret sebagian perempuan-perempuan yang ingin mendapat mandat kesetaraan gender, dalam batinnya tertuangkan pesan, “jangan pernah anggap remeh kaum perempuan”.

Maka dalam selembar coretan kertas putih ini  aku menemukan Dewi Citrawatii, ini  bukan “soal” perempuan piring terbang  yang ada dalam bukunya mbah @sudjiwptedjo, tapi sebaliknya. Tentang perempuan yang hebat di lain sisi penggalan zaman, pemikirannya  melampaui batas perempuan se-usianya.

Ketika aku masih semester dua, kala itu. Aku belum tau apa-apa tentang perempuan ini, (all abaut you). Aku masih fakir informasi tentangmu.  Aku masih terus mengamati tentang sosok perempuan ini,  ia memang waktu itu aku sering mendengar namanya mendengung di sela-sela obrolan kelas “warung kopi” di saat bercengkrama  teman-teman sekelasnya. Desus dari warung kopi itu kini bermula.

Di lain penggalan  waktu, nampaknya keingin tahu”an tentang perempuan ini mendapat titik terang, antusiasme ku sedikit terredam semenjak aku tahu tentang nomer pin BlackBerry-mu. Ia memang user (pemakai) produk RIM ini terimbas gejala social soal konten BBM-nya, jarak personal-antar personal kian dekat.  Di fase awal, hanya sebatas ngalor-ngidul, hanya modus-modus kecil obrolan yang terlintas. Aku pun tak bermaksud “introgasi” lebih dalam tentang perempuan ini, yang ada hanya sebatas kecukupan saja. Namun, aku semakin  terperanjak ketika keingin tahuan ku, hanya sekedar setengah-setengah. Harus tahu semuanyam, aku terus menggelegak membuntutimu.

Di awal pertemuan itu, tepatnya di Kafe yang memuat aku tertipu soal koffie,  tanda- tanya kecil mulai bermunculan ? Lantas aku tak mungkin berhenti untuk mencari jawaban dari setiap sejengkal langkah yang kau tapaki. Rasanya ribuan, ratusan, bahkan jutaan langka mu pun aku ingin menjadi saksi, mencatat apa yang terjadi di balik lembar perempuan ini.

 

Malam itu, di balik celotehan panjang tak sengaja kau mengalihkan topic, tiba-tiba kamu mendadak serius tapi bukan aroma tendensius, kamu menyampaikan berita tentang wali kota termuda di dunia itu. Tentang wali kota Bashaer Othman, 16 tahun, Di kota Allar tepi barat Palestina. Kamu tak henti mengagumi  sesosok perempuan 16 tahun ini.

Kanget ? ia. Meskipun sekarang lagi ngetren tentang istilah “googling” namun perempuan ini mendahulukannya dengan  “yahooing”. Itu istilah yang aku sebutkan. Ya, rasanya memang pas dengan momentnya. Aku pun tak sempat  nyambung dengan apa yang kamu sampaikan itu, komentarku pun hanya sebatas,”Oh….Iya, benarkah.

Itu jawaban yang kiranya sangat normatif yang keluar dari mulutku, memang terkadang bahasa harus sesekali meniru “logatnya” para pejabat itu. Baru dalam kejapan jeda jam aku gak memantau lalu-lintas di “yahooing” dan perempuan ini seolah-olah tak pernah memakai “ban belakang”. Perempuan pemakai hijab ini,  tak pernah ketinggalan rupanya. Asem, aku ketinggalan rupanya. HAHAHA. Iya, terimakasih sudah mau sharing, meskipun hanya dalam transkip chat BlackBerry. Setelah aku cek, di hulu itu benar adanya dengan apa yang kamu sampaikan tadi. Dari hal kecil ini saja “ban belakang” kamu singkirkan. Ban sarep pun tak berbau.  Lalu apa yang terjadi dengan hal-hal lain yang ada di sekitarmu?.

Aku  sudah tak heran, bahkan sudah tak kaget ketika “angkamu” dalam akhir semester itu  melampui “batas” dari mayoritas mahasiswa di kelasmu.

Yang bikin aku minggring dan kaget, bahkan bukan soal anggka, maupun yang menyangkut tentang ban itu tadi. Tempo itu, birokrasi kamu kritisi habis-habisan, tanpa adanya wasit kau sajamkan pukulan telak tentang mbuletnya birokrasi  kampus, bahkan ranah jenis mahasiswa kamu sebut. Ternyata ini di luar dugaan ku. Kamu mengurai panjang lebar di sela-sela obrolan itu. Heran, ternyata bukan aku saja yang kurang “ngeh” tentang keadaan itu. Ada kesamaan. Baiklah, mari menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Selanjutnya susun rencana kedepan, lalu lesak-kan. Itu saja. Biar hasil, Tuhan yang bercampur tangan. Dan Tuhan bercampur dengan kemauan.

Urusan tugas saja kamu referen tetep di jalur resmi, adopsimu tetap dari ruang berjejer, bertumpuk gunungan buku. Mungkin jika buku, dan rak itu tak kamu singgahi, tak kamu sambangi, betapa kangennya, akan ketukan lantunan jemarimu. Apa lagi di zaman ini sudah lumrah, mahasiswa copy paste soal tugas di berbagai milis dunia maya itu. Proses yang akan membawa hasil, jika proses saja sudah asal-asalan lalu apa kabarnya dengan hasilnya ?. Lalu benak terbesit “Kamu perempuan penyuka HAKI (Hak Kekayaan Intelektual)”.

Di luar aktifitas kampus tentang perempuan ini: Ternyata perempuan ini ke ibuan, tiap hari perempuan ini berada di tiga titik. Tiga titik yang di huni anak-anak marjinal, petang bersambut dan jam kuliah telah selesai, kamu menjelma menjadi #Pengajar Keren.   Anak marjinal itu menantimu. Kini anak-anak kecil itu bahkan tak menyebutkanmu  sebagai mahasiswa atau menyebutkan namamu sesuai yang tertera di KTP, tapi seorang  ibuk, ”Hore…horeee ibuk datang,” itu gambaran teriak-teriakan mereka yang pecah di antara sepinya hari.

“Hus jangan panggil ibuk, panggil kakak,” katamu kemarin masih segar terlintas. Memang anak-anak itu butuh seorang sesosok ke ibuan di balik gersangnya kasih yang mereka (anak-anak jalanan) temui.

Aku hanya bisa bilang  tentang perempuan ini dan komunitasmu, apa yang di lakukan lebih hebat dari Pemerintah, ”Fakir Miskin Dan Anak-Anak Terlantar Di Pelihara Oleh Negara,” tertuang dalam Pasal 34 Ayat (1) UUD 45. Apa yang kamu lakukan adalah tanggung jawab secara moral, nampaknya di “atas” sana ada yang lagi “amnesia” atau pura-pura lupa, jalur pemerintah  seharusnya tanggung jawa secara kenegaraan berdasarkan Undang-Undang, hanya bulstit.  Ada zakat, ada infak, dan posisi pemerintah adalah zakat dalam artian wajib atas persoalan anak-anak marjinal ini. Perempuan dan komuntas ini lebih unggul, dan lebih melakukan banyak hal dari pada yang seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap anak-anak marjinal.

Disitulah letak kebagaan ku sama kamu, kamu tampak dewasa. Dan tampak seksi. Seksi ketika aktifitasmu terpaket beberapa rutinitas yang tak tepisahkan, dan itu hal yang harus di kerjakan  jadi jangan katakan itu terpisahkan. Dalam dirimu menempel beberapa tugas. Perempuan berlael mahasiswa, Perempuan Berlaer “ibuk-ibuk” dan Perempuan “nge-job”. Dan kamu bisa menjalankan dengan utuh.

 

Dewi Citrawati Vi Veri Veniversum Vinus Vici \(●ˆ▽ˆ●)/

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s