Mas Agus & Mbak Indri: Journalist itu Seperti Memasak

foto pribadi

Lagi, kelas magang Tempo yang di selenggarakan di bawah naungan Biro Tempo Jawa Timur di bawah Ketua Redaksi Mas Agus Sup berjalan untuk ke-2 kalinya. Dalam kelas magang ini turut hadir Dewi Suci Mandiri, Permata dan satu lagi Rantih absen lantaran kondisi kesehatan yang lagi tidak segar. Kelas magang Tempo yang ke-2 ini sebenarnya molor dari waktu yang telah di tentukan, yaitu pukul 09.00 WIB sebenarnya harus sudah “lonceng berbunyi”. Ihwal jam karet itu bermula karena kesibukan Mas Agus yang baru tiba dari Jogja jam 05.00 subuh. Alhasil seperti dalam sebuah bahasa novel menyebutkan terserang Mata Panda.

Tepat sampai di kantor yang ber-genre minimalis itu, saya di sambut Mas David, salah satu Journalis senior Tempo yang berkelahiran Lumajang. “Mas David ya,”? tanyaku singkat. “Iya, kok tahu,”. Asal nebak saja Mas. Tak saya duga, sepotong tebakan kalimat itu yang membuat obrolan menjadi hangat. Sempat ngobrol sana-sini dengan mas David di ruang yang tamu yang berderet kursi sofa itu. Dan pertanyan yang rutin saya lontarkan kepada seorang journalis, ”Sebelumnya waktu kuliah pernah aktif di pers kampus Mas,”? tanyaku sembari rebahan di kursi sofa itu. “Gak ada malah, dulu kerja pertama saya bukan jadi wartawan… hehehe,” kelakarnya di susul senyumnya. Ternyata, Journalis yang sudah 4 tahun di Tempo yang sekaligus baru saya temui ini masih satu kampus dengan teman saya, di Universitas Jember.  Itulah gambaran bentuk sebuah siklus kehidupan.

Jelang beberapa jeda kemudian Mas David pamit, lalu datanglah ke-2 calon Journalis dari kaum hawa ini hampir bersamaan. “Mbak Dewi ada teman baru ini, yang juga ikut magang, kenalan dulu dari kampus tetanga ini,” tanyaku. Karena memang sebelumnya belum pernah kenal. Ke-2 peremuan yang identik dengan hijab ini saling mengulurkan tangan.  Mereka saling mengorek keterangan pribadinya satu sama lain. Meski pun tak sampai cipika-cipiki layaknya orang berdasi itu.

Akhirnya, tak selang sekian lama Mas Agus datang, dengan muka sayu setelah langsat. Duduk di kursi sofa itu lalu menyatakan permohanan Maaf kepada murid-muridnya karena sudah satu jam menunggu. Musabab tuntutan kerja itu rupanya yang terkadang menjadi jam padat, seperti itulah gambaran jam sibuknya. Tak apalah, yang penting kelas tetap berjalan sesui hari yang telah di tentukan. Ya ampun, surpise banget di magang Tempo kelas ke-2 ini kedatangan Mbak Endri. Jadi bisa berkolaborsi dengan Mas Agus dalam sharing-sharing-nya kali ini. Jadi lebih meramaikan sekaligus menghidup kan suasana.

Mas agus lah yang menjadi pembuka ceremonial kelas siang itu. Dalam pertemun ini materi tinggal beberapa point lagi, dan nampaknya pertemuan hari ini akan menjadi pertemuan kelas terakhir. Ah, bakalan habis berlalu rupanya. Kelas itu tinggal seberkas kenangan.

Siang tadi, 4 Nopember 2012, antara pukul 10.30 hingga pukul 13.30 menjadi titik terakhir perjalanan singkat dari total 9 poin materi yang di ajarkan. Sisa dari 9 itu kini 6 yang di bahas dalam arena meja bundar itu. Di antaranya, jenjang karir dan sikap wartawan Tempo. Mas agus menerangkan di Tempo memiliki sitstem jenjang karir yang sangat rapi dan panjang yang harus di lalui. Dan puncak dari jenjang karir itu menduduki Pimpinan Redaksi. “Paling singkat 8-10 tahun untuk mencapai kesana, itu pun dengan nilai A, jadi tiap hari harus bisa berprestasi,” tuturnya. Lalu saya pun mulai memain-kan logika. Dalam hati terbesit, makannya tidak heran kalau Tempo selama ini memilki orang-orang hebat di dalamnya. Jadi tidak kaget kalau orang-orang Tempo di lirik media tetangga. Bahkan ternyata sudah ada yang di bajak. Seperti perompak saja ya. Itu-lah hasil dari system manajeril yang begitu terperinci dan sehat, out-put-nya ya itu.  “Tapi hak semua orang bebas menentukan dimana ia bekerja,” terangnya dashyat.

“Rasanya sakit ya kalau anak didik kita di ambil begitu saja, sakitnya kalau kelihangan teman dan lebih sakit lagi kita di wariskan pekerjaan,’’ kelakar Mbak Endri, dengan senyum renyahnya.

Setelah pria asal Solo itu menjelaskan ini-itu terkait materi, sekarang giliran Mbak Endri yang maju menjadi “Ibu Guru Sesaat”. Dalam liputan di Tempo, maksimal ada 13 kriteria yang harus di perhatikan, mulai dari kehangatan, tokoh, magnitude, pertama kali, eksklusif, relefansi, trend, dramatis, misi, human interest, unik, prestisius, dan  yang terakhir angle lain. Ini yang menjadi garis besar dalam point materi nomer urut 5.

Wanita memakai baju batik warna kuning kepodangan ini, mengatakan kalau wartawan sebelum ke TKP harus seperti orang belanja. Wah, ini di ibartkan dengan kerjaanya sebagai ibu rumah tangga ternyata. Wartawan harus “belanja” dulu sebelum pergi liputan. Belanjaan itu, ya harus tahu tentang masalah yang akan di liput, terus mulai menyiapkan daftar belanjaan (pertanyaan) yang akan di ajukan ke narasumber. Begitu kira-kira analoginya.

“Ingat wartawan bukan penulis novel,” tutur perempuan berambut seperti Polwan itu. Jadi stuktur tulisannya seperti model piramida yang terbalik. Di paragraf teratas tulis dari yang penting dulu. “Jangan banyak kutipan, dan jangan pernah lupa ngasih kutipan entar di kiranya wawancara sama setan,” tandasnya dengan jenaka. Mbak Endri menambahkan semakin redaksi memopotong berita, semakin bagus kualitas berita. Buang kalimat yan tidak perlu, sehingga kalimat tetap utuh dan bisa di pahami.

Di akhir sesi kelas ini, Mbak Endri menyampaikan pesan akalu pergi liputan pakai pakaian yang rapi, yang pantaslah, kira-kira derajad kita sejajar dengan orang yang mau di wawancara. Jangan pakai kaos oblong, dan satu lagi yang harus di garis bawahi hindari penerimaan amplop. “Meski pun Anas Urbaningrum teman dekat saya dan suatu saat jika dia jadi tersangka, ya tetap saya tulis, tapi di lain sisi sebagai teman ya, saya harus mengantarkan rantang,” terangnya sambil tertawa ramah.

Dalam akhir tulisan ini saya tak menduga kalau ada makan siang bersama, sudah seperti keluarga besar rupanya, istimewa sekali. Ini pertama kali saya makan-makanan gudek khas daerah Yogyakarta itu. Sebelumya masih asing dengan ini makanan. Ternyata rasanya cukup menusuk lidah dan perut. Amat astaga rupanya, enak.!!! Terimakasih banyak atas semuanya.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s