November Manis, Desember Asem..!!!

 Laras….. lagu pengiring malam ini masih tetap setia dengan Sheila On 7 dengan hitsnya “Kau Kini Ada”. Saya memang suka dengan lagu ini. Ah, udara Surabaya kali ini tidak seperti biasanya yang di keluhkan banyak orang itu, begitu dingin. Entah memang apa karena suasana hati ku juga ikut-ikutan dingin juga mala ini. Kebetulan  lahan di belakang rumah masih kosong, banyak pohon yang tumbuh disitu dan masih sangat hijau pupus ketika di lihat. Selain pengiring lagu Band asal Yogya itu, malam ini suara desiran jangkrik pun ikut berirama. Apa kau bisa merasakan kesendirian ku disini..!!!

Sepertinya seakan-akan aku menimkati susana kampung halamanku. Sudah berapa lama ya kita saling kenal. Saya juga tak bisa menghitung. Saya ndak ingin “Menghitung Hari” seperti lagunya KD itu, ujungnya sadis, bahkan Dosen psikologis yang juga pernah memenntoring saya waktu ikut lomba kewirausahaan itu mengatakan “Tragis”.

Apa kamu tahu malam ini hati kecilku memikirkanmu?. Hanya tuhan dan aku yang tahu. Tidak ada secangkir coffe malam ini yang ada hanya sebotol air putih mineral dalam kemasan. Yang menemani di sampingku. Mataku malam ini juga terfokus kepadamu. Jadi ikut-ikutan melek. Ini karena musabab kalimat pertama dalam paragraf ketiga di atas ini.

Meskipun saya besok libur ndak ada jadwal UTS (Ujian Tengah Semester), tapi hatiku ndak pernah ikut-ikutan libur memikiranmu, disini. Lagi pula aku ndak ngerti kenapa jadi seperti ini. Kemarin setelah saya lagi asyik-asyiknya melihat berita yang ada di Mentro TV itu, sekitaran jam 19.00, saya jadi paham dan tahu jawaban selama ini.

“Kamu ndak di tanya Mas-mu atau ayah dan ibuk-mu: “Kekasihmu sekarang siapa,”? tanyaku dalam pesan BBM itu.

Aku gak pengen punya kekasih, lagian orang tua-ku juga ikut mendukung dengan apa yang aku kerjakan sekarang,” jawabmu via pesan hp pintar itu.

Gak Yakin, dengan jawaban ini. Sungguh.

Setelah saya baca sampai selesai sepotong kalimat balasanmu itu, lalu saya terdiam. Sementara berita yang di sampaikan oleh perempuan cantik yang ada di TV itu saya sampingkan. Saya baca berulang-ulang, terus dan terus pesanmu. Berharap saya salah baca. Tapi apa yang terjadi, memang ndak salah baca. Mataku ndak minus kok. Jadi apa yang di sampaikan temen dekatmu Si Ira pas aku minta keterangan tentangmu itu benar rupanya.

“Saya tahu, pasti banyak cowok yang mendekatimu, banyak juga cowok yang memyatakan perasan ke kamu, lalu kamu…………………………………………………bilang gak. ,”

“Bisa aja kamu, lambemu tak seplak kowe ,’’ jawab-mu bergurau.

Bahkan aku di antara sekian laki-laki itu. Tapi berutung aku belum menyatakan kalau aku ada rasa sama kamu. Jadi gak harus nerima pil pahit, karena kamu masih ingin sendiri. Meskipun, aku belum ngomong terus terang, aku yakin kamu tahu. Kamu perempuan yang peka. Sampi-sampai malam itu aku memasang Timeline kiacuan di twitter akun pribadiku, “Jika mau sedikit lebih peka, makan akan lebih banyak hal-hal yang seharusnya gak terjadi,”.

Sekitar dua pekan sebelum kamu merilis tentang pernyatanmu. Di halte kampus yang penuh deret kursi warna cokelat lolipop itu saya tanya sama teman dekatmu. Tempo hari itu, suasana di taman halte kampus sangat sepi, jadi aku bisa tanya leluasa tentangmu. Jadi maaf kalau waktu itu mata kananmu mendadak keduten, berarti aku pelakunya yang ngegosipin kamu.

“Ra…, kamu teman dekatnya Laras, dia apa sering curhat sama kamu?” tanyaku, berat.

“Iya, Sering. Kenapa?’’

“Aku mau tanya, dia sekarang lagi dekat sama siapa?’’

Ira bilang, “Laras itu lagi asyik dengan dunianya sekarang, lagi pingin menikmati kesibuanya,” jawab Ira singkat.

“Tapi Ra, …! Kenyatanya beda, dia ndak seperti apa yang kamu bilang ini,’’ timpalku  sengit, mencoba mempercaykan diri.

“Terus..!!!!,”

“Iya, kamu tahu sendiri kan, BBM-nya yang kemari-kemarin itu,”

‘Yang mana?,”

“Yang BBM malam itu, sehabis kita ngerjain soal petisi-petisi ke kampus,”?

“Oh… itu, Iya juga sih….,”

Begini aja, ya udah sekaran jalan aja terus, aku hanya bisa dukung kamu. Nanti, apaun resikonya, kamu harus siap,” jawabnya menasehati.

Nanti, kalau aku jadi-sama itu anak, aku traktir kamu makanan khas Italy itu,”

“Hehhehe…. Siap. Beres.,’!!! jawabnya tersenyum

Bener apa kata Ayah tempo hari itu sebelum aku berangkat ke Surabaya, “Perempuan terkadang hatinya susah di tebak, hati-hati,’’ tuturnya, sambil menepuk-nepuk pundak-ku.

Teman dekatku, ketika memaksa saya untuk bercerita soal beginian. “Mending di selingkuhin dari pada di PHP-in,”.

Hanya testimony orang. Lain hati, lain rasa. Tapi aku…. …. ….  Akhir dari tulisan ini, “Adakah orang yang lebih tulus dari orang yang diam-diam mencintaimu, yang mendoakanmu tiap malam diam-diam tanpa kau ketahui,”

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s