“Kecelakaan’’ Berujung di Tempo

foto pribadi

foto pribadi @NotedCupu

Ya, pemirsa di rumah dimanapun kalian berada, dan  yang masih setia mantengin #NotedCupu ini. Selama beberapa menit ke depan aku akan ngulik mengenai musabab kok sampai bisa mendarat di Tempo?. Apa yang menjadi sebab?. Ikuti saja alur noted ini.  Dalam beberapa menit ke depan, #NotedCupu ini akan menjadi jawaban dari berbagai kiriman E-mail dari pembaca, yang udah masuk. Iya, terimakasih atas tanggapanya.

Antusias sekali kelihatanya. Lalu, setelah email. #NotedCupu “Kecelakaan’’ Berujung di Tempo ini,  semoga bisa meredam segala pertanyaan yang udah di layangkan di akun twitter-ku. Lagi, terimakasih yang udah bertanya lewat mention twitter Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu.  

Gak nyangka banget, teman-teman stay-tune sama ini blogg. Meski pun hanya coretan orang bodoh ternyata ada sisi yang harus di ambil. Dan sisi itu, kini yang sedang aku kasih dalam tulisan ini. Apa itu?. Baca saja perjalanan #Noted ini secara lengkap. Perjalanan anak Cupu di rantauan, Surabaya.

Awal mula aku bisa magang di Tempo sebenarnya kecelakaan?. Kenapa aku bilang begitu dan seperti itu, iya kecelakaan saja!. Gak nyangka memang.

Cerita dari awal dulu…!!!

  Sudah hitungan tahun aku mengurusi rumah #NotedCupu ini. Dulu awal mula rumah #Notedcupu ini isi artikelnya hanya berisi artikel Copy Paste, tahu kan Copas?.

Ya, main comot gitu dari milis web lain. Tapi tetap, sumber aku cantumkan. Sebagai blogger harus menjunjung tinggi Hak Kekayaan Intelektual. Meski pun masa itu, blog ini hanya, comot sana-comot sini namun sudah banyak banget yang jadi pelanggan artikel blog ini. Kisarannya sudah mencapai ribuan. Tapi gak bangga, iya yakin gak bangga banget,  meskipun yang ngikutin blogg ini banyak, tapi apa gunanya kalau bukan hasil tulisan karya sendiri?. Berkarya saja-lah, suatu saat karyamu mendapat tempat.

  Bahkan aku lupa kapan tanggal lahir ini blogg. Dari blog tulisan-ku hijrah ke portal CITIZEN REPORTER  WARGA, di  Kompasiana. Ini akun saya di kompasiana: Kompasiana.com/boediinstitute. Di akun-ku kompasiana itu, artikel-ku mengisi beberapa kolom. Mulai dari artikel esay, liputan, opini, dll.  Sekitar  satu tahun yang lalu. Masih ingat, ketika kirim tulisan yang ke-3 kali waktu itu, artikel-ku langsung jadi Headline News.  

Tulisan itu, masuk dalam genre liputan, yang aku ulas mengenai sosok. Mengupas habis tentang perjalanan hidup seseorang anak rantauan yang terbilang cukup sukses di karrier  pendidikanya. Lumayan sedikit bangga juga, ketika semangat sudah menghujam kemudian artikel kiriman ke-3 itu yang menjadi Headline. Sungguh, sangat memacuku untuk giat lagi menulis. Sepertinya tulisan-ku sudah mendapat tempat.

Hingga pada suatu ketika perjalanan blogg ini. Hampir setiap hari aku rilis artikel #NotedCupu. Hingga pada suatu ketika juga, akhirnya setelah lebaran tahun kemarin berlalu, intensitas posting di blog ini gak menjadi rutin setiap hari. Perlahan menyusut. Iya memang menyusut, di lihat dari berbagai factor rutinitas-ku yang terbagi beberapa porsi..

Kadang satu minggu satu kali. Kadang lebih. Ketika harus menjadi mahasiswa tinggkat akhir, ketika harus berposisi sebagai mahasiswa, blogger, penulis skripsi, dll. Di situlah waktu harus di bagi sesuai porsinya. Pembagian waktu harus merata. Belajar multi-tasking juga sebenarnya kalau melakukan rutinitas satu,  di padu rutinitas yang lain. Masih harus di latih untuk soal yang ini, gak mudah dan gak gampang. Tapi sediaknya, ada niatan awal untuk memulai. Itu saja sudah cukup. HOPE MULTI-TASKING!

Pada suatu siang, di bawah pohon cemara di dekat masjid kampus. Temanku anak Himpunan Mahasiswa Manajemen Si Dewi, yang juga berperan sebagai Mahasiswa S1 Manajemen menegurku, “Masih aktif nulis?” tanyanya sembari menjegal jalan-ku.

“Iya masih,”

“Dimana?”

“Di Blogg sama di Kompasiana?” Lanjut-ku lagi, “Ya, Alhamdulilah sudah ada yang sampai tembus di Headlinews’’

“Wow…!” jawabnya kaget. “Iya-kah,” sambung Dewi lagi.

“Bukak aja nati blogg-ku, sama akun-ku di Kompasiana?”

Iya, siap!”

“Oke’’ jawab-ku berlalu meningal-kan pohon cemara untuk menuju kelas. Karena waktu itu, jam kuliah-ku akan segera berlonceng untuk masuk.

Beberapa tahun silam, sekitaran masih di semester awal-awal dulu. Aku suka ngetak artikel jenis apa-pun di FB. Lalu tag-tag-kan itu, aku tautkan ke FB-nya teman-teman di kampus. Termasuk akun FB-nya si Dewi. Seiring perjalanan di suatu hari, aku mencoba corat-coret, hanya tulisan-tulisan ringan yang aku tulis.

Lalu aku bagikan ke teman-teman lewat #Noted facebook. Dari situlah, aku mulai rajin menulis. Bahan aku suka untuk nulis. Dan kesukaan-ku buat menulis lebih suka dari pada makan cokelat. Pekerjaan yang di lakukan atas dasar suka karena hati, ngelakuinnya jadi enak. Jadi bisa nyaman. Dan pada seuatu hari tulisan-ku di FB banyak mendapat tanggapan dari-dari teman-teman sejawad. Plus—Minus kometar mereka banyak yang masuk. Itu tandanya, coretan-ku mulai mendapat-kan perhatian. Entah itu masukan negative, positif terimasajalah-lah, toh itu sumbangsih untuk lebih hebat.

Beberapa bulan yang lalu, ketika masa-masa OSPEK di kampus tiba dan hampir serentak di laku-kan di seluruh jajaran kampus se-Indonesia. Aku menjadi panitia Opsek, mewakili Himpunan-ku, karena pada saat itu aku masih berposisi sebagai ketua Himpunan. Si Dewi juga menjadi panitia OSPEK, mewakili Himpunan Mahasiswa Manajemen-nya. Pada suatu siang, di hari ke-3 Ospek, di kampus.

Di ruang Graha, aku melihat Si Dewi duduk di podium Graha sembari memegang Majalah Tempo. Di depan podium duduk manis ratusan—-bahkan hampir mencapai 1000 mahasiswa baru. Di depan mahasiswa baru itu, Dewi menjelaskan, kalau tulisan-nya sudah pernah di muat di Majalah Tempo, asyik sekali kelihatanya.

Dia nge-share pengalamannya ke mahasiswa yang baru se-usia jagung. Nge-share tentang soal makan garam. Wah, ikut ketularan asin nih.  Di belakang, di kerumunan panitia yang berjubel di bawah AC. Aku agak setengah kaget, “Waah.. Dewi Hebat juga, gak nyangka kalau tulisanya udah masuk di Majalah Tempo’’ ujar batinku terbesit dalam benak. Sebagai apresiasi yang dalam, aku pun memberikan up-plause  berupa tepuk tangan. Mata ngantuk-ku langsung hilang begitu saja, setelah di kagetkan kemunculan Dewi di Podium Graha, STIESIA Surabaya. Riuh sekali, suasananya. Riuhnya, nyanyian Nazarudin aja sepertinya kalah. Hehe.!

            Sebenarnya aku gak kaget tentang tulisanya Dewi yang sudah masuk di Majalah Tempo, ke-kagetan-ku pun juga, gak se-kaget hilangnya pesawat Adam Air yang hilang entah kemana. Sudah ku-duga sebelumnya, kalau Dewi bakal bisa nulis di majalah yang pernah di bredel dua kali itu. Memang sebelumnya, sekitar beberapa bulan yang lalu aku tahu, Si Dewi jadi Juara Satu Lomba Review Berita Di Forum Tempo. Musabab lomba review berita-itulah yang mengantarkan Dewi bisa menulis di Majalah Tempo. Dari juara nulis di forum Tempo itu, Dewi di kirim ke Jakarta. Mahasiswa jurusan manajemen ini mendapat kesempatan magang selama satu bulan disana. Asyik ya.

Setelah ceremonial OSPEK itu selesai, beberapa minggu kemudian, aku bertemu Dewi di depan Mebes HIMEN (Markas Besar Himpunan Mahasiswa Manajemen), kampus, STIESIA Surabaya.

Siang itu, perempuan pemakai hijab itu menawariku untuk magang di Tempo. “Kamu mau, magang di Tempo,” ujarnya

“Serius mbak,” jawab-ku gak yakin.

Iya bener, magang di Tempo,”

“Iya, mau banget. Terus aku harus bagaimana,”

“Kalau mau besok  pagi jam 09.00 WIB, aku anterin kamu ke kantor Biro Tempo Jawa Timur yang ada di Kertajaya,” ujarnya.

Aku-pun hanya senyum-senyum tak karuan, mendengar kabar yang sebelumnya tak ku duga itu. “Oke!, Besok aku siap…’’ jawab-ku singkat.

Lalu setelah itu, aku pun pergi bergegas untuk ke kampus sebelah, ke kampus tetangga karena sudah ada janji dengan teman. Oh, ya lupa bilang terimakasih. Sesampainya di bawah pohon cemara, aku pun lari menemui Dewi lagi yang masih di depan MABES HIMEN.

“Mbak….. Terimakasih yah,” tanyaku sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Iya sip-lah, semangat lo,”

“Pasti..!!!” Jawab-ku sambil berlari menuju parkiran kampus.

Ke-esokan harinya, aku sudah berdiri di kantor Biro Tempo Jawa Timur. Esok itu aku mengenakan pakaian dalam T-Shirt Tempo bertajuk “Kuliah Terbuka Wirasuaha Mandiri”. T-Shirt itu warna merah menyala, aku dapat sewaktu mengikuti seminar yang di adakan Tempo, di gedung Convention Hall, tepat di depan Soto Cak har itu. Dalam seminar itu di hadiri Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang juga mantan anak Tempo. Sengaja aku memakai T-Shirt Tempo, untuk lebih menjiawai seolah-olah aku sudah jadi reporter hebat di Tempo. Jadi bisa lebih percaya diri, dan gak kelihatan grogi untuk masuk ke kantornya.

 Di depan kantor itu ada neon-box, yang menggabarkan identitas kantor media Tempo. Kantor model minimalis itu cukup membuat detak jantungku kembang kempis. Ini-kah, awal mula aku akan belajar buat menulis. Sepertinya iya. Aku akan memaknai filossofi dari tagline “Enak di Baca dan Perlu’’.

Aku masih di depan kantor itu, masih menunggu Dewi. ‘Tempat’ ini-lah yang nanti akan mengajari-ku tentang bagaimana menulis yang enak di baca orang, dan perlu di baca orang. Duduk di atas motor, aku-pun masih terkagum-kagum setengah gak percaya. Setelah tak selang beberapa lama Dewi pun datang. Lalu dia mengajak-ku untuk masuk.

Di ruang tamu itu yang terjejer deretan kursi sofa warna setengah ke-abu-abuan. Aku duduk. Menanti kedatangan ketua redaksi biro Jawa Timur.

Udah lama tadi menungunya” tanya Dewi.

“Iya, lumayan sudah 30 menit,”

“Kamu berangkatnya ke pagian, terlalu semangat kali,”

“Iya seh mbak,”

Setelah obrolan singkat itu, lalu muncul seorang laki-laki berpakian agak formal-memakai batik, setengah berkumis. Dari situlah awal-mula aku berkenalan dengan ketua Redaksi Biro Jawa Timur, Mas Agus namnya.

Boedi kesibukanya apa?”

“Kuliah, ikut organiasi udah itu aja sih mas!”

Lalu laki-laki berkumis tipis itu menanyai-ku lagi, “Boedi suka nulis?”

“Iya mas, suka banget’’

“Aktif di pers kampus?’

“Ndak mas,”

“Cuman sejak semester 2 dulu udah latihan nulis gitu, di blogg. Sampai sekarang pun Aktif juga ikut di Citizen Journalis warga di Kompasiana,” jawab-ku panjang.

Alamat Bloggnya apa, nanti coba saya baca tulisanmu?”

“Ketik aja di Google pakai keyword “Boediinstitute” mas?”

“Oke, nanti saya cek,”

Lalu setelahnya, diruangan kantor bergenre minimalis itu aku ngobrol panjang lebar, dengan Mas Agus.

 Hingga pada suatu ketika, di suatu hari, Mas Agus mengintruksikan aku kirim surat lamaran magang jadi reporter di Tempo beserta CV-nya (Curicilum Vite). Dan ujung dari surat lamaran beserta VC itu, beserta proses yang aku lalui, surat magang-pun keluar dengan nama “Budi Santoso”!. Sekian minggu aku-pun mengharap-kan sepucuk surat ini. Surat penugasan magang menjadi Reporter Tempo. Bahkan, setiap aku melakukan peliputan, aku rajin memakai T-Shirt Tempo warna merah yang aku kenakan ketika masuk pertama kali di kantor biro itu. Sampai sekarang-pun masih. Dan itu aku anggap sebagai “jimat” untuk bisa percaya diri ketika terjun ke lapangan.

Sekian #NotedCupu ini, aku dedikasikan buat yang udah tanya via-email dan twitter, terutama buat Monalisa di Bandung.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s