Sepucuk Surat Untuk “Desember”

@NotedCupu

@NotedCupu

Terimakasih yang sudah pernah hadir namun tak pernah singgah. Sekitar tiga pekan yang lalu, waktu jam kuliah meringsek naik segera masuk. Aku masih berdiri di samping pintu kelas. Iya, memang siang itu Dosen belum datang. Aku masih berdiri, lalu aku menghampiri tepian bangunan beton puncak lantai 3 kampus. Dari ketinggian itu aku hanya ingin melihat pemandangan kota yang sudah pernah  aku jajaki selama dua tahun ini. Sebelumnya, dari tempat yang sama ini, kebetulan sekali, tempo hari itu aku melihatmu duduk-duduk di bawah pohon cemara. Masih tampak seperti biasanya, senyum-mu masih amat astaga. Masih tampak cantik di antara tak karuannya “waktu” yang nyaris hilang.

 Baru saja aku buka BBM-mu yang kamu kirim tadi malam.

Sombongmu,” itu bbm-mu barusan aku baca, singkat, bbm itu sebenarnya buntut menanggapi timeline twitter-ku: “kenyataan kadang pahit, jadi jangan di jilat-jilat. langsung telan aja. urusan muntah belakangan.#sukmo”.

Memang malam itu sengaja gak aku balas. Malam itu memang aku pengen menyendiri. Menikmati hari-hari seperti biasanya. Bukan aku ndak mau bales bbm-mu, twittermu. Tapi lebih ke hal lain. Hal yang ingin membatasi jarak personal-ku dengan apa yang aku pikir-kan. Dan yang aku pikir-kan adalah, dimana masa itu aku pernah mencuri fotomu. Pencuri foto. Namun, buntut dari rentetan panjang  itu salah satu Tokoh Pewayangan Semar menuding-ku, sebagai laki-laki yang terlalu menerobos lampu merah.  “Kenapa harus ada kaca mata, karena cinta tak pernah buta,” ujar Semar.

Siang itu di tepian puncak lantai tiga, “Perasaan aku jarang ketemu kamu, nyapa aja nyaris ndak pernah. Kok sombong?. Terserah kamu sajalah,’’ sautku dalam balasan bbm.

Hari itu jadwal ku dengan perempuan yang ada dalam bbm itu memang sama. Aku kira kelas kuliah-mu juga belum masuk.

“Ya kamu jarang bbm, twiiter gak di bales, ya sudah aku minta maaf kalau aku punya salah,” itu tanggapan bbmnya. Benar juga, jam kuliahnya belum masuk.

Gak perlu minta maaf, gak ada yang salah juga. Meskipun aku jarang bbb kamu bukan berarti aku sombong. Diam-diam aku juga nyapa kamu tapi dalam hati ,’’ jawab-ku dalam bbm itu.

Hanya tampak emotion gambar bbm mungil jawabnya,  “ 😦 ,’’ gamar sedih yang di kirim. Lalu pesan bbm siang itu berakhir. Aku pun tak membalasnya. Berlalu.

Beberapa hari itu, masih  agak setengah siang juga. Di kampus, di bawah pohon cemara, dimana disitu emak-emak menjual jajanan gorengan, kamu beli untuk sekedar mengisi perutmu yang kosong. Aku juga tak membawakan makanan  kesukaanmu, cokelat. Cokelat kacang mede. Kelihatannya memang kamu sengaja jarang makan lantaran  masih program diet.

Siang itu aku menemui perempuan itu, menemui untuk sekedar aku titipi penjilitan proyek musiman dari DIKTI,  proyek “Karya Ilmiah”. Siang itu juga, sepatu pantofel celana-jens atasan kemeja batik lekat aku kenakan. Dan baju batik itu baru, hasil dari karya terampil jahitan Budhe-ku. Tanpa sengaja perempuan itu, mengambil gunting dari emak-emak penjual gorengan yang bercengkrama di bawah pohon Cemara. Lalu, perempuan itu menggunting benang yang masih menghubung-kan antara sekat-sekat kain yang belum bersih dari serabutan jahitan. Tepat di samping pinggangang berbentuk hutuf Y permepuan itu memotong benang itu.

            “Batik baru ya!, bentar ini lho ada jahitanya belum kepotong benangnya,”? ujarnya, ramah, sambil meledek.

 “Oh iya, makasih. Teliti juga kamu,’’

            Kini sudah dalam hitungn bulan, aku ndak ketemu perempuan itu. Aku pun juga tak mengubunginya, begitu juga dengan dia sebaliknya. BBM- terakhir hari selasa, yang entah kapan tanggalnya aku juga sudah lupa. Hari selasa yang bersamaan dengan kelas yang akan di sisi oleh Dosen yang baru pulang Dari Bangkok, Thailand. Aku melihat terakhir juga sewaktu perempuan itu menggunting batik-ku yang masih begelantungan dengan benang jahitan. Konon, apakah gutingan yang memutuskan benang jahitan itu, yang di tengarai sebagai mitos. Mitos kalau… A…B…atau C. Ah, aku ndak percaya dengan hal-hal yang begituan.

            Setelah sekian lama. Dan aku asyik  sebagai pemburu warta. Entah karena, orang-orang terdekat-mu mengabari-ku. Kalau perempuan itu sekarang menjadi ketua. Ketua sebuah himpunan mahasiswa manajemen, di kota ini. Aku pun juga tak memberikan ucapan selamat secara langsung, tapi dalam hati ucapan itu terus mengalir tiada henti. Pengembangan yang hebat. Memang dulu, perempuan itu bilang, tentang keinginanya menjadi ketua. Dan sekarang memang sudah tercapai.

Masih ingat, perempuan itu kagum dengan salah satu sosok pemimpin muda dunia, yang sekaligus menjadi wali kota termuda. Itu di sampaikan semasa chat-bbm masih aktif dulu. Dan kini sudah menjadi arsif. Pada akhirnya, arsif itu aku gunakan dalam tulisan ini. Perempuan itu seolah-olah ingin seperti wali kota Allar, wali kota termuda di dunia, di Tepi barat Palestina.

Di warung pangsit-mie, di sebelah kampus. Baru-baru ini salah satu teman dekat dari perempuan itu, Ira menyebut-kan, kalau beberapa waktu lalu, dia habis jalan dengan perempuan yang aku makusd dalam #NotedCupu ini,  di sebuah mall.

“Waktu kamu kemarin sore sms itu, aku lagi jalan sama dia,”

“Terus,” tanyaku

“Iya,, kamu tetep pegang omongan-ku yang dulu itu. Gak usah harepin dia”

“Jelasnya gimana,” tanyaku lagi sambil makan pangsit-mie.

“Kemarin pas aku jalan sama dia, ternyata selama ini dia gak single, dia udah punya cowok,”

“Serius Ra’’  ,

“Iya, serius. Pas di mall kemarin, dia ketemua sama cowoknya. Dan kamu tahu, dia ketemuan sama dua cowok,”

“Berti cowoknya dua, gak percaya,”?? sautku kaget. Lalu aku menaruh sendok di atas mangkok yang masih berisi mie.

“Katanya, dia pengen memberi pelajaran sama itu cowok berdua,” ujarnya dengan jelas.

“Tapi cowok dua itu cowoknya bukan,”?

“Dia jawab, ia!” jawab Ira.

“Bukanya yang dulu-dulu itu, dia bilang ke kamu, dan juga bilang ke-aku kalau gak pengen punya pacar dulu. Pengen nikmati apa yang di jalani sekarang,”

“Ia, aneh juga sih,”

“Iya aneh gitu lho. Misterius juga, aku kemarin sudah pernah bilang ke kamu waktu di halte taman kampus, aku siap dengan resikonya apa pun itu, Ra,”?

“Udah-udah ngebahas yang lain aja, ntar galau kamu,”

“Iya deh, tapi gini Ra, Tuhan itu maha asyik ya, tuhan kirimkan wakilnya buat perempuan itu, dan wakil itu mungkin bisa kasih apa yang gak bisa aku kasih. Lalu, di lain sisi, di suatu malam ketika aku terlelap tidur, tuhan kirim mimpi, tuhan memang maha asyik, tuhan kasih mimpi satu paket dengan perempuan itu. Perempuan itu hadir  di mimpi-ku,” jawab-ku setengak bijaksana.

 Dan setelah selesai obrolan di warung pangsit-mie, celoteh mahasiswa di sudut-sudut warung mengghiasi senyuman penjual itu. Senyumnya plesir ketika aku mengeluarkan selembar rupiah, dari dompet yang usang. Berapa buk,”?. Ketika pangsit mie dan segelas es teh bersekutu dalam perut, bahagia itu sederhana. Sugguh sederhana.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s