Tersesat Dalam Sebuah Departement Store

 

Mental Diskonan

Mental Diskonan

Minggu kemarin, rumah sewaan gue kedatangan tamu banyak banget lo. Tamu itu berasal dari negeri nun jauh disana, datang ke Surabaya berduyun-duyun dalam satu rombongan sebuah mobil.  Tentu, bukan tamu rombongan haji. Tamu itu juga, membawa oleh-oleh banyak banget. Yup… Semacam buah tangan gitu. Gue dapet sumbangan beras se-karung, kripik sale satu kardus, terus ikan tongkol satu container dan masih banyak lagi pokoknya. Syukur deh, gue dapet sumbangan logistik banyak banget. Kulkas penuh. Bisa ngirit untuk beberapa hari ke depan. Hayo tebak, siapa tamu tersebut?.  

Yang bener nebak. Gue kasih kripik sale satu biji.

Oke… Gue perjelas lagi, dalam rombongan satu mobil tersebut, isinya lengkap. Mulai dari sepasang manula, dengan gigi yang tinggal dua biji, alias ompong. Dalam rombongan tamu tersebut, juga ada dua anak kecil. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.  Dan yang terakhir, sepasang sejoli, yang laki-laki sudah kumisan dan yang cewek memakai daster.

Mereka adalah….  Keluarga gue. Yang kumisan dan berdaster, Enyak–babe gue, dan anak kecil dua tersebut, adik-adik gue si Sandra (adik nomer 4) dan si Tunjung (adik nomer 6). Untuk yang manula tadi, yang jelas nenek gue. Tapi statusnya masih nenek angkat… dan belum di angkat  jadi nenek tetap. Kenapa nenek angkat, ntar deh lain kali gue cerita. Soalnya, panjang banget ceritanya.

Keluarga gue kalo ke Surabaya, pasti rame-rame gitu. Maklum, pasukannya banyak. Anaknya ortu gue tujuh bersaudara lo, apa lagi enyak–babe  waktu itu gagal ikut program KB, jadi brojol terus sampai genap tujuh anak. Hebat kan?. Kebetulan, kali ini kakak pertama, Si Mr. Jumani (dibaca: Nama Sebenarnya) melahirkan anak pertamanya — setelah satu tahun pernikahanya. Itulah alasan kenapa enyak sama babe kesini, mereka berdua mau ngelihat cucu pertamanya. Selamat ya, Ma Pa, sekarang sudah punya Cucu. Untungnya Cucunya bagus lo, nggak kayak bapaknya yang hobi cengengesan dan suka garuk-garuk bokong. Semenjak, kelahiranya lima hari yang lalu, sampai saat ini belum di kasih nama lo bayinya.  

Akhinrya, gue, Sandra dan Tunjung, sepakat ramai-ramai memberi nama: Jumani Junior. Nama yang bagus, dari pada nama bapaknya sendiri. Jadi kita-kita kalo manggil, tinggal di singkar JJ (Jumani Junior) gitu. Yah….semoga nanti kalo JJ sudah besar, nggak balas dendam sama kita-kita. Ampun ya JJ, kalo nanti kamu sudah besar dan sudah bisa ngebaca, gue kasih tahu ya… yang manggil kamu JJ itu, idenya Sandra lo.

*Kabur naik angkot*

Kalo enyak–babe datang ke Surabaya, tujuannya mau jenguk cucu pertamanya. Lain lagi kalo si Sandra sama Tunjung. Alasan ke dua bocah ini, datang ke Surabaya mau liburan lo. Namanya juga bocah, cukup di maklumi saja. Soalnya, di kampong halaman gue, kalo mau liburan adanya pantai melulu. Mungkin bosen, kali ya. Disana Mall belum ada, mau di bangun sih, tapi nunggu gue punya duwit dulu.

Malam minggu kemarin, gue ajakin Sandra dan Tunjung, keliling Mall. Gue ajakin mereka berdua ke Plaza Surabaya, kalo nggak salah anak-anak gaul Surabaya, sering menyebutnya dengan Delta plaza. Gue berangkat sore-sore dari rumah, kebetulan Delta Plaza jaraknya deket banget dari rumah, makanya gue kesana naik motor satu di naiki tiga orang. Dan akhrinya, gue kena perangkap cabe-cabean. Sialan. Karna yang tahu jalan Cuma gue, dengan rasa iklhas gue menawarkan diri sebagai sopir. Untungnya kemarin juga, nggak ada polisi lalu lintas, jadi kita aman deh ngga ketilang. Tapi agak sial juga sih kemarin, baru sampai tengah jalan saja, hujan dateng. Kasihan aja sama Sandra, bedaknya yang setebel aspal luntur deh.

          Penampakan terindah yang di perlihatkan Sandra dan tunjung ketika sudah sampai di Mall. Mereka berdua pada kebingungan mau kemana. Ini pengalaman pertama kali, adik-adik gue masuk Plaza Surabaya, biasanya mereka kalo di rumah kan suka masuk pasar, jadi kuli panggul.

Hal pertama, yang di Ucapkan Tunjung ketika melewati pintu masuk, “Bang…. Kok pintunya jalan sendiri ya?” tanya’nya sambil, menarik-narik celana gue.

“Ehm… Tanya, Pak Satpam aja deh, Jung… Pasti ntar di jawab, sekalian lo di getok sama pentunganya!’ jawab, gue ngeloyor menaiki escalator.

Tak ketinggalan, Sandra pun turut ambil bagian dengan bibirnya yang monyong, “Huhhhh…. Itu namanya pintu otomatis, Tunjung,” sautnya, lalu tanganya mentoyor-toyor jidatnya Tunjung.

Sebelum terjadi pertikaian lebih jauh di antara mereka, gue pun mengajak mereka untuk belanja, “KE MATAHARI YUK, BELI KAOS?” teriak gue, dari atas escalator.

Medengar nama KAOS dan MATARAHARI ke dua adik gue, lari menyusul menaiki es-kalator. Dan akhirnya, mereka berdua pun kembali berada dalam radius jangkauan gue. Gue cerita, kepada mereka berdua, Felling gue, pasti bulan ini lagi banyak diskonan. Soalnya, habis awal tahun, duit orang lagi bokek-bokeknya karna ngerayain tahun baru kemarin. Tempat belanja’an bakalan sepi penggunjung, jadi, diskon adalah strategi mujarap, untuk mendatangkan pembeli.

Begitu sampai, dalam di sebuah Matahari, Sandra menjawab analisa gue, “Pinter juga lo bang, kok sepi gini ya?”

“Wah diskonan banyak nih, bang-bang beliin gue celana dalem ya?” Saut, Tunjung.

Benar sekali, bandrolan tulisan SALE dengan angka 20% dan berbagai macam pernik, papan nama bertuliskan “BELI DUA GRATIS SATU”  terhampar dimana-mana. Pemandangan ini telah membuktikan kalo  sedang terjadi musim diskon. Dan yang paling bikin gue beken, gue kelihatan pintar di antara mereka, Tunjung dan Sandra. *kibas-kibas Poni*.

Di samping gantungan baju yang di diskon, gue dengan gagah berani dan menjawab dengan enteng pertanyaan mereka berdua. “Iya, kan dari dulu, abang Pinter, Dra!. Jung-jung, ‘’ Gue, berhenti sejenak, lalu menlajutkan “Abang bokek, pakek bekas celana dalam abang aja ya?’’ jawab gue, sambil memegang kelapanya tunjung.

‘Iya…! Bang Nurut!” jawabnya, kemudian Tunjung mengacungkan jari jempolnya. “SIP…!”

 Atas peristiwa dalam sebuah departemen store ini, gue menemukan fakta baru seputar cewek. Adik, gue si Sandra yang sekarang kelas 2 SMA, begitu melihat diskon dimana-mana, dia telah menggilang di balik kerumunan baju gantungan.

Sialan, gue sama Tunjung di Tinggal.

Sabagai, kakak yang di takdirkan utuk melindungi adik-adiknya, gue merasa gagal mejadi seorang kakak yang nggak bisa menjaga mereka dari godaan diskon yang terkutuk. Tanpa menunggu lama-lama, gue dengan Tunjung pun mencari keberadaan Si Sandra. Gue menyusuri jalanan sempit, yang di apit oleh banyaknya gantungan baju. Gue mondar-mandir kesana-kemari. Dari ujung, satu ke ujung lain. Dari kamat pas yang satu, ke kamar pas yang lain.

Oke…. Fine, nyerah gue.

Dan cukup ngeselin banget, begitu di cari malah nggak ketemu. Pas gue sama Tunjung sudah capek muter-muter, kaki sudah gempor, dan sedang enak-enakan nongkrok di atas kasir. Tiba-tiba si Sandra, menyembul di balik, kerumunan baju-baju yang tertata di sebuah display.

Yah…… Jangkrik kan!.

“Bang tadi kemana sih sama Tunjung, aku di tinggal sendirian?’ tanyanya, sambil ngebawa sepotong baju, berwarna kuning muda. “Gimana baju ini bang, bagus nnggak?”

“Gimana Jung, menurutmu?” gue justru melemparkan pertanyaan ke  Tunjung.

          Tunjung, melemparkan arah penglihatannya, ke baju yang ada di genggaman Sandra. Layaknya seorang, tukang jahit yang handal, Tunjung melihat dari ujung kancing baju terbawah sampai kancing, baju teratas. Memastikan, kalo baju yang di beli Sandra, dalam ke adaan sempurna. Dia masih mengamati secara seksama. Dan akhirnya…..

          “KEREN ABIS BANG, KANCING BAJUNYA LENGKAP!’ komentarnya

Status gue sebagai kakak ke-3, sekaligus sebagai orang yang bertanggung jawab atas kelakuan mereka di area departemen store telah mencoreng wibawa gue. Si Tunjung yang hobby nyablak, telah membuat suasana di depan kasir menadak…  KOR….  Mba-mbak kasir itu ikutan ketawa, sampai kepingkel-pingkel.

“Dra… Udah sana buruan, ke kasir’’ suruh gue.

“Beres, bang, dapet diskon 20% ini nanti, Asyikkkk!

“Iya… Iyaa…’ husssss-husss”Sana-sana!”

Beberapa menit berikutnya…. Mbak-mbak kasir yang memakai seragam berwarna merah sedang menjalankan tugasnya… Begitu mesin finger scan barkode berderit-derit…  Mbak-Mbak kasir itu, bilang:

‘Ini mereknya, Nevada ya Mbak, harganya Rp. 135 ribu, untuk yang item ini belum ada diskonnya,’’ jelasnya.

Mendengar kata TIDAK ADA DISKON, Sandra pun sontak langsung melihat gue. Mukanya tiba-tiba berubah menjadi sepet. Matanya pun berkedi-kedip merem-melek.  

Gue pun hanya bisa bilang, “Sudah, nggak pa-pa, cepet bayar!!

“JANGAN NGUTANG LO” saut Tunjung, yang lagi-lagi nyablak gitu aja.

Tidak lama setelah itu, kami bertiga bergegas meninggalkan area kasir lalu berjalan keluar.

“Uang kamu, sisa berapa Dra?”

“Bokek bang!”

“Aku nggak bokek bang!’ Saut tunjung, lagi-lagi nggak penting.

“Kita nggak jadi di traktir dong, Dra?”

 “Tungu dulu, tunggu dulu….. iya emang dompetku yang ini isinya bokek bang. Tapi di saku celana belakang, gue nggak bokek lo, hehehhe. Lagian, sekali-kali nggak pa-pa kan, beli baju mahal dari pada uangnya buat jajan, yang ujung-ujungnya nggak ada bekasnya. Kalo jajan kan bekasnya nyemplung di WC. Kalo di beliin baju, gini bekasnya kan ada bang, bisa kelihatan. Kelihatan tambah keren kan kalo di pakek!’

Gue berfikir sebentar.

“Abang setuju, emang gitu sih, kamu tidak slelau bisa mendapatkan apa yang kamu mau, kayak diskonan tadi, tapi jika kita ngga ke matahari kamu juga nggak bakalan dapet apa yang kamu butuh! Tos…. Dulu dong…!

“Siappp, kakak ke-tiga! Jawab, Sandra.

Lalu kita berjelajah keliling Mall Plaza Surabaya, dan terakhir mendarat restoran cepat saji.

DUO GEMBEL: DARI KIRI TUNJUNG (SEDAG SAKIT GIGI). PALING KANAN, SANDRA (SI BEDAK TEBEL)

DUO GEMBEL: DARI KIRI TUNJUNG (SEDAG SAKIT GIGI). PALING KANAN, SANDRA (SI BEDAK TEBEL)

 

***********

SEKIAN DULU #NOTEDCUPU EDISI MINGGU INI. KALI INI EDISINYA SANTAI-SANTAI DULU YA, LAPORAN UTAMANYA. KALO TEMAN-TEMAN PUNYA PENGALAMAN SERU SAAT BERBURU DISKON BISA DI SHARE DI #NGECUPRUS KOK.
KALO MAU NGOBROL SAMA GUE, LANGSUNG AJA, GUE ADA DI MEDIA SOSIAL DI BAWAH INI….!

Twitter: Boedi.S. Totoraharjo ‏@NotedCupu

Facebook: Budi Santoso Totoraharjo

Iklan

2 respons untuk ‘Tersesat Dalam Sebuah Departement Store

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s