Muntu Melawan Dominasi Modern

Kupluk Blangkon Oe!

Kupluk Blangkon Oe!

Melakoni hidup di tengah-tengah arus modernisasi memang ndak mudah. Sebatas mengikuti tren, pasti dikira mengikuti budaya ala barat. Kalo ndak mengikuti, malah kena cap, orang jadul.

Apa lagi bagi, gue ini, bocah kampung asale soko kota kripek Tempe, Trenggalek. Dengan memiliki latar belakang tempat tinggal, di pinggir pegunungan pantai selatan, mudah terjerat sebutan “Cah Deso”. “Gundolmu cepot kui, Suu”. Batin, gue, jika ada orang yang bilang begitu. Di saat, banyak orang menghabiskan week and dengan pergi ke mall. Lha, gue, malah melipir, ngacir ke pegunungan yang dekat dengan Surabaya.

Bagi seorang pemuja pemandangan alam, seperti gue ini. Malang menjadi tempat rujukan yang pas untuk berdestinasi wisata lokal. Disanalah tempat paling asyik untuk memicingkan mata, memandang sejauh alam terbentang, lalu menangkap rimbunan warna hijau di kaki perbukitan. Segar.

Ketika hutan kota di penuhi gedung pencakar langit. Ada kecenderungan, semakin banyak pula manusia metropolitan penyembah pohon. Hukum timbal balik akan terjadi, lalu apa yang terjadi?. Penikmat udara segar, akan banyak memakan korban masyarakat perkotaan.

Berada di tengah-tengah pusaran dominasi kaum mondern ala Surabaya, memang ndak pas dengan budaya tanah leluhur, Jawa. Di saat cuaca sedang terik, dominasi orang mondern melakukan ritual : ramai-ramai bersimpuh, lalu sujud di bawah lindungan AC yang terkutuk.

Lha gue, melipir dengan apa adanya, lalu melakukan lawatan,  bersemendi di bawah pohon yang rindang. Jika di tambah seperangkat : asap dupa, dan melakukan aksi bakar kemenyan, mungkin gue di kira pawang hantu. Atau hal ekstrimnya, di kira cari wangsit nomer togel.
Bersemedi di bawah Pohon Beringinnnnnnnnnn

Bersemedi di bawah Pohon Beringinnnnnnnnnn

Bagi mahasiswa imigrand : yang papa secara ekonomi, mendiami kamar kos berpetak, berdinding cat putih yang agak kusam, akan pikir-pikir dua kali. Kemewahan akan tergambar jelas dari perilaku konsumtifnya. Dan yang terjadi :  Kemewahan menjadi rujukan utama ketika berkelana di belantara kota.

Kontras dengan laku gue sehari-hari. Sebagai penerus, garis keturuan suku Jawa asli. Gue masih memegang teguh peranan tradisi adat Jawa, seperti memakai Blangkon…. dan ngunyah kemenyan. Di era masyarakat yang berlagak metropolitan, tradisi leluhur perlahan luntur, di gilas arus modernisasi.

Ketika isi perut masyarakat kota di dominasi oleh makanan cepat saji seperti Pizza. Justru gue geleng-geleng, keheranan lalu bilang “Opo enake, panganan ngono kui, cah?.” lantas, teman kantor gue waktu itu dengan tangkas menjawab, “Cocoke mangan getok telo kowe ki, Cup”.

Bukan kok gue kemenyek sok anti Amrik. Dan sok anti junk food. Tapi sungguh, sungguh (sambil ngelus-ngelus dada), gue lebih bisa menikmati makanan asli pribumi. Kalo sudah menemukan nikmatnya dimana, efek candu akan mudah menjerat.

Sewaktu kalangan berjas necis gemar mengunjungi resto dengan segala pernik-pernik makanan olahan yang mentereng. Gue, sebagai representasi rakyat biasa lebih demen makanan pro kaki lima. Di saat makanan berlumur caos nan keju, dan rasa ini-itu menjadi satu. Tumpuk undung. Gue lebih condong, menggilas makanan yang berbau sambel ulekan asli dari muntu dan layah.
Sambel ulekan Muntu

Sambel ulekan Muntu

Dua jenis alat ini, emang jadul pol. Ketika arus mondernisasi menggerus sambel dengan mesin blender, tapi masih ada orang yang bertahan dengan memberdayakan alat tradisional ini. Istimewa!.

Keampuhan dua alat ini mampu meliuk-liukan lidah sampai terpeleset, hingga mengucurkan air liur pertanda kelaparan. Proses penggilesan, sambel tomat, berpadu dengan cabe rawit membuat rasanya, betul-betul masih organik. Hasil adonan sambel di layah, dengan bantuan muntu di tangan kanan, cukup untuk membuat pengunjung sepakat berkata “Mak, nyussss… lo, Mbok!”.

Nyatanya, meski pun era modern telah tiba. Ndak sepenuhnya bisa menggusur benda-benda jadul. Misal,  di kampung halaman gue, masih banyak dapur mengepul dari asap pembakaran tungku kayu, bukan dari gas. Toh menanak nasi di panci, dengan semburan api dari kayu. Bisa menghasilkan nasi pulen. Rasanya bisa lebih nikmat, dari pada menanak menggunakan gas. Sekaligus, keselamatan lebih terjamin. Nggak ada to, kasus kayu beledak?.

Sama halnya membakar sate menggunakan arang, hasilnya jauh lebih menusuk lidah ketimbang pembakaran dari mesin pemanasan, seperti gas.

Kecanggihan zaman monderat ndak bisa mendominasi kodrat yang telah di gariskan. Tangan telah di kodratkan untuk saling bersentuhan, lalu meraba. Sebagaimana muntu di gariskan untuk perpasangan dengan layah, lalu di kawinkan dengan tangan.

Dan, ndilalah. Warung Barokah yang terletak di sudut pasar Keputih, Surabaya ini masih memegang teguh tradisi ala Jawa ini. Warung kaki lima ini, sering menjadi rujukan ketika gue kangen dengan masakan olahan ala kampung halaman. Si ibu, pemilik warung ini, dengan lihai meng-ngulek sambel. Ketika tangan kanannya, menggerus  cabe rawit, tangan kirinya sibuk menambahkan rempah-rempah ke layah, seperti jeruk purut, tomat,  dan gula jawa.

Begitu, ulekaan muntunnya mengitari layah beberapa kali. Baunya menyeruak, mak breeng, langsung menyengat hidung. Ohh… ini yang membuat rasa sambelnya enak. Perkawinan antara rempah-rempah segar yang di tuangkan ke layah dan muntu jadul telah melahirkan cita rasa kelas bintang lima.
Warung Barokah

Warung Barokah, PASAR KEPUTIH-SURABAYA

Sewaktu pertama makan di tempat ini ; gue kira rasanya biasa saja, sama seperti warung sambel pada umumnya. Pembedanya ndak ada. Tapi setelah gue melihat proses pembuatan sambelnya, dan ketika porsi makanan telah bersanding di depan mata, kemudian bagian ujung lidah mencicipinya. Ediyannnn. Gue baru nggeh, alias paham. “Iso di jadikan warung langganan tenan iki’!. Batin gue.
Penampakan Lapak Warung Barokah. Keputih.

Penampakan Lapak Warung Barokah. Keputih.

Sebagai praktisi yang mendorong #NotedDemo Pro UMKM. Seminggu sekali gue mampir ke warung ini. Toh reputasinya untuk menghidangkan sambel yang lezat, sudah ndak bisa di ragukan lagi. Waktu makan disana, gue rutin memesan  sepering nasi dengan lauk : Lele, telur, sama tempe sepotong. Minum?. Cumae s teh doang. Begitu, mau ngebayar….

“Piro, buk?” tanyaaa gue.
“Cukup, sembilan ribu lima ratus, Mas!’.

Wah, ediyan murah tenan. Cocok untuk kalangan rakyat pribumi. Mungkin, para anggota koalisi Prabowo CS (KMP) di senayan, perlu mampir ke warung ini, untuk menyalurkan libido rakusnya… Lebih baik rakus makanan ketimbang rakus kekuasaan. Iya, toh?.
POSTER LAPAK #NOTEDDEMO

POSTER LAPAK #NOTEDDEMO

Iklan

3 respons untuk ‘Muntu Melawan Dominasi Modern

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s