Cinta Penuh Syarat Dan Ketentuan

@cupunoted

@cupunoted

Nikah muda. Setelah berakhirnya tayangan drama sinetron Pernikahan Dini, banyak kalangan anak muda, merasa terilhami untuk segera membentuk biduk rumah tangga, walau pun, secara kasat mata, usianya masih setara dengan kambel  cengker. Ini terjadi di sekitar area  gue sendiri. Ada temen gue, se-angakatan kuliah, yang masih semester dua, tiba-tiba dia ngoloyor ambil cuti, di ajakin nikah sama pacarnya. Gue pun, tidak pernah selayaknya beperan sebagai wartawaan inpotement, memburu motif-nya nikah buru-buru, sebelum menamatkan proses belajar-nya yang sedang berjalan. Sampean ngebet kawin-nya apa nikahnya sih. Hingga akhirnya, undangan itu pun di sebar, setelah gue robek undangan tadi, lokasi nikahnya berada di dalam gedung kelas elit, Convention Hall, sebagai kolega kawan seperjuangan, gue pun menyempatkan untuk…, tidak hadir.

Bukan tanpa sebab, gue sungguh waspada, ndak mau saja pas salaman sama pihak mempelai, gue di brondong dengan pertanyaan. “Kapan, nikah?. Kapan nyusul?.”  Jelas pertayaan itu tidak berperi kemanusian, dan sungguh keji, untuk sesosok laki-laki ganteng, bermuka iba seperti gue, yang baru saja di tinggal pacarnya (baca: kini mantan), lari dengan laki-laki brengsek lain. Belakangan gue denger kabar, dari sumber terdekatnya, ia buru-buru nikah lantaran, dari pihak sang suami, ingin memfungsikan gaman-nya tidak hanya sekedar buang air kecil.

Toh, kalo sudah cukup mapan, gue pun sangat mensuport.  Sepekan setelah pernikahanya, temen gue tadi, di boyong ke luar pulau Jawa, di tanah Sumatera seberang sana, menginap di tepian pantai laut lepas, bukan kok mau bulan madu loh, tapi bukain pintu sang suami setelah lelah seharian bekerja ngebor minyak di perut bumi. (kalo ketemu mantan saya, mohon sampaikan: dek hatiku remuk kayak di bor, rasane kok tinggal pergi).

Mungkin saja, temen gue tadi tergiur, dengan kemapanan sama pacarnya, meski pun, ketika menyambutnya sewaktu pulang kerja, ndak membawakan tas ransel kecil layaknya para pakerja kantoran, tapi malah membawakan helm full savety model cibok. Di zaman yang serba banyak tuntutan seperti sekarang ini, wajah jelek sering mendapat ampunan lagi di maaf-kan, oleh kaum ‘hawa’, apa bila pekerjaan sang ‘adam’ sudah cukup mapan. Ke depan, biaya hidup ndak usah pusing ngurusin kebutuhan bedak, odol, shampoo dan ketumbar. Gajinya cukup cemepak untuk mencukupi segala pengeluaran yang dikit-dikit ngeluarin duwit.

Mungkin para tetangga di sekitar rumahnya, bakalan ngomentarin dengan bilang seperti ini.

“Kamu pintar calon suami, ndok!”

Di tempat terpisah, teman gue se-angkatan semasa SMP, yang sekarang menetap di negeri Kincir Angin — pesisir pantai selatan — Trenggalek-Panggul, juga mengalami nasip yang serupa, tapi beda garis takdir, dan kenyamanan. Biar enak, kita panggil saja pakek nama  (samaran) Maemunah, atau Mae. Hem…., Maemunah ini kisahnya cukup miris. Betapa tidak, sewaktu kuliah di Kediri, dia memang menjalani pacaran layaknya mahasiswi pada umumnya. Mungkin lantaran jauh dari pantauan orang tua, salah pergaulan, dan ndak bisa jaga diri, hubungan pacaran-nya mereka sampai ke tahap ‘colak-colek’– dulat-dulit’ hingga pada suatu ketika, Maemunah hamil di luar nikah. Gaya pacaran mereka yang cukup keblalasan, akhirnya mereka di nikahkan setelah usia kandungan Maemunah genap enam bulan.

Betapa menyesal betul, bapak dan ibunya, dengan segenap perjuangan, memeras keringat demi kebutuhan biaya Maemunah di kota sana, hingga mengirim kan anak bungsunya tadi dari mulai sekolah SMA hingga kuliah ke luar kota, tahu-tahu pulang dalam ke adaaan perut terisi janin yang telah bernyawa.  Jelas  masalah ini sangat pelik dan memukul mental keluarganya. Apa lagi, di kampung halaman sana, desas-desus masyarakat masih sangat kental. Resiko  mendapat sanksi sosial pun harus di terima, berupa ganjaran  menjadi bahan pergunjingan, “He, anake Pak Paijo kae meteng jebule, padahal isek kuliah, lha kok wes wani karo wong lanang”. Suara-suara miring seperti ini, yang bikin panas dan terasa nyeri di ulu hati.Entahlah, sejak kapan masyarakat agraris doyan nyocot dan bergosip. Belum di ketahui secara pasti, sampai sekarang, sejarah nyocot itu berawal dari mana.

Yang lebih miris lagi, kini keluarga Maemunah (maaf) berantakan. Sang laki-laki yang ‘menggauli’ Maemunah, pergi begitu saja, setelah anak kandungnya berusia satu bulan. Laki-laki itu pergi dengan wanita lain, lalu bilang. “Aku emoh karo kowe, wes mulio ke rumahe bapakmu, pergi dari mukaku” cerita Maemunah ke gue lewat telfon, ndak lama ini. Yang bikin emosi mendidih lagi, Maemumah di usir sang suami dari kediaman-nya, hingga akhirnya bapak kandungnya, harus bergegas menyusul anak bungsunya plus cucu perdananya. Untung saja, keluarga Maemunah cukup berada, mereka pulang di ajak pulang naik mobil pribadi sejuta umat, Avaza. Di zaman yang serba berkebutuhan, seperti kencing harus bayar dua ribu  ini, memang kemapanan sang suami menjadi letak keharmonisan bahtera rumah tangga. Apa lagi, sewaktu suami Maemunah pergi bekerja sebagai sales (lupa gue sales apa’an).

“Tiap bulan gajinya lo, cuma 300 ribu sampek 400 ribu, Bang Cup (u)!” akunya belum lama ini lewat saduran telfon genggam.

Dia kerap kali cerita ke gue, sewaktu tengah malam tiba, dia sering terbangun dari tidurnya. Rasa sakit dan trauma yang hebat, setelah di kecewakan membuat lubang yang bernama luka di dalam dasar hatinya sulit untuk mengering. Tadi malam, sewaktu gue masih melek, persis jam tiga dini hari, sewaktu nyari-nyari ide tulisan, untuk blogg ini,  dan media publisher, tiba-tiba Mae bbm gue.

“Bang, ke bangun nih, sampen lagi ngapain?”

Ini bbm-nya yang ke sekian kalinya di waktu dini hari, trauma itu benar-benar mengusiknya.  Gue pernah ngalamin kejadian persis seperti ini. Sama seperti sewaktu gue patah hati beberapa bulan yang lalu.

“Belum, Mae,” kata gue. “Ehm,  kayaknya ada yang salah deh, Mae, masak tiap malam begini sampean kebangun? Coba pikir deh, apa yang sebenarnya bikin lo kebangun?’

Buku yang semula gue baca, lalu gue geletak kan begitu saja, di sebelah kiri, mencoba fokus menanggapi keluhan-nya. (Hingga akhirnya gue menumukan bahan artikel, iya ini, hasil opservasi pengamatan tadi malam, gue mencatatat beberapa ponit yang penting, dan semoga bisa berguna bagi pembaca gue).  Mumpung  malam ini tenang, sunyi, dan cukup bagus untuk bahan perenungan sekaligus refleksi.

“Aku, masih trauma Bang Cup,” katanya. “Sampek-sampek, aku wes ndak ngerti bagaimana caranya menangis, aku sudah lelah dengan laki-laki”

“Tenang Mae,” kata gue, menasehati. “Wanita memang di ciptakan hatinya melunak, penuh perasaan dan peka,  jadi lebih memorable terhadap kenangan. Aku pernah ngalamin rasanya di kecewakan,” jawab gue. “Tapi, sampean termasuk hebat lo Mae,!”

“Hebat gimana maksudmu, Bang Cup”

“Iya, hebat banget Mae” kata gue, membalas, lalu gue mengarahan segenap kemampuan ke dua ibu jari. “Cewek seumuran sampean, masih muda, usia 22 tahun, tapi sudah pernah ngalami  masalah begitu besar, sampean kan kebal mentalmu, mulai dari maaf, mengandung di luar nikah,  terus sampai di tinggal suamimu, sampai lagi harus menghidupi anak semata wayangmu. Belum lagi, nerima cercaan sana-sini dari tetanggamu. Hayo, kalo bukan sampean, lakyo wes  ediyan, atau bisa-bisa ambil jalan pintas, lalu bunuh diri nyemplung ke  Sumur!’’

Mae kemudian mengirimkan balasan dengan kalimat terbahak. “HA-ha-ha-ha-ha”. Lalu pesan lanjutan-nya pun menyusul. “Mungkin ini teguran dari yang di atas ya Bang?”

“Tepat sekali Mae, apa pun hal yang di awali dengan keburukan, pasti belakangan hasilnya juga akan buruk,” jawab gue, mencoba menggiring untuk masuk lebih dalam lagi. “Mae, sampean singgel perent loh, putra kecilmu sekarang butuh figur seorang ayah, jelas, sampean selain merangkap sebagai ibu kandung, harus juga berperan sebagai ayah”

“Terus?” balasnya singkat.

“Ya, sampean kudu ngelakuin dua hal itu, ngelakuin dua-duanya. Biar merasa ndak hutang budi sama putramu,  kalo sudah begitu minimal sampean bisa tidur nyenyak. Satu lagi…!”

“Apa, bang Cup?”

Gue mengambil napas beberapa bagian. Behenti sejenak. Lalu jempol gue kembali beradu dengan track-pat.

“Mae, “ kata gue. “Cobaan itu sama halnya masalah ya, Mae,  itu artinya sampean di suruh kembali pulang, inget karo Moho Kuaos, biyen pas seneng-seneng ndak tahu kan, muni alhamdlillah, krungu adzan geplas, sholat di tinggal. Aku  maune bolong-bolong, bareng sholat tertip iso tenang, ndak tahu galau lagi kan aku Mae. Inget, Mae, anak yang sholel, terlahir dari ibu yang sholeh pula” balas gue panjang.

“Aduh… Aduh… Aduh… Kang, maleh piye ngono aku moco kalimat akhirmu!’’

Lalu kemudian Mae menghilang di tengah sepinya malam. Berikutnya, pelan-pelan gue menyusun artikel ini. Setelah memperoleh beberapa paragraf, lalu menggaris bawahi, tentang topik ini, ternyata ada kesamaan tentang kerisauan orang-orang yang di kecewakan. Mae, bilang sudah lelah dengan laki-laki. Sementara teman, gue sekampus, yang tadi gue ceritakan nikah di gedung Convention Hall, belakangan ditinggal pergi sang suami dengan wanita lain begitu menjadi seorang manager. Lalu pergi tak ada kabar, hingga temen gue, nyaris putus asa dengan meminum racun arsenik, dan di larikan ke rumah sakit. Akhirnya selamat..

Sedangkan  gue, nyaris trauma dengan janji-janji…, kamu gak akan ninggalin aku kan mas, kita serius sampai nikah ya mas.

Ternyata patah hati adalah peristiwa jamak yang di alami banyak orang. Tidak perlu bersedih, hingga berlarut-laur, dan merasa terpuruk. Di luar sana, masih banyak yang seposisi dengan kita. Semua orang pernah patah hati, dan patah hati, mengubah cara pandangnya terhadap cinta se-umur hidup.

481345_467762969918816_1567927762_n

Surabaya, 21 Desember 2014

Official website: www.notedcupu.com

Akun Twitter  : @Cupunoted

Iklan

9 respons untuk ‘Cinta Penuh Syarat Dan Ketentuan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s