Menjadi Bangga di Kota Panggul

Dokumen: @cupunited

Dokumen @cupunited: Jalan Protokol Panggul, sedang lengah 19 Desember 2014

Kota kecil. Setelah jalan setapak yang membelah pegunungan di benahi, lalu dilebarkan, area negeri kincir angin ini semakin berdenyut. Sepagi ini, saat embun belum mengering dari pucuk dedaunan, dan pedagang sayur gerobak yang sudah lalu lalang, tidak ada pemandangan kemacetan. Jalan protokol yang masih satu arah, belum tertanami lampu trafik light, lantaran jumlah penduduknya tidak sebanyak dengan jumlah kendaraan yang beredar. Ini bukan kota sekelas metropolitan, juga bukan, kota yang terus bergerak sepanjang siang dan malam.

Tenang. Teduh, dan hijau. Penuh udara segar untuk dikonsumsi setiap saat, kapan pun, dan dimana pun. Banyak orang beranggapan, sebutan kota, berlaku untuk area dengan pemukiman kaum papa secara ekonomi, yang menjamur dengan gedung percakar langit. Pernak-pernik kota di tandai dengan, orang-orang menjadi serba sibuk, repot dengan urusan pribadi masih-masih. Rasa kemanusiaan antar sesama, semakin rapuh di tengah kesibukan. Penghuni kota yang, abai terhadap sesama menjadi pemicu daerah yang ndak nyaman untuk di tempati. Tapi ini lain, kota kecil di negeri kincir angin—Panggul, area yang menawarkan kenyamanan untuk di huni, sekaligus kawasan permukiman yang akrab kita kenal dengan kampung halaman.

Yang paling menarik, nyaris menembus angka ratusan ribu umat manusia, bermukim disini, meski pun begitu pagi tiba, Pak Loper koran masih terheran dengan koran-nya yang hanya terjual sembilan eksemplar saja. Di antara, sekian banyak jumlah manusia yang ada di Panggul, cukup mudah untuk menjadi orang ‘cerdas’ di antara umat manusia lain, silahkan menjadi bagian, dengan masuk dalam sembilan populasi pembaca koran pagi, pengetahuan akan lebih unggul dari yang lain. Coba saja, kalo sekolah-sekolah, SD hingga SMA di kota ini, langganan koran, mungkin saja Pak Loper Koran lebih makmur hidupnya, dan meninggalkan pekerjaan sampingan-nya bisnis jasa perpanjangan SIM. Efek domino juga akan lebih kerasa, berapa banyak ratusan kepala yang tercedasakan dengan mengkonsumsi koran hangat setelah sarapan pagi.

Mayoritas masyarakatnya yang berkantor di sawah berlabel angraris, membuat mall tidak sanggup bisa berdiri disini. Sebagai penopang, ekonomi kota, hanya ada pasar wage yang beroperasi selama satu hari di antara lima hari: kliwon, legi, pahing, pon dan wage. Tidak bisa di ketahui, berapa banyak uang yang beredar di kota kecil ini selama, pasar itu berdenyut dari pagi sampai menjelang larut senja. Untuk pedagang kecil, ukuran penjual daging kambing misalnya, yang masuk kategori usaha kecil menengah, sesepi-sepinya, bisa membawa pulang duit sebanyak empat ratus ribu.

Jelas disini tidak ada gap antara kaya dan miskin, semua sama saja di pukul rata. Tidak ada pemandangan ojek payung di kala hujan mengguyur di musim penghujan. Juga tidak ada orang yang keluar mobil, di sambut dengan sang Sopir dengan membuka kan pintunya, lalu di kerumuni anak kecil dengan payung kecilnya yang reyot. Kota yang membuat orang tampak biasa, tentang pedagang kecil, seperti pentol caos-nya Pak Markop yang mendadak ngehits, ceritanya, semula sehari bisa di meraup gocek lima puluh ribu, dalam sehari, kini bisa mencapai lima ratus ribu dalam satu rombong.

Di negeri kincir angin, kota Panggul ini, lahan pasir pantai yang semula hanya bercampur biji besi yang teronggok dengan tanaman nyiur, kini menjelma, menjadi sentra pedagang langkah kaki seribu. Lapak-lapak semi permanaen, dan berdinding, bertengger di pinggiran pantai Konang. Ajaibnya, tanpa sentuhan pemberdayaan, dari bapak-bapak pejabat setempat, mau pun ibu-ibu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, di tingkat lokal, mereka bisa menyambung hidup. Ekonomi berdenyut, rupiah menyambut, dan dapur mengepul. Pantai yang semula hanya befungsi menjadi lahan persemakmuran bagi nelayan saja, kini pedagang juga ikut merasakan betapa nikmatnya menjual ikan bakar sambal kecap pedas, dengan seperangkat es degan gula jawa.

Dokumen @Cupunoted : Warung semi permanen yang menghasi tepian Pantai Konang -- Panggul -- Trenggalek, 29 Desember 2014

Dokumen @Cupunoted : Warung semi permanen yang menghasi tepian Pantai Konang — Panggul — Trenggalek, 29 Desember 2014

Dengan akses jalan yang semakin mulus, yang menghubungkan Panggul dengan Trenggalek, kawasan kota kincir angin, dengan panorama alam bebas pesisir pantai, membuat wisatawan lokal semakin ramai datang ke sini. Untuk menikmati betapa lezatnya, ikan tonggkol bakar dan sejenisnya, cukup merogoh kocek dua belas ribu, lengkap dengan segelas es jeruk.

Dokumen @Cupunoted: Suanan bakaran tongkol, di salah satu warung permanaen, seporsi 12 ribu.

Dokumen @Cupunoted: Suanan bakaran tongkol, di salah satu warung permanaen, seporsi 12 ribu. 29 Desember 2014

Di kota kecil, Panggul ini, tidak ada jam kantor seperti di kota metropolitan. Juga tidak ada pemandangan manusia berdasi dengan setelan jas dan celana bahan yang necis. Yang ada hanya, bapak-bapak, yang kadang berusia paruh baya, dengan memakai kaos oblong, beserta pernak-pernik warnanya yang sudah, ndak niat atau ngrombangi. Juga ndak luput, beserta garan pacol yang bersandar di atas bahu. Selain area sawah, sebagai pusat perkantoran, dengan bercocok tanam menggunakan pacol dan ganco, penduduk kerap kali beralih kantor dengan pergi ke kaki perbukitan yang terletak di pegunungan, ndak jauh dari rumahnya. Di musim penghujan seperti sekarang ini, para pemilik lahan, ramai-ramai menanam tanaman cengkeh. Cukup cerdit, di saat harga cengkeh kering sekilo mampu menembus angka seratus lima puluh rupiah per — kilo gram.

Dokument: @cupunoted

Dokument @cupunoted : Pak Bendot tetangga rumah, berangkat ke #Ngalas [Hutan] 29 Desember 2014

Tapi, di musim penghujan seperti sekarang ini, kota ini kerap kali di teror banjir dari kali gede. Saat, air banjir naik hampir mendekati saluran irigasi, persawahan, yang terletak di sebelah timur kediaman, bisa di pastikan, pusat kota, yang berada di kecamatan bakalan kerendam dengan ketinggian air yang bervariasi. Keberadaan pasar, yang terletak di tengah kota kerap kali menjadi korban amuk sungai gede yang meluber. Ancaman itu, juga mengikis petak persawahan yang berada di bantaran kali gede. Kini yang terjadi, sebelah barat kediaman, abrasi kian parah dan mulai mendekati saluran irigasi bernama kalen. Jika abrasi dibiarkan, hingga mampu melenyapkan kalen, puluhan hektar sawah akan terancam kekeringan sumber air.

ini kali tempat gue mandi dulu. Kena abrasi, sawahnya hilang. :(. INi gue sama si  Tunjung.

Dokument @Cupunoted : Kali gede yang memakan beberapa petak sawah, dan hampir satu hektar sawah. 29 Desember 2014

Ketika di hulu sana, terjadi pembalakan liar, atau penjarahan pohon secara serampangan, yang terjadi adalah, alam akan murka terhadap penghuninya. Bumi cukup layak di tempati orang ramai, tapi tidak layak di tempati satu orang yang serakah dan pongah. Jika abrasi sudah terjadi, dan pembiaran berlanjut, masalah pun akan meluber. Jelas sekali, bumi butuh perawatan di antara segelintir orang yang tidak mau peduli akan tempat tinggalnya, dimana ia berpijak — tentang lingkungan — tentang alam. Dimana manusia hidup berdampingan, karna ketergantungan dengan oksigen yang dihasilkan dari proses foto sintesis dedaunan. Karna manusia adalah penentu nasip bumi berikutnya.

Buntutnya, kawan-kawan kampus banyak yang iri, tentang kediaman seorang Bang Cup[u] yang terletak di kampung halaman, sekaligus punya segala macam paronama dari berbagai sudut. Di sebelah rumah, ada area persawahan lengkap dengan cekungan bunyi kodok yang melolong di pagi buta. Di bagian selatan rumah, ada hamparan pantai yang menawarkan kesejukan tentang segarnya pemandangan alam dan udaranya. Di tepian barat rumah, yang jaraknya hanya sepelemparan batu, ada banyak pohon yang tumbuh dengan hijau di kaki pegunungan.

Dokumen @Cupunoted : Suana kaki perbukitan Desa Kertosono, lokasi gue tinggal.

Dokumen @Cupunoted : Suana kaki perbukitan Desa Kertosono, lokasi gue tinggal.

Alangkah mengesankan menjadi tua dengan kenangan masa muda yang penuh berisi, hentakan kaki yang mecekram lembutnya pasir pantai, menikmati bakaran ikan segar dengan sambal kecap pedas, permainan-permainan masa kecil yang menggugah gelak-tawa, dan kehidupan yang menyatu dengan alam, yang akan berakhir dengan banyak cerita istimewa masa muda.

www.notedcupu.com

My twitter: https://twitter.com/cupunoted

Panggul, 30 Desember 2014.

Iklan

5 respons untuk ‘Menjadi Bangga di Kota Panggul

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s