Desa dan Kerinduan Kita

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Pada saat gue memasuki Surabaya pada tahun 2010, gue adalah anak kampung yang kehilangan induknya. Pikiran gue masih di kampung halaman, sementara fisik gue sudah di kota Metropolitan. Urbanisasi memaksa gue untuk membelah diri, bermetamorfosis. Dari Kecebong menjadi Kodok Bangkong. Dulu…., lidah gue masih medok. Sisiran rambut gue, belah tengah yang kalo di zoom, terus dilihat dari jarak dekat, kutunya lagi ngaspal jalan pakek ketombe. Gue juga sering keluar rumah memakai sendal jepit merk Swalow. Mungkin kalo pas lagi jalan-jalan ke Mall, gue langsung di ciduk sama petugas keamanan, karena gue di sangka kembarannya Tarsan.

Iyap, pada saat memasuki dunia kampus, sering gue memakai bahasa lokal yang gak bisa dipahami, sama temen-temen kelahiran Metropolitan. Ada kejadian yang membuat gue merasa canggung banget, sampai sekarang. Pernah, saat gue di ajakin sarapan ke kantin bareng anak-anak, pasti bakal gue jawab: Nyepeh!. Nyepeh, dalam kamus bahasa Jawa Kuno, artinya males. Berhubung gak ngerti dengan apa yang gue sampaikan, mereka menganggap gue sebagai: Wiro Sableng.

Karena pada saat itu gue dikira generasi ke-2 dari keturunan Wiro Sableng, setiap berada di kampus jarang ada yang mau temenan sama gue. Kalo sudah begitu, gue pun segera berbenah diri. Kebiasaan ke kampus memakai sarung, gue tinggalkan. Kebiasaan pakek sendal jepit, juga sudah gue museumkan diganti sepatu merk Zebra Cross. Gue berusaha menyatu dengan habitat yang baru. Bergumul dengan mereka. Berpindah dari kawasan yang lama, #Transit ke kawasan yang baru. Seiring berjalannya waktu, ciri-ciri visual yang mengarah ke tuduhan anak kampung: otomatis gue hilangkan.

Dan sekarang.., gue bisa menempatkan di dua posisi yang berbeda. Iyap, sama seperti hewan Bunglon, bisa menyesuaikan diri, dimanapun dan dengan siapa pun. Kalo sama anak-anak kota metropolitaan, gue bisa menyamai segala logat dan perilaku mereka yang bergaya sosialita. Kalo di kampung sana, gue tetap menjadi bagian dari desa gue: anak kampung. Bersendal jepet, dan suka nyapa orang dimana saja. Yang kalo di terapkan di kota kayak Jakarta, gue bakal di sangka: wong ediyan.

Karena ke adaan yang berbeda tadi, memaksa gue berevolusi membentuk gen-(nerasi) baru. Kalo nyapa temen, gue pakai sebutan gaul masa kini: elo. Padahal kalo di rumah sana sih, manggil temen pakek nama: Des — Bedes (yang artinya Monyet). Kalo jalan-jalan, disini gue klayapannya ke Mall. Padahal kalo di rumah sana, paling gaul ke ke Pasar. Mentok-mentok juga ke sawah, dan yang paling ekstrim: nang ngalas.

Secara hakiki, kebiasaan gue sebagai anak kampung nggak bisa dirubah. Ada rutinitas-rutinitas anak kampung seperti gue, yang nggak bisa di temui ditengah kota, pada saat-sat seperti sekarang ini. Kebiasan-kebiasan itu ada banyak macamnya, dan kadang bikin kangen banget kalo lama nggak ngelakuin hal itu. Penasarn toh?. Nyok pasukan Des-Bedes kita kupas, satu persatu.

Ngaret:

Berhubung profesi utama orangtua gue sebagai pebisnis pemotongan hewan ternak: Sapi dan Kambing. Maka nggak heran, kalo dibelakang rumah, ada semacam kandang peternakan yang di fungsikan sebagai: rumah tinggal sementara bagi hewan. Sebelum di eksekusi mati, gerombolan hewan ternak ini dikasih makan rumpuut dengan kualitas nomer wahid.

Nah, gue dulu sebelum #Transit ke kota, sering mencarikan rumput hewan ternak ini ke tengah hutan atau kadang ke sawah. Dalam Bahasa Jawa, cari rumput bisa di sebuat dengan itilah Ngaret. Biasanya kalo Ngaret, gue bawa karung beras ukuran satu kwintal bergambar Ayam Jago, lalu kalo sudah sampai di sawah ternyata suketnya garing, ya mentok-mentoknya nyolong suket gajah, godong gedang. Terus, kalo tiba-tiba ketauan pemilik kebunnya, pasti tuh orang bakal bilang:

“Hayo, terus-terusno nehmu nyolong, le. Setan alasss?” katanya galak, sambil mengacungkan celurit ke arah gue.

Kalo sudah gawat kayak gini, cuma satu yang bisa gue lakuin. Kabur sambil nutupin muka pakek karung biar wajah gue gak dikenali. Iyap, gue bisa melarikan diri dengan selamat. Tapi setelah di pikir-pikir, dengan berbagai pertimbangan yang ada, nyolong suket adalah perbuatan tercela dan tidak pantas di kriminalkan. Setelah gue bisa berpikir secara jernih, akhirnya gue bisa insap.

Sudah lebih dari empat tahun, gue di Surabaya. Jauh dari rumah, juga jauh dari rutinitas peternakan dan hamparan sawah. Lha bayangin di Surabaya, jangan kan sawah, orang nernak hewan piaraan aja nggak ada. Paling mentok kalo ada, orang nernak ikan Cupang. Lha wong sawah saja nggak ada. Nah, darisitulah kadang gue ngerasa resah lalu buru-buru pengen pulang ke kampung halaman.

 Manceng Nek Sawah

Tau tayangan Bolang di stasiun televisi swasta kan, di Trans (emboh trans TV, trans 7 opo Trans– tanan), tayangan itu lahir karena representasi dari dolanan rakyat yang saat ini hampir punah dijajah oleh gadget dan berbagai vidio game canggih berbasis teknologi. Bocah zaman sekarang, lahir ceprot, mainannya gadget. Makannya gak heran gue, entar kalo gedenya, pada suka tawuran antar sekolah. Zaman SMA gue dulu, malah dolanan rakyat masih ada banyak macemnya. Salah satu yang paling seru ya, manceng belut nek sawah.

Manceng nek sawah ini, sejenis petualangan alam terbuka, yag kegiatan utamanya: berburu ikan belut sepanjang pemantang sawah. Dalam perburuan sebelum senja ini, peralatanya yang digunakan sangat sederhana, berbekal pancing dan cacing sebagai banie (umpan). Tinggal nyari bolongan (omahe) belut segede jempol tangaan, lalu banie cacing tadi dimasuk kan sampai ke kedalaman tertentu. Setelah sepuluh menit, kail begerak-gerak artinya umpan di makan oleh Si Belut. Dan…, hap, tarik sekenceng-kencengnya, lalu belut segede ibu jari sudah kejang-kejang di udara, sambil mulutya terpancing.

Kalo tangkapan sudah dirasa banyak. Gue dan temen-temen gank pun pulang. Sampai di rumah, gue membawa tangkapannya ke sumur warga, kami pun membersihkan perut si belut. Kemudian mencicangnya beberapa bagian dengan pisau di atas tlenan kayu. Berikutnya dibawa ke dapur, lalu tinggal ngasih bumbu garam, merica, micin, dan ketuumbarrrr, kemudian tiriskan dalam penggorengan kenceng.

Sepuluh menit kemudian belut goreng hasil tangkapan gerombolan bocah bedes ini, sudah bisa di makan.

 “Enak, enak, woooo, pinter masak bakne kowe Cup(uh),” kata, Ucup sambil menggigit ekor belut goreng, sabil mulutnya mengunyah nasi kebuli.

“Mangane kalem-kalem aeh, ojo gragas, aku ora kebagian iki engko!,” balas gue, lalu mentoyor jidatnya. Ucup kejeblak ke belakang, dia bukannya malah marah. Tapi malah tergeelegak ketawanya. Jika hal itu, gue lakukan pada zaman sekarang, mungkin gue bakal di ajakin adu jotos sama temen gue.

Di kota, yang pembangunanya pesat kayak zaman sekarang, keberadaan sawah pun sudah lenyap sebelum gue berada di kota ini. Mereka-mereka yang rakus akan materi dan kenikmatan duniawi, akan menjadi pebisnis hitam yang sangat rakus tanpa memperdulikan ekosistem kelestarian lingkungan. Makannya anaknya gak bisa nikmatin main ke sawah, bisanya cuma klayapan ke Mal dan pegang gedget.

Nah, kalo pulang pun, sering gue ajaki adek gue nomer enam, si Tunjung buat mancing ke kali atau ke sawah.

Suara Gamelan:

Bagi yang pernah tinggal di perkampungan Jawa, pasti ora asing banget karo suara gamelan. Jadi gini lo, meskipun gue terlahir bukan dari golongan keluarga seniman. Tapi tetangga belakang rumah gue, ada dua orang yang berprofesi sebagai Dalang. Di rumahnya pun, lengkap punya berbagai peralatan gamelan dan setumpuk tokoh pewayangan yang disimpan rapi di dalam kotak. Ndilalah-nya lagi, tetangga kanan-kiri gue yang juga dipercaai sebagai penabuh gamelan: gong, jedor, kenong, ndasmu benjot, dll.

Dulu sewaktu gue masih SMA. Bapak-bapak dalang dan panjak ini, tiap malam minggu latian sebelum pementasan wayang. Sebagai anak yang jomblo dan nir-agenda. Gue pun menyempatkan untuk nonton ke rumah Pak Dalang, sama temen-temen gue yang juga senasip sepenanggungan. Sampai disana, bocah ingusan kayak gue cuma di persilahkan nonton dan tenguk-tenguk nyucup wedang. Mereka takut, kalo gerombolan gue di pegangi pentungan, bakal nabuh sembarangan.

Salah satu istri Pak Dalang pun, menyambut tamu yang hadir dengan unjukan kopi. Termasuk rombongan bocah Bedes macam gue ini, yang baru saja tiba.

 “Iki, wedange, di ombe le?” kata istri Pak Dalang mempersilahkan kami meminum kopi jawa buatannya.

Lantas Ucup pun membalasnya dengan sigap: “Enggeh bu, Matur suwon. Lha rokoke endi ikih?” tanya Ucup, yang langsung di sambar oleh istri dalang.

 “Rumangsamu Le, padakne omahku toko opo, kabeh cemepak karek jalok. Tuku dewe konoh!” Balasnya, sambil mengacungkan tokoh pewayangan Bagong ke udara.

Lalu kemduian di sambar gelak tawa oleh jajaran para gamelane’rs (sebutan untuk penikmat gamelan). Suasana yang semula penuh konsentrasi jadi cair seketika. Mereka tertawa terbahak-bahak. Sumpah gue bangga banget, tumbuh dilingkungan yang kaya akan seni budaya: gue jadi tahu apa itu budaya kearifan lokal. Dan suasana seperti inilah yang nggak bisa gue temuin di kota ini selepas tahun 2010.

Kadang kalo kangen, gue langsung pulang.

Mbeleh Wedos:

Bagi yang sering membaca web karya anak tampan Bang Cup(uh) ini, dedek-dedek dan kakanda sekalian pasti sudah tau kalo emak dan bapak ku kerjanya sebagai: Njagal Hewan. Di rumah sana, hampir setiap hari nyembeleh kambing. Untuk jenis sapi, hanya melayani pesanan, karena dagingnya yang kadang kelebihan stock. Jadi mesin pendingin penyimanan daging, kadang sampek penuh-penuh. Sebagai pebisnis daging kambing dan sapi, kelebihan stock daging di mesin priser bisa menyebabkan kerugian besar di kemudian hari, karena kualitas daging yang ototmatis menurun.

Tapi orangtua disana, cukup handal juga ngurusin persediaan stock daging. Untunglah, cuma tenguk-tenguk di rumah, pelanggane bapak ikih tiap hari datang ngasih hewan kambing yang siap di sembeleh. Dan dalam hari-hari tertentu, seperti menjelang hari besar Pasar Wage — Panggul, bapak dan simbok melakukan eksekusi mati pada waktu dini hari. Hal ini, dilakukan untuk menjaga kesegaran daging yang akan dibeli oleh pelanggan. Keren ya bapak-simbok ku?. Ehm.

Sepanjang gue bantu-bantu sama orangtua, pernah ada kejadian yang cukup membuat gue mati ketawa. Versi cerita singkatnya gini lo, bapak memprediksi permintaan pasarnya nggak begitu rame, karena berbarengan dengan masuknya anak-anak sekolahan. Yang kalo diperhitungkan, cukup menguras duwit masyarakat untuk biaya sekolah anaknya dari pada memilih beli daging.

Jam, empat dini hari kami bangun. Lalu mengambil Kambing ukuran gede dari kandang belakang rumah. Entahlah, kok ya kebetulan banget, asisten yang biasanya bantu bapak haru itu, lagi dines keluar kota. Akhirnya gue lah yang ikut turun tangan. Ngerasa tenaga gue, cukup mampu untuk memegang empat kaki kambing tersebut, gue mengabaikan bantuan tali-temali yang biasanya digunakan untuk meredam pancalan kaki-kaki si kambing.

Selesai bapak mengucapkan bacaan kalimat takbir, dan rapalan ayat Al-Qur’an, bapak memberikan aba-aba. “Siap, toh le?”

 Gue pun langsung membalas.“Wes Pak, beres,” Beberapa detik mendekati eksekusi, si kambing meronta-ronta sekuat tenaga, ke empat kakinya mancal-mancal, akhirnya gue pun kuwalahan. Pegangan gue lepas, gue kejeblak nyungsep jatuh ke got, terus kambingnya lari kenceng kebirit-birit. Sambil beteriak. “Mbekkkkkkk-mbekkkkk”

Bapak pun, spotan nyletuk: “Wooooh, wedos ediyan, manganmu okeh nyekel wedos aeh kalah, salahe sopo sikile ora kok taleni. Ngono mau ngaku kuat” katanya sambil bibirnya mecucu beberapa senti ke depan.

Melihat bapak ge-grutuan, Simbok pun ikutan ketawa kepingkel-pingkel. “Ha-ha-ha-ha, ngono kui lek nyepelekne tenagane wedus.” katanya. Gue pun hanya ketawa kecut.

Sekitar lima belas menit melakukan pencarian, kambing itu ditemukan ngumpet di semak-semak dibawah area komplek pemakaman yang ndak jauh dari rumah kami. Ternyata kambing ngerti juga ya, kalo bakalan memasuki alam barzah. Kambing saja diberi isyarat, apa lagi manusia?. Iya, kan?. Ehm.

Nah, moment kayak ginilah yang kadang gue ke inget rumah terus, ketika di tengah perantauan. Hingga sampai pada saaat ini, kalo gue pulang, gue masih tetap aktif ngebantu bapak-ibuk nyembeleh hewan. Sampai proses pendistribusian dagingnya ke konsumen.

Iyap, sampailah pada penghujung chapter ini.

Keresahan-keresahan akan rindu kenangan lama itulah yang kadang mengusik gue sewaktu menjelang tidur ditengah malam. Tapi gue beruntung lo, punya kampung halaman yang nggak bisa dimiliki oleh orang kota. Iyap, temen-temen gue pun pada ngiri banget kalo gue liatin foto kampung halaman gue yang punya banyak lokasi wisata pemandangan alam: Pantai, Gunung, Sawah Terasiring, Air Terjun, dan seterusnya masih banyak lagi. Pada hari ini, ada tren baru yang tumbuh dikalangan sosialita, mereka melakukan liburan lebih memilih berkunjung ke pemandangan alam terbuka.

Sebelum, rutinitas itu hanya sekedar seromonial belaka. Baca ini baik-baik. Atau, kalo memang tidak suka. Hem…, terpaksa gue anjurkan, dengan sangat tidak mengurangi rasa hormat, close halaman web: notedcupu.com ini dari perangkat lunak kamu. Camkan ini baik-baik. Tarik napas, mari merenung sejenak.

Rasanya baru kemarin gue masuk SMA, tau-tau sekarang sudah lulus D III Perajakan, kemudian lanjut sekolah lagi ngambil HR-Strategik. Waktu berjalan cepat lebih dari apa yang kita prediksi, hingga kadang kita terlena, karna kita terlalu asyik menikmati rutinitas yang ada. Terlepas apakah runititas itu bermakna atau tidak. Kita akan tersadar ketika kita sudah melakukan perpindahan. Lalu bilang: “Ohh, iya-iya, kok gue baru kepirikan sekarang.”

Sebelum semuanya terlewat terbunuh waktu, sebelum berpindah, apa pun itu, lakukan hal yang bermakna. Karena hidup secara haikiki adalah proses perpindahan, dari detik ke menit, kemudian berjalan menyusuri koridor waktu yang panjang, yang harus di renungkan dari setiap perpindahannya.

Itulah tema yang mencoba gue angkat dalam buku #Transit, yang gue kirimkan ke penerbit di Jakarta pada akhir tahun 2014 kemarin. Di dalam buku itu, seluruhnya dari kisah nyata yang gue angkat dari pengalaman pribadi. Tetap, gue kemas secara komedy. Meski pun kedepan nanti ndak menjamin, lucu atau enggak, semoga enggak sekedar seonggok bundelan kertas. Tapi memberikan peran yang lebih.

Cerita-cerita di dalam buku tersebut, rata-rata soal itu. Ada tentang gue jomblo, kemudian berpindah ke hati yang baru, gara-gara gue kenal dia di twitter saat gue mengendalikan sebuah akun anonim @Aslipanggul. Dan ternyata, dia sekampung halaman dengan gue. Ada tentang, bagaimana gue perpindah jurusan dari lulusan D3 Perpajakan, menjadi suka dunia journalistik sampai pada akhirnya, gue menjadi Internship Reporter media besar tanah air, hingga terjebak pada situasi konyol ngewawancara bekas PSK. Cukup. Totalnya ada belasan bab di dalam buku ini.

Oiya, kabar kelanjutannya, seminggu yang lalu gue dapat info, tahapnya lagi sudah di tangan editor, kata dedek-dedek CS-nya, nama editornya berinisial Mas I. Semoga prosesnya lempeng. Dan sebagai lazimnya sebuah harapan, semoa buku ini nanti prosesnya lancar, dan bisa di ACC oleh pimpinan redaksinya — kayak skripsi.

Terus kenapa judulnya #Transit?. Judul ini muncul ceprot, keluar begitu saja di kepala gue. Tadinya mau gue kasih judul: #Petani Transmigrasi, tapi gue takut, entar malah di kira buku kumpulan cerita masyarakat bendol desa. Tetep, pengennya, judulnya punya keterkaitan sama kehidupan gue di kampung halaman sana. Untuk perkembangan kabar recehan, bisa di simak di fanspage pesbuk web ini ya. Sekian dulu, gue undur diri ya, terimakasih sudah menyimak dengan serius. #PeyukSatuSatu. 

Iklan

27 respons untuk ‘Desa dan Kerinduan Kita

  1. Reta Alizabana berkata:

    “Karena hidup secara haikiki adalah proses perpindahan, dari detik ke menit, kemudian berjalan menyusuri koridor waktu yang panjang, yang harus di renungkan dari setiap perpindahannya.” <– dibaca adem bang, kyo mblebu kulkas. haaaah

  2. oktarinadw berkata:

    oh, iki tah, yang membuat dirimu kangen masa kecil dan ngobrak-abrik postingan anak-anak kecil mandi di empang di kampungku, bang?
    okelah. kabarin kalo bukuny udah terbit ya. ntar paling kusuruh orang buat beli 😛

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Bener banget, goro-goro baca postinganmu kemarin aku langsung telfon bapak: “Pak, aku muleh oleh?” trs di jawab: “Muleh ndasmu, bulan wingi kyo wes muleh.” hahaa. Kalo di rumahku mah, kelase udu empang neng, tapi kali gede, perahunya pakek getek.
      Oh….., setan alas kok. Ngledek mulu. Gak kasian aku apa, entar aku kena darah tinggi lo. 😀

      • oktarinadw berkata:

        ya Tuhaan ampuni makhluk yang hobi ngatain orang setan alas ini yaa.. jangan biarkan dia kena darah tinggi. kalo panu sama kutu air bolehlah dikasi sikit-sikit.
        iya. ntar kalo udah terbit siapa tau nyampe bangka bukunya.. 😛

      • Bang Cup(uh) berkata:

        Doamu baik banget kakak, terharuuuuuu. #NgelapIngus.
        Hi, jangan dong, entar tampan ku ilang, kamu tak salaaahin lo. Lakik kok kena panu, ndak kereen blas.

        Emang disana ada tokoooo buku?. hahaha

      • oktarinadw berkata:

        Hahahahasyeemm…
        Di sini ga ada toko buku, ga ada buku, ga ada listrik, ga ada pasar, ga ada kebun binatang, ga ada orang. PUASS???
        *uncal sendal*

  3. tedjojodikusumo berkata:

    bud..kata2 mu kuwi sengojo po ora,,kok enek istilah “itilah”….jan wiro gendeng….wkwkwkwkwkwwkk

  4. tedjojodikusumo berkata:

    lihat paragraf 8,,,bawahnya gambar Ninja bawa suket….hahahahahahahahahaa,,,tapi gokil bboooookkk. hehehehee

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s