Dua Jagoan Yang Menembus Bidikmisi

INI mereka berdua, Sandra dan Dina, pas abis belajar makannya rakus

INI mereka berdua, Sandra dan Dina, pas abis belajar makannya rakus

Selepas gue sholat magrip. Jam lima lebih tiga puluh menit. Gue melepas sarung. Lalu bergegas menyalahkan motor metik tua. Baru beberapa meter jalan, dada gue deg–degan, ini yang ikut ujian bidik misi siapa, tapi malah gue yang mulai yang was-was. Sore kemarin, adalah hari penentun, antara dua pilihan. Jika Sandra dan Dina lolos seleksi jalur undangan rapot, yang sekarang namanya SNM-PTN, artinya gue lolos dari beban biayain kuliah mereka berdua. Jika mereka ndak lolos, siap-siap deh, gue bakal jadi cowok kere, seadanya.

Suara kenalpot motor gue melesat membelah Jalan Kenjeran lengkap dengan detak jantung yang memburu. Gue berhenti sejenak ketika melewati perempatan jalan. Seperti orang yang sudah hapal jalan. Gue membelokkan setir kemudi ke arah kanan. Setelah melewati papan nama bertuliskan Jalan Mulyosari, gue jalan krunduk-krunduk. Mata gue melotot ke kanan-kiri, melihat ke berbagai ruko. Mencari lokasi ke dua adek gue yang ikut les di bimbingan “Primagama’.

Lima belas menit berjalan, puluhan deret ruko sudah gue lalui, tapi gue belum juga menemukan kantor primagama tempat adek gue les privat. Gue mengambil jalur kanan, pelan-pelan menepi ke sebelah pinggir dekat pembatas jalan. Sementara gas motor mirip pejalan kaki di trotoar, gue tetap ngelihat kanan-kiri, sampek mata gue juleng. Yang ada hanya ruko berbagai jenis usaha, bank-bank, dan mas-mas penjual pasir toko galangan.

Sampai di ujung jalan bundaran, arah ke kampus ITS. Gue merasa kayak main petak umpet. Hasilnya tetap sama. Ndak ketemu sama sekali. Gue melihat jam sudah jam enam lebih limas belas menit. Mampus. Telat-telat. Menurut sekejul, mereka keluar jam enam pas. Gue kawatir aja kalo mereka pulang duluan, terus nyasar di tengah kota Surabaya. Tau-tau mereka di culik orang di jadi’in pengamen sambil bawa kemoceng di lampu merah. Pikiran gue mulai aneh-aneh.

Gue mengambil jalan pintas, puter balik langsung tanpa melewati bundaran jalan. Sumpah kalo ada Pak Polisi lalu-lintas, gue pasti langsung kena semprit, terus di tilang di tempat. Lalu di kasih denda bermodus dua pilihan, bayar 50 ribu, atau SIM-gue bakalan kena sitah. Tapi untunglah keadaan lagi beruntung banget, selamet-selamet. Ndak ada Pak Polisi lalu-lintas di pos pojokan sana. Setelah melewati pom bensin pertama. Tiba-tiba ada ide yang datang dari arah yang berlawanan. Gue berhenti di pinggir jalan.

Helm gue lepas sebentar. Bego!. Kenapa gue ndak pakek amplikasi Waze, petunjuk jalan?. Iyaaaaa ampunnn, baru kepikiran sekarang setelah muter-muter. Gue nyalain henpon genggam, terus membuka amplikasi canggih. Dengan cepat gue masukkan kata kunci penunjuk jalan, “Primagama-Mulyosari, Surabaya,”.

Iyap!. Sekitar dua menit berlalu, mesin GPS gue langsung menyala terang. Di sana tertulis, Primaga yang gue cari jaraknya tinggal setengah kilo meter lagi ke arah depan. Yes, berarti deket lagi sampek. Lengkap dengan rute jalan yang menyala dengan hiasan lampu petroma, plus durasi waktu perjalanan sekitar lima belas menit. Hah, deket banget ya?. Hih, bego deh. Kenapa baru kepikiran sekarang?. Ancen kok, lek wes panik kepala iso mendadak buntu kayak kesumbat artefak. Semua serba abstrak. Wedus tenan.

Begitu lima menit berjalan, mata gue nggak pernah lepas dari pandangan arah ruko sebelah kanan jalan. Setelah melewati beberapa rimbunan pohon, gue melihat papan baliho gede bertuliskan “Primagama 33 Tahun’ ngumpet di pojokan sendiri, di apit oleh restoran nge-hits dengan olahan masakan tipe junk food, asal dari negeri Barak Obama.

Gue menghela napas panjang setelah bisa memasuki palang pintu parkir. Lega. Di seberang sana, di depan ruko, si Dina yang berada di sebelah motornya, tangan kanannya beberapa kali melambungkan ke udara, bagai peyihir Gordon yang akan kedatangan Naga Hitam, sayup-syaup gue denger “Hoe…, abang-abang, aku di sini?”. Sedangkan si Sandra, duduk santai di atas motor kayak bapak gue yang lagi nunggu wedus piarannya ngelahirin.

Setelah gue sampai. Kakinya Dina menggelinjang hebat, sambil nyodorin layar bebe-nya di depan mukak gue, dia bilang dengan suara yang meriah, “Bang, ya ampun, alhamulillah, aku keterima di jurusan HUKUM Universitas Airlangga. Sumpah kayak lagi mimpi, bang!,” suaranya kenceng memecah keramaian pengunjung restoran di sebelah kami.

Dengan khas aksen jawa, gue jawab, “Tenan opo, sheh-shek tak melu moco?,” demi allah, gue masih enggak percaya.

“Sumpah, iki low wocoen dewe, bang?” tangannya masih memegang bebe gemini miliknya. Menggeser scrol naik turun. Sampai mata gue asli, melihat pemandangan menakjub kan di halaman web, secara resmi adek gue dinyatakan ‘Selamat Anda Di Nyatakan Lolos SNM PTN 2015,’ bahwa adek gue lolos peserta beasiswa bidik misi.

Gue tertegun hebat. Beberapa kali geleng-geleng kepala. Masih tidak yakin dengan kejadian ini. Pandangan gue langsung terlempar ke arah Sandra. Dia belum ngomong apa-apa. Gue mulai resah, jangan-jangan dia gak lolos. Mimik mukanya masih terlihat kosong. Seakan mau berbagi kemungkinn kabar buruk yang akan terjadi di menit-menit ini.

Dengan sangat konek, sebelum gue tanya tentang hasilnya, dia ngomong duluan ke gue, “Kartu pesertaku SNM-PTN ketinggalan di rumah lho bang, iya gak bisa ngecek hasilnya lah. Duh……., !,’

“Kalo nggak lolos, bagimana bang. Jangan marah ya?’ mimik mukanya mulai panik. Lalu berdiri di sebelah gue dengan sorot matanya yang mulai nanar.

Gue langsung spotan menjawab, “Ora-ora, kan masih ada jalur lain. Semangat dong, jagoan SMA 1 Panggul-Trenggalek,” gue berusaha menentramkan keadaan yang mulai nggak enak.

“Duh, kalo SBM PTN, kan itung-itunganku lemah, Bang. Terus piye ikih?.” karena takut entar pulang gak konsen nyetir di jalanan. Gue menawarkan ide, sambil menyodorkan sebuah henpon genggam, gue bilang. “Coba cek deh, login pakek bebe-ku, nyoh ki lo?”

“Nih, udah bisa ke bukak halaman web-nya, Bang. Kok gak ada tulisanya login-nya ya?” cuap Sandra dengan antusias.

Gue kaget, “Hah,” kata gue, “kok bisa ya, Dra. Aneh!.”

“Tetep gak bisa bang. Pakek bebe-nya Dina coba.” tanya gue memberi pilihan lagi.

“Sama bang, malah bebe-ku gak bisa di log-out, sinyalnya macet!’ jawab Dina di ikuti matanya yang melihat-lihat ke berbagai arah.

Gue mulai gusar. “Whes-whes-whes.…, tenang-tenang. Santai-santai!,”

Pandangan kami masih tertuju pada layar ponsel. Beberapa kali menggeser scrol mencari menu login, hasilnya tetap nggak ada. Gue mikir keras. Sampai-sampai gue mulai gerah dengan situasi ini. Di tengah-tengah segela keterbatasan dan keadaan yang mulai di racuni oleh kepanikan. Mata gue terlempar kesana-kemari. Mencari kemungkinan pertolongan yang bisa membantu.

“Aha, aku duwe ide, coba ke kasir mbak-mbak di primaga yuk, kan ada meja komputernya yang bisa di pinjam. Kita login dari sana, Dra,” kata gue sambil menunjuk mbak-mbak kasir yang terlihat dari arah luar karena hanya tersekat oleh kaca transparan.

Dina nyeletuk dengan tiba-tiba, “Ide bagus, bang, Ayooo cepeet…..” ucapnya lalu dia ngibirit duluan masuk lagi ke kantor Primagama.

Begitu gue rundingan hangat dengan mbak-mbak kasir, tentang maksud kedatangan kami kemari. Dia pun dengan tatapan yang ramah, mempersilahkan kami meminjam komputernya. “Sini aku bantu, mas? Web-nya SNM-PTN 2015 kan?”

Kami pun kompak berdiri di depan meja kasir, gue pun manggut-mnggut. “Ehm…, iya Mbak!’

Setelah memasukan nomer peserta yang di minta dari Sandra, sekaligus memasukan pasword berupa tanggal, bulan dan tahun kelahiran Si Sandra. Mbak kasir ini, dengan sigap menggeser kursor yang ada di tangan kanannya ke arah menu login. Cukup dengan satu sentuhan jari telunjuk, satu kali klik. Beberapa menit kemudian halaman utama terbuka dengan sempurna.

Dengan pelan, kami kompak membaca pemberitahuan keren, “Selamat Anda Lolos Peserta SNMP PTN jurusan Psikologi Universitas Negeri Surabaya.”

setelah belajar jadi kayak pecahan kapal

setelah belajar jadi kayak pecahan kapal

Seketika itu, gue langsung syujud syukur di lantai depan meja kasir. Ingatan gue berjalan sendirian mundur beberapa bulan yang lalu, ketika gue harus berburu berbagai buku yang di pesan mereka berdua selama satu tahun ini. Lalu gue kirim via post Indonesia. Belum lagi, sewaktu gue harus wara-wiri pulang kampung membawakannya buku kudapan yang akan mereka lahap dengan rasa lapar. Seusai gue syujud syukur, Sandra dan Dina meloncat-loncat kecil penuh kebahagia’an.

Gue mencetuskan kalimat sakti, bagaikan penyihir yang meruntuhkan berhala, “Udah jangan sampai yuforia berlebihan, senggaknya dengan jurusan ini, kamu pada ngerti kan bidang apa yang hendak kamu geluti sejak muda. Kesuksesan bakal datang dengan sendirinya dari apa yang kita tekuni dari sekarang,” ucap gue memberi petuah sebagai kakak nomer-3.

Mereka mengangguk kompak layaknya saudara kembar. “Beres bos!” padahal kenyata’an-nya memang bukan saudara kembar.

###

NB: terimakasih banyak untuk mantan guru saya tercinta di SMA N 1 Panggul-Trenggalek, mulai dari Ibu Muji, Pak Ribut, Pak Sulam, Mau pun guru-guru yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saking banyaknya, dan keterpasatan #noted kecil ini. Terimaksih, telah melahirkan siswa berprestasi seperti kedua adek-adek saya, maupun adik-adik yang lain (yang juga sekaligus adek kelas saya yang berbeda beberapa tahun). Mungkin setelah kebijakan pemerintah bergeser, kesenanagan guru-guru tidak lagi melihat siswanya LULUS UN, tapi melihat seberapa banyak siswanya bisa masuk kampus negeri dengan jalur prestasi seperti bidikmisi. Salam sungkem dari mantan anak didikmu yang dulu pernah mbeling.

Budi Santoso (Bang Cupuh)

Surabaya, 10 Mey 2015

 

Iklan

20 respons untuk ‘Dua Jagoan Yang Menembus Bidikmisi

  1. azizatoen berkata:

    Waaa jadi inget setahun lalu, saya juga diterima snmptn, benar-benar bahagia yang paling bahagia bang, nyampe sujud syukur, nangis, diketawain bapak wkwk 😀

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Tujuannn reaaalllll knapa noted ini lahir. Adalah untuk mengeneng masa-masa kejayaaaann zaman mudaaa kitaaa. Aslinyaaa, aku jgaaa masih mudaaaa. *muhahahaaa

  2. nana berkata:

    Alhamdulilahh..memang kerja keras tuh tidak akan mengkhianati. Semoga lancar ya adeknyaa. Ingatt perjalanan masih panjaaangg

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s