Kentongan Cabai di Tengah Malam

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Selamat datang ramadhan, berulang kali menjelang magrip gue berdiri di balkon lantai dua, dekat jemuran. Gue menghembuskan napas panjang saat setelah, mendengar suara adzan magrip tiba, lalu perasaan lega tiba seiring datangnya suara kentongan dan gebukan beduk, yang kemudian di susul buka puasa bareng keluarga kecil abang gue. Baru semenit ngebasahi tenggorokan, gue trenyuh, “Kapan ya terakhir kali, awal puasa, gue buka bersama bareng bapak dan ibu di rumah sana!”.

Lalu gue meletakkan segelas sirup marjan yang masih separuh, ke atas meja lagi. Awal-awal puasa, minuman semanis apa pun, terasa hambar. Enggak, enggak, bukan’nya gue bedebah, dan gak mau mensyukuri nikmat yang ada. Tapi.., terasa ada yang kurang saat harus di jalani, sampai-sampai membuat kepala gue tercenung. Terus mikir, ‘Apa ya?’. 

Tiap ramadhan yang datang, selalu ada yang beda dari ramadhan tahun sebelumnya. Kenangan baru mulai menumpuk, menggeser kenangan lama yang semakin terabaikan. Lalu ada yang datang dari masa lalu, yang meminta untuk di kenang kembali. Beberapa keping mozaik kisah sejarah, meminta untuk di daur ulang. Persis di depan mata gue, moment masa-masa kecil itu, bergelantungan meminta untuk di lihat kembali….,

Tidak sengaja, ingatan gue terlempar mundur ke belakang, sepuluh tahun yang lalu dari sekarang. Sekitar lima belas menit, sesaat sholat taraweh di masjid Al-Huda komplek rumah, yang hampir selesai — gue yang waktu itu masih di panggil Ateng, oleh ke dua sahabat dekat yang punya nama panggilan, Badron dan Radiator — makan pentol caos rame-rame di kedainya Pak Markop. Badron yang biasanya punya duwit gede buat jajan, karena hasil dari honornya sebagai tenaga lepas di cucian mobil, mampu membeli pentol caos dua porsi sekaligus…,

Sementara Radiator, yang uang jajan’nya cuma seadanya, memasang muka memelas, sambil mulutnya mangap segede kingkong lagi kena busung lapar, dia sedang mendekat ke arah Badron. Hanya butuh satu kali kedipan mata, dan anggukan kepala ke atas, Badron mampu menangkap apa yang di maksud, “Nyoh, ki low, titik aeh ale nyokot ojo okeh-okeh, Tor!, ’ Ucap Badron memberi peringatan, saat Radiator mengigit pelastik bungkusan pentol caos.

Setelah mengigit dengan muka yang sumringah, Radiator menjawab, “Uwes iki loh, Dron. Tahu dua, pentol dua,” katanya yang di ikuti gerakan rahangnya yang berputar-putar, mengunyah makanan, “Enak-enak,’

Badron melihat ke arah gue, dia menyodorkan pentol caos itu, persis di depan muka gue, “Arep ora Teng, mumpung isek okeh ki lo?.” tanya Badron, menawari gue.

Gue menelan ludah, saat melihat ujung plastik bekas gigitan Radiator tadi, yang berlumuran caos dan sedikit busa hasil dari campuran air liur mereka berdua. Gue mulai ngomong sambil bergidik, “Hihh, ora-ora,’ saut gue, sambil mengusap-ngusap perut, “Isek warek cah, emoh aku, lagiyan aku abis buka, terus mau gasak kolak pisang semangkok. Warek-warek.!’ aku gue apa adanya.

Badron masih mengunyah dengan lahap, sedangkan Radiator wajahnya tegang mencureng, mulutnya kelametan yang di ikuti leher tenggorokannya,, kayak bergerak naik turun, dan…, air liurnya muncrat kemana-mana, seolah-olah Raditor ngomong dalam hati, ‘Ayolah dikit aja pentolnya Dron, dikit tolnya,”

Gue berjalan ke arah sepedah mini, sambil ngeloyor gue bilang, “Iso-iso aku makan bekas gigitanmu, mulutku kenek TITANUS TOR,” jawab gue sambil ngibrit mancal sepedah.

“ENTEN TOENG’ Ucap Badron, “WOooo, Oh, bocah setan alas,” balas Radiator sewot.

Di tengah jalan raya yang sepi, kami main sepedahan sambil tendang-tendangan ban belakang, siapa yang rantai sepedahnya les duluan, dia yang kalah, dan harus di hukum untuk mencuri jambu air di depan rumahnya Pak Moden, dan yang menang berperan sebagai penadah, sayangnya wajah melas Radiator selalu sejalan dengan nasip buruknya. Cukup satu kali tendangan kaki kanannya Badron dari arah belakang, membuat rantai sepedahnya Radiator menjutai indah ke aspalan…, lalu dia berhenti di tengah jalan, terus di teriak, ‘Aaarrrrgggg, ranteku pedot, tai opo DRON, BADRON!”

Malam semakin larut.

Seperti perut yang tidak pernah kenyang, seperti kesempatan yang datang bersama sepinya keadaan. Kami sudah mengendap-ngendap di bawah pohon jambu, lengkap dengan kostum ninja pada masa itu: menutup muka dengan sarung, lalu bagian mata di buka sedikit untuk bisa mengintip. Yang kalo di lihat dari kejauhan, mirip seperti mas-mas jaga di pos ronda. Radiator tidak segera naik ke pohon, dia malah melipir ke samping rumah Pak Moden, lalu menghilang di kegelapan malam, gue negur dengan pelan, “Juuuuh, Tor, selak konangan, ojo rame-rame, ASU!’

Dia tidak menggubris omongan gue. Badron kesal, terus melempar Radiator pakek jambu bekas gigitan kelelawar malam, yang, orang di desa kami menyebutnya, Combre. Setelah keluar dari ruang kegelapan, dia membawa tongkat panjang berbentuk bambu kering, giginya yang putih terlihat terang, lalu ngomong, “Lha nyapo kudu menek barang, wong wes di sediakne, genter. Lah, mendo kabeh kowe-kowe iki.” ucapnya cerdas, sambil melepas topeng sarungnya.

“Oh, bocah moto combre!’ saut Badron.

“Pinter kowe tor, jajale lek seng kalah ki mau Badron, mesti wes langsung menek koyo bedes,” ucap gue.

Badron merengut. Sementara Radiator nyeletuk dengan entengnya, “Iyo, wong utek’ke telo ora iso gawe mikir,” lalu dia tertawa lepas, sambil gulung-gulung di atas aspalan yang sebersih lantai ubin mushola. Ho’oh, jambu di depan rumahnya Pak Moden berada di pinggir jalan raya. Malam itu, kami pesta makan buah gratisan. Cukup nikmat rasa buah, yang di dapat dari usaha penuh perjuangan.

Buat yang hidup di zaman itu, pasti ngerti, beginilah cara kami bermain sepanjang malam pada sebuah desa. Bocah-bocah se-usia kami, bebas berkeliaran dimana saja, biasanya mereka main bergerombol dan punya base kem masing-masing di mana mereka harus menghabiskan waktu sepanjang malam, hingga puncaknya, untuk kegiatan ronda malam, berjalan di sepanjang jalan sambil membawa kentongan cabe, memukul gentong, dan rantang piknik, membentuk musik tradisional yang kami sebut, “tetek!’

Enggak ada peraturan secara tertulis jam berapa tetek harus di mulai, tapi biasanya anak-anak dusun sebelah, pada mulai jam satu dini hari. Entah kesambet apaan, malam itu kami jam dua belas, kompak, mulai main gebuk alat-alat musik yang seadanya, lalu Kodlong anaknya Pak Dalang dan Penyo anaknya Pak Panjak, dari tetangga belakang rumah, main nimbruk sambil membawa peralatan gamelan, kenong dan jedor. Kami berkumpul pada pada satu titik, di sebelah pemandian umum.

Tanpa ada yang di tunjuk sebagai dirijen, semua personil tetekan peka banget berapa kali mereka harus menabuh alat musik yang di pegangnya, masing-masing. Biasanya yang pegang kendali nada utamanya, adalah penggebuk jedor. Baru di susul, alat-alat cemen lain, kayak kentongan cabe yang gue bawa. Setelah kami saling pandang, dan ngelemar kode untuk mulai, tangan kami seolah piawai memukul alat musik yang berirama dengan rapi. Akhirnya musik yang di hasilkan pun, kayak suara musik Reog Ponorogo.

Dahsyat.

Biasanya kami main tetekan, berjalan sepanjang jalan raya ngalor-ngidul berulan-ulang sampai batas wilayah antar dusun. Sekitar tiga puluh menitan berlalu, kami beristirahat sejenak, ngemper di aspalan depan sekolah SD kami. Seperti biasanya, mata combre Radiator peka banget nangkap buah-buahan yang lagi ranum, karena pasa masa itu, lagi musim buah. Alat teteknya yang sejenis rantang piknik, dia gunakan untuk wadah anggur hijau yang dia petik dari pekarangan rumah milik Pak Carek.

Sambil lesehan, kami mengamati aksi Radiator menjarah kebun tetangga, itu-itung kalo udah kelar, kita bisa makan rame-rame. Badron, yang duduk di sebelah gue, ngedukung penuh, “Terus, Tor, terus, seng okeh sisan!’ gue, manggut-manggut setuju, yang di susul acungan jempol oleh Kodlong dan Penyo, “Pinter kowe Tor, pinter, lanjutkan’ ucap mereka kompak. Dari jalan ujung seberang sana — tempat kantor kelurahan bermarkas — datanglah seorang bapak-bapak kepalanya di tutup sarung, berjalan ke arah kami.

Kami pun menduganya hanya orang lewat.

Setelah semakin dekat, sekitar lima meter dari arah kami, orang lewat tadi melepaskan sarungnya. Lalu teriak dengan suara geraman, plus penampakan mukanya yang kesal, “Errrrmmm.., sontoloyo tenan, sopo seng akon tetek, jam 12 he, SOPO-SOPO?. Endi iki ketuane…?’ ucapnya memaki-maki, lalu jalannya semakin mendekat ke arah Radiator.

Setelah wajah gelapnya tersorot lampu jalan, Kodlong yang berbadan tinggi kekar, berotot gede, berdiri dengan gagah berani. Seakan-akan ngajakin ribut, untuk membuat peritungan: duel siji lawan siji. Tapi kenyataan’nya berbeda, dia pun memberi aba-aba kepada yang masih lesehan, “Cuah, melayu cuah, kui Kason kelurahan, ketangkap iso di sidang nek kantor kelurahan sesok.”

“Aahhhhhhhh,…. AHHHHH… ” gue lari, kenceng sambil nutupin mukak pakek sarung.

Kodlong dan Penyo sudah lari jauh ke depan, sambil memikul alat gamelannya, “Kason ghatoooeeeel,’ ucap penyo mengumpat kesal. Badron, berada satu langkah di depan gue, meninggalkan gentong air milik emaknya begitu saja.

“Wes to melayuo, melayuo, aku hapal karo wajahmu kabeh,” ucapnya kenceng, yang tanpa sempat gue menoleh ke belakang lagi, di susul teriakan Radiator,

“MAKKKKKKK, TULONG MAKKKKK,’ teriaknya mengusik ketenangan malam. Bahwa, Radiator ketangkap seorang diri.

Setelah kejadian dini hari itu, gue masih teraweh di masjid dekat rumah, tetapi gue udah gak pernah bertegur sapa lagi sama Radiator. Setiap kali gue mau negur Radiator, dia tetap diam. Seolah-olah kami tidak saling kenal lagi. Saat hendak berjalan pulang, selepas memakai sendal. Di sebelahnya, seorang bapak kandung mendampinginya. Lalu menggendongnya sambil meletakan sebuah peci di atas kepalanya.

Saat itu gue mulai terlihat jelas, hubungan pertemanan kami tidak sedekat dulu. Di masjid, gue masih sering ngobrol dengan Bandron, tetapi, berawal dari sini, gue merasa ada yang kurang dari malam itu. Radiator hilang beserta alat musik rantang pikniknya, sepi. Seperti itulah rasanya di tinggal sahabat. Kita ada karena saling melengkapi. Lalu gue dan Badron, main bersepeda lagi ke tempat seperti biasanya, dengan rasa yang berbeda.

#silahkan klik Puisi Untuk Ramdhan

Iklan

14 respons untuk ‘Kentongan Cabai di Tengah Malam

  1. ichasyahfa berkata:

    Lumayan bikin ngakak, Bang, walaupun aku agak2 gak ngerti di bagian dialognya hehe. Bercerita ttg sahabat memang seru ya, Bang. Btw, selamat berpuasa, Bang Cup(uh)! 😊

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Ya kan, bahasa jawa dialognya, maaf kalo susah bacanya. 😦 klo di kampung halamanmu anak-anak ngisi waktu malam, ngapain aja?.
      Gimana soundcloud guwe?.
      Iya, makasih, marhaban ya ramadhan jugaa buat kamu.

      • ichasyahfa berkata:

        Iya tapi kalo bahasa Jawa orang Medan aku ngerti dikit2 😀 Aku gak tau di daerah lain Bang, tapi kalo di sekitar rumahku gak pernah dgr lagi anak2 yg rame2 bangunin sahur gitu. Ttg soundcloud sorry Bang internetku lg lemot gak muter2 dr td hihi.

  2. Gara berkata:

    Rasanya saya seperti ikutan jadi anak-anak yang kabur itu, merasakan bagaimana suasana bulan puasa saat dirimu kecil dulu, Mas. Banyak kenangan, semua indah meski kadang ada yang rada menyebalkan, tapi ini khas banget kerjaan anak-anak SD yang masih bermain-main saja tanpa berpikir banyak mengenai dosa, karena yang penting kan tawa bahagia :hehe.

    Tapi kalau ada yang berubah, maka tentu semua tak akan sama seperti dulu. Ketika seorang yang dulu biasa ada sebagai teman rangkulan sahabat perlahan bergerak menjauh dan yang tersisa sungkan untuk bersama karena takut menyakiti hati karena masing-masing mengingat yang tiada, saya kayaknya bisa mengerti bagaimana rasanya. Ngomong-ngomong, bagaimana si Radiator sekarang? Apa kalian bertiga benar-benar lost contact setelah itu?

    • Bang Cup(uh) berkata:

      Gar, elo paham dialog bahasa jawa dalam cerita ini gak?.

      rata-rata anak jawa (mungkin juga senusantara), punya pengalaman besik yang sama, jika mereka lahir di desa.

      Radiator, toh, masih… masih kontak.
      kita tetanggan. hanya saja sekarang pisah karena… ya lagi-lagiiiiii….. pisah karena tuntutan masa depan, masing-masing…., dan Badron sama Radiator, gak pernah sekolah sampek SMA. dia lulus SMA….. langsung kerja.

      • Gara berkata:

        Beberapa paham, beberapa saya skip karena tidak mengerti :haha.
        Syukurlah kalau masih kontak, kan teman lama bagai emas :hehe.

  3. kekekenanga berkata:

    opo tohh percakapannya… nggak mudeng 😦
    Intinya yah kebahagiaan tanpa beban di masa kecil mmng selalu menjadi cerita yang dirindukan 🙂

    Belum bisa denger puisinya euyyy 😦

    • Bang Cup(uh) berkata:

      gue kira bakal banyak yang paham dialog bahasa jawanya, tapi, malah sebaliknya. Sedih.

      Terus aku kudu piye?.
      Okeh..okeh…., gue akan berbenah.
      Pakek paketanya yang kenceng dong. *Nih pakek sinyal wifi gue.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s