Desa Bersahaja itu Bernama Kendal

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Wejangan itu hampir betul-betul terjadi di depan mata. Ada temanku yang juga seniman, bilang begini belum lama ini di sebuah pesan wasap.., ‘Pergi merantau, sewaktu belum punya apa-apa, kita sibuk mengabiskan waktu untuk mencari duwit. Nah, pas sudah punya apa-apa, giliran malah kita yang merasa kerepotan karena tidak punya waktu buat merdeka. Lalu sebenarnya apa, yang kita cari?’

Dengan mencocokan jadwal di tengah kesibukan jam kerja yang berbeda. Belum lama ini, aahh, Tuhan Maha Pemurah, kita berempat pergi juga ke sebuah desa yang berada di balik tangggul sungai bengawan solo. Padahal sebelum-sebelumnya, selama sebulan lebih agenda ini gatot. Macem-macem, Alex sebagai tuan rumah, di kesempatan pertama mengirim pesan pendek, “Sorry, yai, aku minggu ini gak bisa, karena kena giliranku, jam piket di kantor,’

Giliran berikutnya, aku yang menolak jadwal yang di usulkan oleh tuan rumah. “Jangan, minggu ini lah, Lex, aku akhir bulan banyak kerjaan. Piye?’ Pido jadwalnya masih kondisional, jika tidak ada jadwal operasi luar kota, dia gampang setujunya. Teman yang satunya lagi, Mas fatik, tinggal tukar jadwal sift jam kerja sama temannya, berangkat hari apa saja, gak ada masalah. Yang paling gampang, Mas Poniman, dia angka ikut.

Dulu dan sekarang. Untuk yang bekerja secara formal, hal semacam ini menjadi lumrah adanya. Berbanding terbalik dengan orang-orang di desa yang merdeka secara penuh atas waktu yang di milikinya. Ikatan-ikatan atas waktu dan keseragaman yang sama, hanya di temukan ketika merantau ke kota. Orang-orang yang serba mekanik: berangkat pagi — pulang sore.

Padahal internet itu menghubungkan, kerja berkantor di rumah pun, kalau mau bisa saja. Wong apa-apa, sekarang serba online. Tugas Pak Pos yang berkirim surat pun, sudah sejak lama digantikan dengan e-mail. Kepadatan jam yang kadang supersibuk, membuat orang-orang rindu akan hari yang tenang. Kami anak-anak desa yang eksodus ke kota, bisa jadi merasakan hal yang sama, ‘Inilah indahnya perantauan, nikmatnya menemukan sensai baru, untuk lebih tahu, kemana hidup ini di arahkan?’

Rutinitas yang sangat mekanik itu, yang membuat Alex, menawarkan pilihan kepada kami untuk mengunjungi desanya. Apa lagi kalau bukan maksud, untuk menyingkir sejenak dari ibu kota, Surabaya. Kita sama-sama anak desa, empat orang, Aku, Pido, Poniman berasal dari satu atap yang sama: Panggul. Dan Alex, dari desa Kendal, dan satu lagi, Mas Fatik anak kota Surabaya asli, yang punya cita-cita untuk mentap di desa.

Mungkin karena gara-gara belum lama ini, dia kena pengaruh setelah kami ajak sowan ke Panggul. Bisa jadi, kenyamanan tentang hidup di dessa, belum bisa hengkang dari benaknya. Dan tiba waktunya, giliran Alex yang mengenalkan ke kami, tentang desa tanah kelahirannya, desa kendal. Nyerempet-nyerempet, boleh jadi ini bisa juga lo di sebut mudik, meski pun dalam nuansa hari libur. Karena kepulangan sementara ini di sambut oleh keluarga kecilnya di kampung.

Bagi yang belum tahu, topografi wajahnya kotanya sama seperti kota Trenggalek. Sebelum masuk jauh ke desanya, kita harus melewati kota Lamongan. Kota yang di Surabaya justru terkenal dengan soto lamongannya itu, di jalan-jalan besar, justru kami di sambut dengan makanan asli daerah itu. Sepanjang jalan, ada mbok-mbok penjual nasi gendong yang menggunakan wakul… kurang tahu, kalo di Lamongan apa iya di sebut wakul brudol?

“Ini, yang sampean maksud sego boran, lex?’ tanya ku mewakili rombongan setelah memarkir kendaraan di jalan besar.

“Bener-bener, yow iki makanan khas yang kemarin aku ceritain, syuu!.’ aksen aslinya lumayan medok, lalu bilang lagi,’ Monggo di pesan, kang. Mangano sak warekmu. Pokoke asal perutmu kuat, hajar aeh,’ tambahnya lagi dengan jiwa kebapak-bapakan.

Pido tak kalah sumringan, perutnya yang kelaparan sepanjang berkendara dari surabaya, langsung nyerocos di depan mbok-mbok penjualnya, ‘Pesen, lima bungkus, bulek. Ini ikannya opo wae toh?’

“Iwak kali, Mas. Sama ikan tambak. Opo wae enek…,’ jawabnya, sambil tangan’nya membuat beberapa pincukan, yang alasnya menggunakan daun pisang. Bau lauk pauknya yang gurih itu sungguh menggoda, dan nasinya yang harum, cukup untuk memperhebat selera makan kami.

Sampai-sampai, Mas Poniman yang badannya kekar kayak atlit binaraga angkat semen, napsu makan’nya mendadak kayak orang kena busung lapar. “Yow iki, mantep loh woek. Enak tenan iki koyoke.’ katanya sambil duduk lesehan.

Sementara aku mengamati hal-hal yang terjadi di sekitar kami, sambil menenteng kamera. Semua terjadi begitu mekanik, nasi pincukan berpiring daun pisang itu, sudah siap untuk di santap. Kami duduk menghadap jalan raya, sambil makan dengan bersanding minuman es teh dalam kemasan jumbo. ‘Podo haus toh kabeh?. Ikiii es tehnya. Satu-satu..,’ Mas Fatik mengeluarkan minuman dari dalam teremos milik mbok-mbok penjual nasi boran.

Ingatan lama itu pulih kembali. Adegan-adegan spontanitas ini, sudah seperti keluarga kecil yang di pertemukan karena perantauan. Baru sadar, ternyata rombongan ini di kelilingi anak-anak muda yang telah di tinggal seorang bapaknya pergi menghadap sang khalik. Kebersamaan yang penuh makna hidup, dibalik sederhananya penjual nasi boran yang mejual daganganya di depan restoran cepat saji, pembeli makanan ini masih terus datang dan pergi. Kami lebih memilih tempat yang apa adanya. Mengikuti denyut kebersahajaan.

Dari pusat kota, desa ini masih cukup lama di tempuh. Satu jam penuh untuk bisa sampai ke sana. Sepanjang perjalanan, panorama mengagumkan di kiri dan kanan, menawarkan hamparan tanah lapang yang berbagi dengan petak tenah, lokasi tambak, dan pohon-pohon yang masih rimbun. Untuk orang-orang kota yang hidup di masa sekarang, beginilah cara kami merayakan kehidupan. Berkunjung ke desa, adalah wisata yang seungguhnya.

Jalan raya yang berlubang, membuat aku dan Pido, terus mengumpat karena protes dengan pertanggung jawaban atas uang pajak yang selama ini kami bayar ke pemerintah. Bagi yang belum paham tentang, umpatan, biasanya IQ-nya agak anu-anu banget, langsung nge-judge, anarki. Misuh-misuh, jancuk, sudah seperti membela kebenaran atas bolongnya jalan yang kami lalui. Tapi rasa kesal itu, sirna setelah kami masuk gapuro desa di mana Alex di lahirkan.

Semakin ke dalam, jalanan semakin menyempit. Kendaraan yang lalu-lalang semakin jarang terlihat. Tambak-tambak yang kami lalui, sudah berganti menjadi hamparan sawah-sawah dengan padi yang menua. Yang sudah siap, memasuki masa panen tiba. Hati semakin penasaran, seperti apa wajah asli desa ini, apakah sama seperti desa kami di Panggul?. Ah, nampaknya tidak sama sekali. Kami seperti tertarik di waktu 90-an.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Saat kami melewati jalanan setapak yang sudah mengelupas rabatan’nya itu, kepulan asap dari pembakaran damen kering menampar hidung kami. Bertubi-tubi, angin malamlah yang membawa asap nikmat itu pergi menjauh. Ooh.. tuhan, nikmat betul baunya, sudah lama kami gak menghirup bau asap damen bakar seperti ini. Rumah-rumah penduduk, masih ada sebagian yang dindingnya yang menggunakan anyaman bambu. Tapi mereka kaya, gabah kering bersak-sak menumpuk di teras depan rumah. Jika petani ini tidak melepaskan hasil panennya dibawa kota, bisa-bisa banyak orang yang kelaparan..

Setelah selesai melewati perkebunan pisang di pinggir tanggul sungai bengawan solo. Kami serombongan tiba di rumah Alex. Iyah, rumah itu memang dibelakang tanggul sungai bangawan solo. Rumah megah berpagar ke’emasan — yang sudah gak niat warnanya itu, sesekali hanya di huni oleh saudara dari almarhum bapaknya. Penghuni tetapnya, hanya burung gereja yang membangun sarang di sela-sela lampu hias ruang tamu.

Kami masih berhenti sejenak di halaman rumahnya. Menikmati suasana desa yang masih alami. Mata memandang lahan kosong ke bebera sudut area rumah ini, gak ada bangunan rumah penduduk yang semrawut. Yang ada, di telinga kami mendengar jangkrik ngerik. Entah datang dari mana nyanyian alam ini berasal. Hineng sekali.

‘Weh-weh…. lah… malah podo bengong. Monggo, masuk kang. Woe?’ ucapnya mempersilahkan kami untuk segera masuk ke dalam rumah, “Yowes ngene iki rumahku, gak bagus-bagus banget, loh. Tapi semoga sampean-sampean semua kerasan, yoh?’

‘Shek-shek… bentar, yai.’ Begitu aku sering memanggilnya — anak moderat yang suka mengagumi sosok emha aninun najib, ini. ‘Owalah, itu gunung yang ada di ava twitermu?. Sampean yo, foto nek kono kuwi?’ tanyaku sambil menunjuk ke arah, tempat yang aku maksud.

Alek manggut-manggut sambil menyunggingkan senyum, belum sempat menjawab, Mas Poniman yang doyan melekan sejak zaman SMA, melontarkan pertanyaan bernada ajakan. ‘Ono tempat ngopi ora, nek kene lek?’

“Lah opo di sebelahmu itu, Mas. Banyak orang main gaple. Itu tempat ngopinya. Nanti malam saja kita ngopi. Sekarang ndang kabeh podo istirahat.‘ lantas pandangan kami kompak melihat warga setempat sedang asyik main gaple bareng-bareng duduk di atas amben – sejenis tempat lesehan dari anyaman bambu. Yang kalah, dari atas ke bawah, lengannya di jepit pake jepitan jemuran. Aku jadi inget, di twitter Alex belum lama ini, memposting foto amben, dengan kalimat syurgawi, “Sudah berapa lama, sampean ndak ngopi di tempat kayak gini?’

Ingatan lama itu hidup lagi dengan tempat yang berbeda. Kenangan hidup yang pernah ada di dusun itu, sukar digusur dari benak yang pernah mengalaminya. Orang-orang yang berkumpul asyik main gaple barusan, gambaran kecil tentang atas waktu untuk hidup meredeka. Cerita mereka hidup neriman, jauh dari gelamornya hidup di kota yang serba bergegas, serba supersibuk. Apa artinya punya uang tanpa punya banyak waktu?’

Iklan

8 respons untuk ‘Desa Bersahaja itu Bernama Kendal

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s