Ada Apa Dengan Jogja?

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Tidak ada hujan malam itu. Warung lesehan dengan menu legendaris: susu jahe, sudah berwujud menjadi zat adiktif. Jejaka-jejaka yang ber-eksodus dari desa, yang berjumlah empat orang, masih suka duduk lesehan di Jalan Air Langga. Kami duduk melingkar, beralas seadanya memakai tikar. Jangan salah sangka dulu, kami bukan mahasiswa, makanya lebih suka ‘bersemedi’ di depan pagar. Bukan mau berorasi, masing-masing saling bertutur ala maiyah, yang jadi guru, ya, pengalamannya masing-masing.

Situasi perantauan, kadang membuat kami harus menyamar sebagai orang tua dadakan. Raga masih berpenampilan anak muda, tapi isi kepala sudah kayak ‘bapak-bapak’. Dongeng malam itu, di antara kami.., ada yang sedang butuh bimbingan dan pedoman. Malam belum terlalu gelap, tapi tidak untuk hati seseorang yang masih rawan terhadap pencurian kejahatan kenangan. Tuhan Maha Mengatur, di antara kami, dua di antaranya, baik Pido dan Alex bapaknya lebih dulu berjumpa dengan Sang Khalik.

Tapi kehilangan membuat hati bisa melawan ketakutannya sendiri.

Detik terasa lambat. Secangki kopi di depan kami juga belum begitu dingin, dan mengering. Ada apa dengan Jogja?. Sepasang anak manusia, dua pekan yang lalu berangkat dengan kereta api malam. Tiada hal aneh yang menyertainya, keadaan keduanya masih baik-baik saja. Pulangnya, di antara kami yang menunggu di Surabaya, menerima kado dengan jajanan pasar, Bak Pia Patok. Buah tangan yang enak itu, kami terima di tempat yang sama seperti malam ini. Namun sialnya, enaknya kenangan manis di Jogja, sudah berubah rasa menjadi pahit.

Alek mungkin laki-laki yang ke sekian kali yang berhasil di taklukan olehnya. Dan.., tapi untungnya gagal di pecundangi, oleh mahkluk cenayang yang satu itu. Pantes saja, malam ini, semua yang hadir di depan kampus B unair, memberikan selamat. Sekaligus berjabat tangan dengannya. Pertanda dia berhasil lepas dari jeraratan goda’an-goda’an. Ini bukan cerita Ada Apa Dengan Cinta versi 2. Tapi semua tertegun, hampir-hampir mirip jalan ceritanya. Aduh Lex, kowe kelihatan coll, karena caramu menjaga perempuan mirip dengan Rangga[teng].

“Wah…, selamat yo Su. Kamu lulus ujian.’ Ungkapku seraya ikut bangga. Lalu bergantian. Mas Agus gak kalah rame, duduk di depanku, dengan tatapan yang tajam, terus nyerocos. “Kowe ke Jogja, bawa dia ke sana. Tapi pulangnya masih utuh Lek?. Weh.., weh.., iso ngontrol tenan kowe!’

Alek masih mendengarkan dengan gayanya yang santai. Dia tebar senyum ke segala penjuru mata angin. Jika ada perempuan sedang sakit jiwa lewat di depan kami, mungkin bakalan terpesona dengan tampangnya Alex yang gagal menjadi mas-mas plaboy.

Pido sebagai laki-laki yang pembawaan’nya kalem, cukup dengan satu tanggapan yang muncul. “Sampean memang ra bakat jadi cowok urakan, Cuk. Ra cocok jadi PNS..!’

Wajahnya Alex masih senyum-senyum.., entah senyum lantaran pikirannya masih berjalan sendirian dengan kenangan.., entah senyum bangga karena hatinya sudah baik-baik saja. Mencurigakan. “Ah, matur nuhun, yai!’ katanya, dia tersenyum kembali, “Terus terang, aku gak pingin memulainya dengan cara yang salah. “ Dia geleng-geleng kepala, “Itu prinsipku. Ah…, ndak rugi, aku pulang kerja tadi langsung kumpul di sini….’

Secangkir kopi yang tertutup lepek keramik masih belum juga dingin, dan obrolan malam ini menciptakan suasana yang hangat. Untung saja, kami enggak sama-sama saling berangkulan dan berpelukan, karena jaim yang seperti ini, jika ini terjadi. Astaga, aku gak bisa bayangin, bakal kena cap gerombolan laki-laki trans-gender, dari para pemakai jalan. Dengan sangat spontan, aku berkomentar dari apa yang di jalani selama ini.

“Bisa jadi kuwi Lex. Dia…, ehm…,dugaanku. Cowoknya yang sekarang, bisa kasih apa yang gak bisa kamu kasih. Makanya cewekmu pergi mendadak. Piye..?’

“Wuih, omonganmu ada pentingnya juga di dengerin, yai?” Alex menyaut begitu saja.

Muka ku melengos memandang jalan raya, lalu berkata, “Ho…, ancen, assuuu…., sampean Lex.’

Selera humor mereka luamayan tinggi. Semua tertawa lepas di antara benang cerita yang kusut. Mereka tahu, bahwa, bukan nada umpatannya yang bernada anarki yang perlu di caci maki. Tapi…, mengulang kembali.., letak penyampaian dan ketulusannya. Niatnya hanya sebagai penghibur atas cerita aneh, yang perlu kita tertawakan bersama-sama. Mudah sekali bahagia, segampang inilah, cara kami menikmati hidup dan merayakan sebuah pencapaian.

Hujan belum juga turun. Dan kami masih bersandar di depan pagar besi tua yang belum berkarat. Alex kembali menyampaikan cerita-ceritanya, dua bulan ini banyak pengalaman seru yang dia dapat. Tentang se-seorang perempuan yang dia yakini sepenuh hati, untuk hidup bersama sepanjang hayat. Tapi drama Yang Maha Kuasa punya rencana lain. Detik ini, perempuan itu telah menjadi orang lain. Seorang wajah yang pergi, yang tidak di kenal lagi di kemudian hari.

Pido memegang secangkir susu jahe di depannya, sebelum sampai di depan mulutnya, dia bilang sejenak, “Kelihatane.., ini cara gusti allah, melindungi sampean Lek. Cuman jalannya aja yang berbelok-belok..,” dia ngejelasin sambil seolah-olah sedang menjabarkan sebuah rute dalam peta.

Aku pun menambahkan, “Sepertinya ini ‘pagar’ yo, kang?” aku memancing rangsangan dengan pendekatan ilmu filsafat.

Mas Agus sebagai anak muda moderat, nyambung dengan konsep ini. “Wah… apik iki. Coba penjelasane piye…?’

Bahuku bersandar penuh menempel ke pagar besi tua. Seolah ide datang dari arah belakang. Lalu ada seseorang yang menuntunku dari dalam pikiran, berbaju putih, dia menguasai jalan pikiran dan hati terdalam ku. Dia mulai berkisah lewat celotehkan ku, katanya datang dari masa yang gelap. Yang terjadi dua tahun yang lalu. Maka lahirlah konsep pagar. Bisa karena berdasarkan pengalaman pribadi. Dan yang terjadi pada Alex, urutan ke dua. Pagar yang terjadi karena, lingkaran persahabatan. “Cukup jangan menyuruh orang bau wangi, kalo badanmu saja masih bau busuk.” Aku berbicara sesekali tertunduk, lalu geleng-geleng kepala.

            Teman-teman kembali memberi acungan jempol kepada Alex.

“Untung, yai. Untung, aku selamet ora aneh-aneh sewaktu di Jogja.’ Alex mengurut dadanya pelan-pelan. Pandangan matanya berkaca-kaca, entah untuk kebahagian sisi sebelah mana, “Jadi pagar itu yang membuat batasan, kan?. Oke sip, aku paham, kontrolnya sejauh man nafsu jahat bisa di tangkal. Terus rasionalitas jadi enggak tumpul, nah, itu yang jadi pagar yang melindungi dari godaan dedemet…., he.. he.. hee.’ Dia tersenyum kembali, lalu muka tengilnya muncul kembali dengan ejekan,

“Hayo, sini rekeningmu berapa semua. Besok tak transfer…”

Semua pada jawab dengan jaim, dan bilang. “Wedus tenan.., sampean Lex!

Edvertorial ____________________

Penulis: Boedi “Cupuh’ Totoraharjo
Penerbit: Nida Dwi Karya
Tanggal terbit: November 2015 
Jumlah Halaman: 255 Halaman
Genre: Personal Literature
Info Buku: Klik disini
Beli Online: via www.nulisbuku.com, dan semoga toko buku lainnya segera menyusul

#CintaKesandungGunung

Buku karya Perdana

Iklan

2 respons untuk ‘Ada Apa Dengan Jogja?

  1. Ririn berkata:

    “Tapi kehilangan membuat hati bisa melawan ketakutannya sendiri” beh ngejleb..

    Salam kenal dari pulau jawa bagian barat, sedikit nyesel kenapa baru sekarang nemu blog sekece ini..

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s