Mengetuk Pintu Langit

#BloggerTanahJawa

notedcupu.com

Pada hari libur sabtu dan minggu yang lalu, allhamdulillah, aktivitas bangun pagiku di penuhi oleh kemerdekaan hidup. Sesudah membersihkan badan, pagi itu, aku asyik mengurung diri di dalam rumah. Aku larut dalam kenikmatan, memanjakan diri dengan membaca buku dan di temani secangkir kopi. Sinambi leyeh-leyeh, aku terus membolak-balikan halaman buku terbarunya mbah kakung sujiwo tedjo, ‘Tuhan Maha Asyik’. Jika di rasa-rasa, bacaan ku melelahkan dan agak berat. Aku pun menggantinya dengan menyimak novel karangan Mas Phutut terbaru, ‘Para Bajingan Yang menyenangkan’.

Sayang sekali sepulang kerja pada hari sabtu, aku mampir ke toko buku, tapi kelupaan untuk membeli Majalah Tempo terbaru. Ku dengar dari teman-teman wartawan, di dalam majalah itu ada petikan Wawancara mbah kakung Gus Mus menanggapi isu terkini, tentang kondisi umat islam di negeri ini. Jika aku tidak alpa membeli, perhatian besarku lebih tertuju pada Majalah Tempo, itu. Dan aku pun bisa khusuk membacanya tanpa ada yang mampu menggodaku untuk pergi.

Sungguh benar-benar kemewahan bisa menikmati buku-buku baru yang aku beli dari keringatku sendiri, dan menambah koleksi buku di rak perpustakaan yang aku rintis dari nol. Aku pun berani menceritakan semua kenikmatan itu, semata-mata karena tahadduts bin ni’mah, ungkapan rasa syukur ku, atas anugerah Tuhan yang sungguh Maha Pemurah. Kesempatan memanjakan diri ini, begitu mewah, dari pada hari hari yang lain — yang penuh dengan lingkaran setan.

Namun, ada hal lain yang semula aku abaikan, justru sesekali malah mengusik ketenangan batin ku. Di tengah kesibukan-kesibukan itu, sesekali terbaca diberanda akun media sosialku, mengenai pelarangan pementasan wayang yang tidak sesuai dengan syariat islam. Pelarangan itu, tertulis di spanduk-spanduk di Jakarta. Entah di daerah yang mana. Nampaknya ada yang sengaja memancing lalu sembunyi dengan menurunkan spanduk itu, dan menyebarkan fotonya hingga menjadi viral – dan menyebar luas kemana-mana.

Karena sudah kadung janji dengan Putro, dan teman-teman untuk bertemu di Mesnya, Mas Amin, aku mengabaikan saja keributan itu, dan tidak ikut campur terlalu jauh. Lalu pada minggu siang, aku dan teman-teman, berkumpul kembali,  bercanda satu sama lain membicaran tema-tema kenangan waktu kita kecil — yang bisa bahagia dengan mudahnya. Salah satu tema kenangan, yang membut aku kepingkel-pingkel, tentang cerita anak-anak desa yang kami lalui, menikmati alat kelaminnya yang justru menjadi korban tengu.

Entah kenapa aku merasa ada yang tidak enak, aku jadi begitu malu menikmati dan mensyukuri kebahagiaan atas diriku sendiri. Saya teringat tentang cerita wali Allah, Syeik Sariy as-Sawqathy (wafat: thn 253 H/967 M), seorang arif nan bersahaja, murid sufi besar Ma’ruf Karkhy, yang pernah berkata secara terang benderang, ‘Tiga puluh tahun, aku beristigfar, memohon ampun kepada Allah, atas ucapanku, karena mengucap… allhamdulillah…’

            ‘Lho, bagimana itu?’ tanya seseorang yang mendengarnya.

“Terjadi kebakaran hebat di Bagdad,’ kata Syeikh menjelaskan, “Lalu ada seseorang yang datang, menemuiku dan memberi kabar, bahwa toko ku selamat dan tidak ikut terbakar juga. Aku waktu itu spontan mengucap, ‘Syukurr allhamdulillah,’ Maka atas ucapanku itulah yang kusesali selama tiga puluh tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diriku sendiri dan melupakan orang lain.

Luar biasa, tiga puluh tahun lamanya, Syeikh Sariy menyesali allhamdulilahnya itu. Waliyuwllah itu menyesal karena dengan sadar dan hanya sekejap saja melafalkan kalimat syukur itu kepada Alllah. Bahwa yang terjadi, dengan ungkapan syukur itu, berarti beliau masih sangat tebal rasa perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu tebal dan berlapis-lapis hingga menindih kepekaan perhatiannya kepada sesama. Sekejab beliau tersadar. Alangkah angkuhnya sikap semacam itu, menampak kan rasa kegembiraan di saat musibah terjadi dan menimpa saudara-saudaranya.

Aku bukan siapa-siapa di negeri ini, dan tidak ingin menjadi apa-apa. Bahkan, bukan Kiai dan hanya orang biasa. Aku dan sampean-sampean sangat mudah memahami penyesalan yang begitu dalam dari mulia orang suci – paman sufi terkenal Al Junaid itu. Kecuali jika hati kita memang sudah beku dan menjadi kaku oleh kecintaan yang berlebihan kepada diri sendiri, dan kemegahan dunia.

Aku merasa, kecintaan kepada diri sendiri dan dunia yang berlebihanlah yang membuat orang egois. Hanya mementingkan diri sndiri. Kecintaan pada diri sendiri berlebihanlah, yang membuat orang kehilangan kepekaan terhadap sesama. Membuat orang ingin dan tega bahagia sendiri.

Kecintaan kepada diri sendiri, dan dunialah yang membuat orang pandai menjadi angkuh dan sombong, dan menganggap saudara-saudaranya begitu bodoh. Membuat orang kuat tak peduli kepada saudara-saudaranya yang lemah. Membuat orang sejahtera tak mampu melihat kemisikinan pada saudara-saudaranya. Membuat seorang pemimpin dan pejabat abai dengan keadaan atau kondisi masyarakatnya. Bahkan yang sering terjadi belakangan ini, membuat orang yang merasa dekat dengan Tuhan, melecehkan mereka yang di anggapnya sesat.

Sikap adil tidak mungkin di harapkan dari mereka yang mencintai diri sendiri dan dunia secara berlebihan. Jenis sikap semacam itu, boleh jadi sudah ada sejak manusia itu di lahirkan ke dunia. Namun pada hari kelahiran itu pula, manusia sudah dibekali oleh akal budi dan hati nurani yang bersih. Justru yang terjadi, saat manusia tumbuh kembang menjadi dewasa itu, yang kemudian menyeret kedalam gaya hidup yang berlebih-lebihan.

Sebenarnya orang-orang muslim punya referensi dan teladan hidup yang sangat-sangat cukup. Bahwa, bagaimana memenangkan pertarungan atas dominasi dunia yang semakin perkasa di zaman ini. Karena semua ahklak dari para kekasih Allah itu, muaranya kepada kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Bagi umat islam, al-khairu kulluhu fittibaa”ir Rosul S.A.W, yang terbaik dan yang paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W.

Sudah semestinya aku memandang diriku sendiri, menjauhi segalaya perayaan-perayaan duniawi yang membuatku tidak adil kepada  sampan-sampean semua.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s