Trenggalek Bukan Jakarta

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Mbah Yai Tresno itu sudah bercerita banyak kepada Harjo. Bahwa, orang-orang yang datang pada malam duka itu, bukan penduduk asli sana. Mereka hanya sebatas kenal sebagai pendatang. Dan, hanya sebatas ikut berbela sungkawa layaknya hidup berdusun-dusun.  Inalilahi wainailali rojiun.., ada yang berpulang kepada sang khalik pada malam itu, saudara jauh dari ibu — kakak iparnya — mbah yai tresno. Karena mbah yai hidup ‘menggelandang’ di ibu kota, dan keluarganya ada di desa, maka untuk mencapai rumah duka, kemudian di cangkeng-lah Gus-Gus dan Harjo.

Rumah duka itu, ada di ‘negara bagian’ utara, bagian kota yang amat terkenal dengan kepadatan penduduknya. Untuk mencapai ke sana, pintu masuk lorong jalan itu awalnya sungguh besar, di sambut gapura di depan gang. Lalu hingga di ujung gang, jalannya agak menyempit. Mereka melayat bersama-sama. Mbah Yai Tresno ada di depan, sebagai petunjuk jalan, disusul Harjo dan Gus Gus. Sepanjang jalan masuk ke rumah duka itulah, Gus Gus agak terheran-heran, oleh rumah-rumah gandengan-berdempetan.

Begitu tiba di tempat duka, tiga orang desa itu masih ngempet berbicara. Gus-Gus dan harjo duduk sejenak di atas kursi pelastik. Tenda sejenis terop sudah berdiri compang-camping. Lalu, mbah yai tresno, meminta izin ke kamar mandi bagian belakang. Hampir lima belas menit puasa berbicara di sepanjang jalan, Gus-Gus mencolek lengan Harjo. Lantas dia pun menoleh kepadanya. Dengan sekali kedip, sepertinya anak desa itu sudah paham betul bahasa pergaulan di antara keduanya,.

            Harjo menyondongkan ke arah gus-gus.

            Kemudian mereka saling berisik. “Kang…  kang Jo,!’ saut gus-gus

            “Ngopoo tohh, gus. Mau komentar lambemu?’

Kepala Gus-gus agak naik sedikit, lalu bertanya, ’Kang coba saampean lihat. Ini kok yang melayat di rumah duka, yang datang kok sepuluh orang, ya? Yang lain pada kemana ya, kang?,’ inilah satu ciri khas Gus-Gus, pertanyaan njeplak tapi benar.

        “Lha terus?’ matanya memicing.

‘Cobo sampean lihat kang. Kalau di desa kita, saben tiap ada yang pulang mengadap gusti Allah. Yang melayat, masak allah, orang sekampung. Tumplek blek yang datang. Fenomena apa ini kang?’ Gus-Gus malah balik melempar pertanyaan lagi.

Sampean kok ya telaten mengamati toh kang. Owalah… ,’Harjo membetulkan pecinya yang miring. ‘Piye toh sampean iki kang. Lha ini kan, memang bukan dusun. Di sini kan memang semua warga pendatang. Ini Kota kang. Kota besaaar!”

Reaksi wajah Gus Gus langsung tertunduk. Entah tercenung, bersedih, atau perasaan jenis lain yang ada didalam hatinya sekarang mengambara. Siapa yang tahu, kecuali Gusti Pangeran. Yang terjadi, mulutnya komat-kamit, apalagi kalau bukan membaca doa yang dia kerjakan. Benar saja, setelah lima menit, mulutnya berhenti. Dan, dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, dan berkata, ‘…tahadduts bin ni’mah..- allhadulillah’. Lalu, Mbah Yai Tresno, datang mendekat, punggungnya dengan sengaja di-bungkuk-bungkuk-kan di depan anak-anak desa itu.

 “Sampean-sampean, ndang wudhu sana?’ katanya, agak ndawuh.

‘Enggeh mbah, yi. Beres.’ Saut keduanya, sambil senyum-senyum.

Kemudian mereka runtang-runtung mengambil wudhu.

Sesudah Gus Gus dan harjo selesai berwudhu, dan kembali ke tempat semula. Mbah Yai Tresno tidak ada di bawah tenda. Di deretan warga pelayat  itu — di antara jumlah pelayat lima belas orang — tidak ada wajah beliau. Aneh! Kemana perginya?. Yang ada, kepulan asap rokok klepas-klepus, yang justru menggambarkan suasana ‘copy paste’ warung kopi. Tiada suasana yang begitu haru di sebuah ‘negara wilayah’ utara itu. Lalu dari dalam ruangan bekas toko, yang berada di samping rumah, terdengar lantunan pembacaan surah-surah tertentu dari kitabullah. Di sanalah, Mbah Yai Tresno berada. Duduk di samping jenazah seorang diri.

Kemudian Harjo dan Gus Gus menyusul. Mereka merapat, dan duduk bersila takzim dibelakang beliau. Sesudah membaca doa-doa untuk jenazah sesuai urutannya, maka tibalah… suasana yang hening, khidmat, dan khusuk. mbah yai Tresno, membacakan shalawat tertentu. Inilah shalawat yang beliau dapat dari guru mursyid-nya, yang pernah njegur total di Darul Mustofa. Baru membaca awalan, saqhull.. mangi nastakfiru… allah min jani  niis’saiaan....  Suara mbah yai Tresno langsung mbrabak. Suara-suara itu seolah bergetar dan melambung ke udara. Seakan meminta hak prerogatif secara khusus untuk di dengar penduduk langit.

***

Satu minggu kemudian, antara hari sabtu dan minggu, Gus Gus dan Harjo pulang ke desa. Sejak bertemu dengan Mbah Yai Tresno, mereka berdua langsung menceritakan apa-apa yang di alaminya, kepada sahabat-sahabatnya di majelis. Di teras depan, emperan ndalemnya gus nu, mereka membentangkan tikar. Di antara hadirin yang datang, awalnya mereka tidak ada yang percaya dengan cerita itu. Namun, gara-gara sepotong gambar, sebuah pandangan itu berubah. Hati Gus Mo – yang juga sebagai guru — jadi ikut nye-nyet. Setelah dia diam sekitar lima detik, dia mulai berbicara.

‘Ya allah, jauhkan desa ini dari kehidupan masyarakat kota?” katanya, sambil geleng-geleng kepala.

 ‘lha iya tohhh Kang, sama pemimpin kita itu, desa kita ini akan dirancang, di program menjadi kota,’ saut, Gus sono, lalu memperlihatkan gambar judul berita di sebuah koran, “tadi pagi aku baca ini kang,’ dia membentangkan koran halaman depan, “Dia sendiri toh, yang ngomong begitu, di koran!” katanya lagi.

Sekonyong-konyong gus nu memotong, “Untung kang. Untung aku kemarin gak nyoblos. Jadi nanti aku gak di tanyain malaikat, tentang tanggung jawab suaraku itu,’ sautnya, pecicilan cengangas-cengenges.

Dengan tidak menyerahkan suaranya, Gus Nu sedang berjuang mempertahan kebudayan prinsip-prinsipnya sendiri. Bahwa ia itu penganut paham yang setia.

Asal sampehan tahu saja. Kalau sampean ingin melihat islam yang sesungguhnya, pandanglah kehidupan orang-orang di desa itu. Orang modern hidup seperti robot. Gerakannya sungguh mekanik setiap hari.  Berjalan serentak secara masal. Keluar rumah hanya untuk bekerja. Saat langit mulai gelap mereka kembali pulang dan mengunci pintu. Tiada yang tahu siapa nama tetangga di samping rumahnya. Tiada yang tahu siapa warga kampung yang meninggal sore itu. Tuhan kehidupan di kota sungguh sangat sibuk.

Kebanyakan manusia sekarang ini semakin hari, semakin berani meniadakan ciptaan-Nya “… tahadduts bin ni’mah..” manusia yang tidak mampu merasakan nikmat dan indahnya hidup bertetangga. Bersilaturahmi, duduk lesehan berjam-jam di teras rumah seperti kehidupan di desa-desa. Orang-orang merasa maju kehidupannya, tapi lupa menanyakan maju kemana arahnya?.

Hidup di desa, sebagian besar, masyarakat hidup dari berdagang di pasar dan bertani. Maka itu, di sana tidak ada bencana ekologi. Antar rumah tetangga di sebuah dusun, di tengah-tengahnya, masih ada jalan longgar untuk berlalu lalang ke banyak rumah dan tempat. Artinya, bangunan-bangunan rumah itu, tertata rapi dan mempertimbangkan hidup bebrayan sosial ‘halal-bihalal’ antar warga. Sesungguhnya, warga desa adalah komunitas manusia yang hidup bukan ‘taman dalam kota’, melainkan ‘desa di dalam taman’. Maka dari itu, di desa tidak butuh pembangunan taman-taman.

“Itulah kebudayaan kita sebagai orang desa kang. Kita semua pada gak pake asuransi toh?. Asuransi loh…kang, bukan asuuu’dalhlah!. Lha wong kita itu, asuransinya sosial. Tetanga kita itu jaminan hidup yang lebih hidup,’ Kata Harjo.

Gus mo sebagai guru seni, agak protes, ‘Asuransi juga meskipun punya, lakyo jarang di pakai toh kang?. Hayo ngaku kabeh!. Kalau pikiran kita sehat, tidak aneh-aneh, badan kita, seluruh sel-sel dan metabolisme tubuh kita seluruhnya akan ikutan sehat juga kan?. Beres.’

Gus nu menimpali, “Sampean ini guru seni, apa dokter?’

Doboll… .., sampean ini kang.’ gus Mo memang agak mbeling pemikirannya.  ‘Biar aku kayak profesor-profesor di tv-tv itu loh. Gaya sok intelek dikit kan sah-sah wae toh, yang menjadi apa-apa itu, ya inginteleki — membodohi masyarakat!”

‘Wah kalo itu aku gak berani, gus. Bisa kuwalat. Ngebodohi ciptaan Tuhan, sama saja nyari gara-gara sama Tuhan.’ Saut Harjo.

Jangankan kok sampai pada program dan arus besar rancangan-rancangan pembangunan manusia, untuk sampai pada gagasan dan ide saja belum terlihat gejala-gejalanya. Pembangunan lebih utama bersifat materalisme. Mereka berembug total sampai subuh: bahwa pembangunan yang mengikui arus dahsyat budaya keinginan manusia, hanya akan melahirkan zaman baru. Zaman manusia-manusia yang di pimpin oleh benda-benda. Toh kita semua tidak anti terhadap pembangunan, ke titik manakah mata kita menatap?.

Ke benda-benda atau kemanusia. Keduanya dialektis. Ini bukan usaha besar menceraikan benda-benda dari tangan-tangan manusia. Melainkan siapa memimpin apa?. Atau apa memimpin siapa?. Mana subjek mana objek. Itulah kunci kemajuan pembangunan. Tidak meninggalkan manusia.

kangbs, Oktober 2017

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s