Amplop-amplop Surat Untuk KPK

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Sudah seminggu lebih bangsa kita memperoleh hiburan dari serial drama ‘telenovanto’. Siapa sangka, ternyata bangsa Indonesia punya bakat terpendam membuat seni peran telenovela. Sesudah sekian lama tidak melihat ludruk dan ketoprak, ternyata para pejabat kita sukses menjadi pelawak. Mengcok perut masyarakat kita sekaligus melecehkan kewarasan. Di group-group wasap, dan seluruh platform jejaring media sosial, baru kali ini aku menemukan orang tertawa kompak bersama-sama. Seakan akan isu-isu agama yang bising dan berantem minggat begitu saja dari Indonesa.

Terus terang. Di tahun 2014 ada seorang teman blogger ‘papan atas’ yang mengabariku untuk ikut menulis esai ringkas tentang hukuman apa yang jera bagi tersangka koruptor. Penyelenggaranya adalah KPK itu sendiri. Harus aku akui, pada saat itu, aku tidak mampu melaksanakan ajakan itu karena bahan baku, dan daya jelajah peta psikology manusia jauh dari jangkauan pemahamanku. Kita memang harus tau siapa sebenarnya diri kita.

Sekitar tiga bulan yang lalu, aku dan sahabat karibku berkunjung ke pegunungan kecamatan Pacet, dalam rangka bersilaturohmi menemui teman se desaku yang kebetulan bekerja di sana. Kami memang ajeg punya agenda untuk sebulan sekali saling berkunjung. Sekitar sepuluh menit kami hendak tiba di pasar Pacet, ada pemandangan besar yang menyedot rasa penasaran kita.

Bayangkan, di pinggir jalan raya besar itu, persis di depan sebuah pondok pesantren, ada beberapa santri yang ndodok di pinggir jalan raya. Aku terkejut, sedang model potong rambutnya di gundul pretal. Di depan dadanya berkalung papan kardus yang terikat oleh tali rafia. Orang-orang yang lewat, akan tahu bahwa di papan kardus tertulis: ‘Sedang Menerima Hukuman’.  Santri itu berjumlah sekitar empat sampai lima orang. Ekpresinya wajahnya kemudian tertunduk memandang tanah.  Seolah-olah simbol perjalanan kembali memandang asal-muasalnya.

Kami juga tidak berusaha mencari dan menyelidiki terlalu jauh: jenis pelanggaran apa yang telah di lakukan oleh santri-santri itu? Dan seberapa jauh daya destruktif kerusakan untuk dirinya sendiri dan maupun wilayah sekitarnya?. Aku dan kawan karib ku itu hanya bisa tertawa gedek-gedek melihat santri-santri itu. Membatin dalam hati, bahwa bangsa kita dari zaman orla, orba, sampai hari ini, telah kehilangan suatu titik budaya metode rasa malu.

Di tempat terpisah, guru kami dan ‘orang tua’ tercinta Mbah Nun, memperingatkan kita dengan tegas pada esainya yang di tulis tanggal 19 September 2017. Esai itu, memberi penerangan, pesan, juga ketegasan dalam menyikapi realitas bangsa: ‘Di dunia modern yang beradab, para raksasa pencuri alias koruptor dilindungi di bilik-bilik tertutup. Tidak dijewer telinganya dan diseret untuk menemui rakyat, meminta maaf sambil berjongkok. Juga tidak dikasih kardus di dadanya bertuliskan “Saya Koruptor” kemudian menabuh genderang jalan kaki di jalan-jalan protokol hingga ke kampung-kampung.

Negara dan Pemerintah tidak menerapkan formula hukuman yang mempermalukan para koruptor di depan rakyat. Bukan karena para koruptor dilindungi dan disembunyikan dari rakyat. Melainkan karena sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa tindakan mempermalukan hanya efektif untuk mereka yang punya rasa malu.’’

Waba’adu.. semoga di tengah gegap gempita zaman yang semakin kehilangan nukleus metode kebudayaan ini, kita masih sanggup memegang pada talinya Allah. Dengan menyediakan stock rasa malu dan tetap menjadi manusia, minimal Allah sudah terharu melihat banggsa Indonesia. Dan semoga bangsa kita segera di tolong oleh-Nya. Wa’tasimu bihablillahi… kun faayakun…

 

 

Iklan

5 respons untuk ‘Amplop-amplop Surat Untuk KPK

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s