Islam Dan Kendaraan Menyelamatkan Manusia

Oleh: B.S. Totoraharjo

Mungkin saya belum pernah bercerita. saya punya sejarah pengalaman hidup berada pada posisi melarat dalam arti kepemilikan harta benda. Dekade tahun  96-an, ketika saya memasuk usia remaja, saya sudah bergaul dengan ekosistem hutan-alas di sisi barat rumah. Sebelum tungku-tungku pawon musnah di zaman sekarang. Dulu saya dan kakak kandung adalah penjaga dapur agar tetap menyala apinya. Mencari kayu bakar ke pelosok hutan.

Pekerjaan kami hanya sekedar membantu orang tua. Jika sudah memasuki hutan-alas, saya yang nyunggi kayunya, kakak kandung bertugas membawa parangnya. Mekanisme pekerjaan kami adalah memungut ‘benda-benda uzur’ hutan yang sudah terbuang oleh sistem kerja alam.  Minimal kami harus tiga jam berada di hutan agar terkumpul satu pikul kayu orang dewasa. Satu per satu ranting kayu yang jatuh dan kering kami kumpulkan. Jika sudah terkumpul dan pantes, kami mampir sebentar ke jalan besar. Meminum seteguk air dalam kendi yang sudah di sediakan di depan rumah oleh setiap warga Dusun Mbangkong.

Di tengah hutan di sisi barat rumah di desa, ada perkampungan warga dusun yang bejumlah lebih dari lima belas kepala keluarga. Saat kami baru menginjak di depan halaman rumah saja, air minum sudah di sediakan, kepada siapa saja yang lewat dan yang mau mampir. Selangkah lagi kaki menginjak teras rumah, dan mengetuk pintu, maka otomatis seluruh makanan yang ada di dapur akan di suguhkan. “Monggo-monggo, sekecaken kang. Tanduk maleh,’ ungkap si pemilik rumah. Alangkah indah budaya katresnan desa semacam itu.

Pusat perhatian mata saya kemudian terlempar ke kota. Jika seluruh warga kota punya jenis pilihan sikap persaudaraan semacam itu, aman-sejahtera dan sentosalah kehidupan seluruh warganya.

Informasi yang sampai kepada kita sekarang, bahwa realitas di desa kita, siang dan malam kerja-kerja dan perjumpaan orang-orang desa sangat islami. Muatan-muatan ke arifan perilakunya kepada sesama dan alam semesta merupakan hubungan kulturan pengayoman pemakanan dari cahaya terang Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Lha kok, ada jargon besar, ‘Membangun Indonesia dari Desa’ desa di letakan sebagai kumpulan orang-orang yang terbelakang dan terpinggirkan.

‘’Kemudian dalam tema program-program tv nasional, logat jawa menjadi simbol kasta kerendahan budaya, di jadikan bahan tertawaan, di ucapakan buruh dan pembantu.’’ Begitu ungkapan kiai Sudrun.

Orang-orang di kota besar sudah terlalu lama meninggalkan entitas jawa. Musnahnya simbol kebersahajaan yang ada pada dirinya. Dari berbagai proses dinamikanya, bangsa Indonesia di ibu kota sedang tidak sadar mencari dan berusaha mengenal dirinya kembali. Tidak tahu sangkan paran tujuan hidupnya. Pada tahap ini: siapakah yang butuh belajar kembali menata hidupnya agar lebih: sejahtera-aman-damai-sentosa; desa apa kota?. Maka alangkah indahnya kita di takdirkan lahir di desa. Dan bersuku jawa.

Sedangkan Allah pun berterus terang kepada kita. ‘Yaaa ayyuhan-nassu innaa kholaqnaakum min zakariw wa uns aa wa ja’alnaakum syu’uubaw waqobaaa ilaa litaa aarofu, inna akromakum indallohi  atqookum, innalloha alimunn khibur…‘Wahani manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  agar kamu saling mengenal.’

Sampai pada proses ini saya terus menyakini: se-egois dan sesibuk apapun memimpin di pusaran kekuasan yang mengurusi perutnya sendiri dan kelompoknya, asal kita menjadi orang jawa (maupun suku asli lainnya), sirnalah kegelapaan zaman. Minimal selamatlah perut-perut kosong orang miskin di sekitar kita. Karena Nabi kita Muhammad Saw, berpesan, ‘Wahai manusia, cintailah orang-orang yang miskin, dan akrablah dengan mereka supaya Allah akrab denganmu di hari kiamat nanti.’

Maka saya terus bersyukur allhamdulillah, saya senang sekali menjadi orang desa di ibu kota. Kesana-kemari tanpa pura-pura siapa sebenarnya diri saya. Jawa disini berposisi sebagai kata kerja. Menjadi manusia jawa yang selengkap-lengkapnya. Siapa pun bisa mengerjakannya sekarang juga.

Surabaya, 27 November 2017

 

Iklan

7 thoughts on “Islam Dan Kendaraan Menyelamatkan Manusia

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s