Islam dan Kerja-Kerja Bilhikmah…

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Seorang teman dekat saya yang bekerja sebagai manager di perusahaan per-bank-kan mengatakan ‘benda-benda padat dan cair’ pada kehidupan modern adalah sebuah benda magis. ‘Benda sihir’ yang kedudukan kastanya menyumbang prioritas utama jaminan kebahagian abadi. Saya luangkan waktu saya untuk melihat wajahnya yang begitu berat. Saya geser tempat wilayah kerja-kerja persaudara’an saya ke tempat yang lebih tenang dan rileks. Saya dan dengannya duduk di sebuah warung di bawah pohon besar. Saya dengarkan gangguan-gangguan besar di kepalanya.

Dengan niat tulus, satu-persatu potongan-potongan ceritanya mulai tersambung. Tekanan kursi jabatan dan besarnya tangung jawab dari kantor pusat membuatnya gagu. Ia di dorong dan di tekan untuk memutasi beberapa jajaran pegawainya yang dinilai hasil kerjanya kurang menyumbang target bulanan. Ia melawan. Ia rela tidak memakai ketegasan wewenangnya demi menjaga kelangsung stock gentong beras rekan-rekannya. Keputusan itu berbuah hasil mendapat legitimasi goblok dan lembek oleh jajaran yang ada di atasnya.

Satu hal saja belum teratasi, beban berat datang lagi. Ia mendapat kabar dari bengkel dekat kantornya bahwa, mobil barunya yang dibeli dari bertahun-tahun proses menabung, ada beberapa onderdil yang rusak, dan perlu diganti. Sedangkan kendaraan itu baru di kirim seminggu yang lalu. Kemarahan itu akhirnya meledak. Kemudian semakin merdu dan nyaring, saya mendengar  pekik-suara kekecewaan. Tangan kanannya membanting korek gas, kalimat toyibah versi orang jawa-timuran deras meluncur.., cas cis cus…

        ‘Ha-ha-haa,’ saya tertawa.

‘Wes lego tenan, Pak. Dari pada kena penyakit, mending di keluarkan saja emosinya,’ kata saya, ’Hahaha…’

“Betul cak, makane aku ngajak sampean ke sini!. Loh kok malah ketawaa, cak?’ tanyanya, agak resmi.

Loh… kepada setiap badai masalah siapa yang suruh kita sanggup mengatasinya? Dari pada marah terus stres dan jadi beban besar. Mending di tertawakan saja toh? Saya terus meluncurkan pendekat-pendekatan kalimat reaktif agar kesadarannya aktif bekerja. Kalau katanya yang punya saham atas seluruh hidup kita: ‘Jangan berkata kasar kecuali dalam keadaan teraniaya. Panjenengan sudah berapa kali teraniaya hari ini? Kalau bapak ke injak satu kali sudah merasakan dahsyatnya rasa sakit, ya masak teriak dobol-dancuk gak boleh? Paramater-ukuran-ukuran konsep ketahanan manusia berbeda-beda.

Wajahnya mulai enak dilihat. Tangannya mulai luwes memegang rokok kembali, dengan setengah menggeleng-gelengkan kepala, ia menjawab mantap, ‘Menyesal tenan aku cak, seharian ini tadi aku buanyak diamnya.’ Katanya, dengan posisi sikap yang getuni.  

            ‘Lha terus, seharian ini hidupnya sampean di pimpin oleh siapa?’

Ia tidak mampu menjawab. Saya juga sudah tahu betul apa-apa jawabannya. Ia tertawa tulus kemanusian memandangi saya, wajahnya benar-benar rileks dan tenang, ‘Oh.. pancen cah mbeling. Terus, mau makan apa sore ini cak?’ katanya, dahsyat.

Di tempat-tempat dan waktu yang lain, perhatian saya terhadap kebudayaan persaudaran saya tempatkan dalam hati secara khusus. Di zaman modern dan serba individualisme, kebudayaan untuk di dengarkan sudah mengalami kelangkaan dimana-mana. Orang-orang yang hidupnya kesepian, amat mudah di dekati dengan sikap persaudaraan. Amat mudah di dekati dengan cinta dan ungkapan menentraman jiwa, tetapi tidak menidurkan, penuh ajakan menyadarkan pikiran, tetapi tak membakar.

Di kota-kota besar metropolitan di Indonesia, orang-orang kesepian dan hidupnya semakin terpingirkan, mental dan moralnya masih jauh dari pilihan sikap yang sangat destruktif. Di kantung-kantung masa modernitas lainnya, dibelahan negara, Cina, Jepang, Korea, dan lain sebagainya, bahkan negara digdaya Amerika. Orang-orang yang hidupnya semakin tersingkir dan sepi, mereka lantas nekat mengakiri hidupnya dengan berbagai cara dan tragis. Artinya, peradaban semacam itu sangat dekat ‘melamar’ kematian.

Sebelum saya melangkah jauh ke sudut kota, bapak saya sudah lebih dulu memberi contoh secara konkrit. Dekade tahun 1996-an, bapak sudah merantau ke ibu kota, dengan bekerja sebagai kuli bangunan. Bapak termasuk seseorang yang sangat mencintai budaya persaudaraan. Sampai-sampai, tiap akhir bulan sesudah gajian, atasan bapak seorang kepala proyek, bahkan sampai penjudi sabung ayam, togel, menjadi teman bapak, dan di ajaklah silaturohmi main ke desa, di Panggul. Sesudah di ajak keliling kampung, kemudian balik ke kota tamu-tamu bapak itu ‘sembuh’ dan waras.

Hidup di Indonesia yang indah Ini, di tengah situasi zaman yang memperebutkan kebenaranya masing-masing, dan saling memberi pagar persaudaran antara satu dengan yang lainnya, berteman dengan siapa dan apa pun rasanya sungguh enak dan nikmat. Asalkan satu yang pasti: tidak dekat-dekat dengan kursi kekuasan presiden hehehe..

Terlalu suka berkawan dengan siapa pun, akhirnya sikap karib semacam itu sudah mengakar dalam kehidupan saya. Terjerembablah saya oleh mensyukuri makna hidup. Akhirnya pertemanan saya semakin meluas dan masuk ke dalam jantung-jantung kehidupan kota yang tak pernah tidur. Alhasil, saya pernah di tarik ngelayap ke sebuah ‘jalan besar nan legendaris, dibekas tempat ‘wisata malam’ terbesar di wilayah Asia Tenggara.

Pengalaman kisahnya. Di klub malam itu, masuklah saya ke sebuah ruangan besar yang di pesan secara khusus. Ruangan klub berkaraoke yang berisi lengkap satu set meja bilyard itu dipesan oleh teman saya. Mungkin ia tidak tahu, bagaimana metode mentraktir saya yang cukup dengan makan di pinggir jalan. Karena saya bukan saudara Alrm. Gus Mik, waliyuwllah, saya tak lantas meminum bir, lalu tamu-tamu dan wanita biduannya menengok mulut saya, dan terkejut, ternyata yang berubah menjadi air laut yang luas. Saya memutuskan cukup minum air botol mineral.

Di dalam ruangan itu berisi 10 orang. Amat mendadak, dan tiba-tiba, masuklah perempuan dengan memakai pakaian amat minim. Bawahan ketat – maaf di atas dengkul – dengan lipstik yang merah menggoda. Jantung saya kemudian mak tratap. Kyai ampuh mana-pun dengan posisi sebagai manusia, kalau berhadapan dengan situasi semacam itu akan merasakan hal yang sama: tratapan. Modyar!. Salah satu perempuan mendekat ke arah saya yang kadung berdiri di samping meja bilyard. Di ajaklah saya ngomong dengan bahasa-bahasa yang menantang dan bermacam-macam.

Sebelum saya luluh dikuasi olehnya, dengan berbagai gaya sensual. Saya wajib hukumnya punya langkah strategis menguasi pembicaraan. Saya wajib menciptakan momentum untuk mengenal dan menggiring psikologisnya. Lalu menguasai irama suasananya. Apakah anda pikir orang-orang yang berada di tempat klub malam semacam ini kotor? Menjijikan?. Dan pasti di jamin masuk neraka?. Kotor, menjijikan, dan neraka menurut ukuran mata siapa anda memandangnya?. Semua terletak pada hari tutup usia, baik-buruk, berada dalam hak prerogatifnya Allah. Itu semua milik Allah.

Saya ambilkan segelas air putih dari lemari pendingin, kemudian saya ajakhlah ia duduk santai di atas kursi. Teman-teman saya sedang asyik-asyik minum-minum dan menikmati musik karaoke. Mulailah tahap demi tahap langkah saya bekerja. Saya tatap dalam-dalam mata batinnya yang sedang terpinggirkan. Saya cetuskan pertanyaan saya dengan kalimat-kalimat kekeluargaan pada telinganya: Aslinya Mana? Desa mana?. Sudah menikah apa belum? Oh sudah. Anaknya pertama namanya siapa?. Bapaknya kerja dimana? Saat ia menjelaskan tentang ayah dari anaknya, bola matanya kemudian mengambang dan sembab.

Saya sudah tahu akan hal berikutnya.

Kemudian saya ajak pikirannya untuk bekerja. Mau berapa lama lagi disini?. Ia menjawab tidak lama lagi. Kemudian saya memanggilnya mbak: Apakah karir dan tarif sampean semakin naik, mahal dan semakin ‘diburu?’. Dengan mantap ia menjawab, bahwa bayaran dan kariernya akan semakin redup bersamaan dengan bertambah usianya. Dari kelas bintang lima akan semakin turun menjadi kelas saweran pinggir jalan. Lantas ‘beroperasi’ ke pinggiran rer kereta api. Kemudian turun drastis berpindah ke ‘Lembah Pantura’.

Karena sudah klik dan dekat. Saya memakai pendekatan yang paling karib. ‘Mbak yu, enak ya jadi orang islam. Mbok mo-limo ngasih tuwo tetep di ngapuro marang Gusti Allah, asal ngapurone temenan. Njuk, iso khusnul khotimah toh?. Satu menit. Dua menit. Apakah saya tahu? Apakah sampean tahu? saya keluar dari klub ini, saya masih hidup?’ Ia mengusap bulu matanya yang mulai basah. Saya kemudian mengambilkan tisu untuknya. Kemudian saya meminta izin berpamitan lebih dulu. Di tempat seperti ini baik-buruk tidak berlaku. Wirid saya sesudah keluar ruangan..  bil-hikmah wal-mau’idhatil hasanah….  

Di sepanjang jalan pulang, saya menangis, saya menangis berjam-jam, berhari-hari. Saya menangisi diri saya bertahun-tahun. Saya menangisi mereka dengan abadi.

*Surabaya, 08 Desember 2017

 

 

Iklan

6 respons untuk ‘Islam dan Kerja-Kerja Bilhikmah…

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s