Sesobek Catatan dari Desa Kepada Bupati

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Saya menulis pengalaman ini sedang berada di sudut kota Jakarta. Saya menulis di sebuah ruangan kamar hotel yang di kepung dari berbagai penjuru gedung-gedung penembus awan. Pada saat saya sesudah turun dari kereta api di salah satu stasiun, mata saya terbelalak ke segala arah. Hati saya cemas. Dahi saya mengkerut. Batin saya terlempar mengembara dalam sunyi: betapa semrawutnya kantung-kantung modernitas dalam kehidupan masyarakat. Kemudian saya teringat sepotong syair legendaris karya Umbu: apa ada angin di Jakarta?.

Jakarta crowded: yang kemudian memunculkan kompleksitas masalah.

Pada awal bulan, Desember 2017, saya mencoba menjenguk pengalaman masa silam. Pulangah saya ke desa di pelosok Trenggalek. Dengan sengaja saya pulang malam itu dari terminal Bungurasih dengan memakai kendaraan umum. Saya rindu desak-desakan, bagaimana gairah cinta orang-orang yang ingin bertemu dengan desanya. Saya rindu bau keringat kenyataan hidup yang sesungguhnya. Saya rindu energi-energi yang sewilayah semacam itu. Karena kans-besar terbiasa hidup enak, bisa dengan mudah siapa saja akan kehilangan pekekaan hati.

Masyarakat adalah babul ‘ilmi-nya Indonesia, pintu dari segala macam ilmu, dan kerja budaya menghidupkan cinta. Bupati sampai presiden harus sungguh-sungguh belajar dari masyarakatnya. Kenyataan itu ada di dekat kita sehari-hari yang orang modern menganggapnya suatu kebodohan kultural, dan dekaden.

Sesudah jam waktu subuh yang semakin mengancam, saya berpindah kendaraan dari bus ke mobil L 300. Masih sejam lagi dari pertiga’an Jarakan menuju desa-kampung-halaman. Di dalam kendaraan itulah, mobil tua itu di isi melampaui batas-batas tertentu. Dari yang semula jangkep, kemudian bertambah berisi penumpang yang menduduki berbagai tempat yang kosong. Mendadak, berhentilah di suatu pasar, seorang ibu-ibu rela berdiri sambil membungkuk-kan badan. Hingga sampai tiba di tempat tujuan.

Masyarakat kita sangat ikhlas dengan berbagai situasi sosial yang sedang berlangsung. Bukti-bukti peristiwa empiris sosial semacam itu tidak bisa di dekati dengan kecanggihan ilmu modern. Di dalam hati mereka yang paling dalam, sudah tertanam perasaan cinta satu dengan yang lain. Maka terciptalah situasi yang adem-ayem. Perbedaan antara Jakarta dan Desa adalah kenyataan konsistensi nilai. Konsistensi bertemunya atara kata dan fakta-fakta. Tidak ada grundelan, ‘Saya bayar kok, mestinya saya duduk!’.

Di dalam Islam ada sebuah adagium; sesungguhnya bangsa-bangsa itu tegak, selama akhlaknya tegak, dan jika akhlaknya runtuh, maka runtuh pulalah bangsa-bangsa itu. Adagium ini bagi kehidupan masyarakat dan berbangsa kita di zaman yang sedang berlangsung. Apakah gerangan yang sedang terjadi: peringatan-kah? Ujian-kah? Pendidikan-kah. Atau jangan-jangan kantung modernitas diberbagai crowded-nya kehidupan kota adalah hukuman penderitaan berkepanjangan akibat tangan-tangan pemimpin-pemimpin-nya.

Toh masayarakat kita merupakan jenis masyarakat yang amat uswatun hasanah. Meskipun telinga mereka di taburi oleh pidato seorang bupatinya, gagasan-gagasan yang di susun oleh lidah, aturan dan pedoman di paparkan, namun tidak ada jaminan bahwa apa yang di ucapkan itu berakar dan hidup sebagai teori nilai, kata, dan fakta. Jangankan kok mendekati metrik-empat sifat-sifat pemimpin agung kita Nabi Muhamad Saw:

            Shiddiq, Amanah, fathonah, dan Tablik,

Terhadap yang paling dekat saja masih terlihat sangat jauh mendekati idiom: Atsluha tsabit wa far’uha fi-ssama… akarnya menghujam bumi dan daun-daunya merambah langit. Anda benar! selain tidak amanah, pemimpin kita, dari bupati di wilayah tempat tinggal saya Trenggalek, dan diberbagai tempat, maupun levelnya di pemerintahan, pemimpin hari ini yang pikiran dan hatinya di sesaki oleh orientasi-orientasi berebut kursi.

Akan tetapi, jika titik nadir zaman semakin terperosok dan tenggelam, sepanjang mata hati  kita yakin akan bukti masyarakat kita pusatkan sebagai sumber cahaya: babul ‘ilmi. Maka alternatifnya adalah kebangkitan matahari besok pagi. Minadl-dlulumati ilan-nur.  Insya Allah segera.

Surabaya,

22 Desember 2017

 

Iklan

4 respons untuk ‘Sesobek Catatan dari Desa Kepada Bupati

  1. mcrokhim berkata:

    Marakke kangen e atiku ae lek pas numpak KRL desak-desakan bau keringat seperti parfum.. Tapi saiki antara desa dan kota hampir tipis perbedaannya, Kang….

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s