Babak Baru Kesombongan Orang Beragama

@bs_totoraharjo

Seorang sahabat dekat, karena pergaulannya yang sangat luas, dan berteman dengan berbagai macam dan tema komunitas. Kali ini ia agak begidik-gidik kepalanya sesudah cerita terus terang kepada saya. Di warung lesehan pinggir jalan seperti biasanya, saya mendengar pengalaman baru, yang baru saja ia jumpai. Bahwa, ia sedang mengantarkan pulang sahabat perempuannya sesudah menjemputnya dari tempatnya bekerja. Karena waktu mepet menjelang magrip, mampirlah ia ke sebuah masjid terdekat.

Ia seorang anak muda dengan semangat besar mencari dimana Tuhan berada. Di masjid itulah ia melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Menyapa Tuhan lewat shalat mahgrib. Sesudah selesai shalat, baru lima langkah ia berjalan menuju kendaraan, tak sengaja, ia melihat suatu hal sedang terjadi. Dadanya terhentak. Pikirannya tertusuk. Hatinya terpecah-belah. Di dalam masjid, ada seseorang dengan membawa kain pel dan ember, kemudian mengepel tempat bekas ia melakukan shalat. Seolah-olah bekas tempatnya sujud, adalah area najis besar yang harus di bumi hanguskan dari alam semesta.

Saya kaget bukan main menyaksikan fakta kisah hidupnya. Rasa-rasanya semua pemerhati pergerakan sejarah islam akan tahu, dan sependapat, ‘Lha, piye toh iki? Berbuat baik kok justru malah memecah-belah keharmonisan orang beragama.’ Apakah gerangan kotor itu. Apakah gerangan bersih itu?. Apakah yang bersih sorban, dan peci anda semua? Apakah yang kotor adalah orang-orang yang berangkat ke masjid dengan memakai celana jens?. Metode ‘cara pandang siapa’ anda memandang hamba-hamba-Nya?.  

Sedangkan yang paling primer dihadapan-nya saja, Allah melihat kesungguhan hati kita semua. Untuk sampai pada pendekatan tahap, kearifan dan kedewasaan, kita tidak punya kesanggupan dan seperangkat niat. Yang kita tonjolkan hari-hari ini adalah babak baru kesombongan orang merasa paling islam sendiri.  Di ruang-ruang hati kita punya kans besar feodalisme orang beriman. Maka jangan heran, makin lama kehidupan ini akan semakin matrealistik.

Di depan Allah saja pun, yang kita berlakukan tetap hukum manusia. Pada shalat Id saja, hirearkisme feodal masih kita berlakukan se-enaknya: saf-saf paling depan kita kosongkan karena di khususkan untuk para pejabat-pejabat. Dari pejabat wilayah regional sampai wilayah presiden. Artinya, kita larang untuk di isi oleh orang lain, siapa yang lebih dulu datang. Dengan kata lain, di pusat-pusat rumah Allah saja, kita belum mampu punya kesadaran beragama.

Pada pengalaman yang lain di suatu siang di awal bulan November, datanglah seorang teman perempuan ke tempat saya bekerja untuk mengajak makan siang bersama. Kami sebetulnya reuni kecil-kecilan karena sudah lama tidak bertemu sesudah pindah pekerjaan. Untuk lehih santai, saya ajaklah ia ke warung lamtoro dibelakang kantor saya. Ia seorang kawan perempuan yang lucu dan pandai menghibur, di tengah perjalanan ke warung, sebelum menyebrang jalan raya, kami berpapasan dengan seorang peempuan cantik yang memakai jilbab, dengan celana – maaf — yang lumayan ketat.

Sahabat saya spontan nyeletuk, ‘Wong uwes jilbaban kok isek pakaian koyok ngono yow cak?’

Telinga saya memerah mendengar desiran-desiran bibit kesombongan. Kali ini saya jawab amat serius, “Mbak, dia sudah pakai jilbab, dan itu sudah lumayan. Kita tidak punya hak apa-apa atas seluruh hidupnya. Setidaknya jauh di dalam hatinya sudah melakukan pencarian, berjuang untuk lebih dekat dengan Allah. Kalau yang punya hidup ini marah atas kesombongan kita. Kita bisa-bisa dalam keadaan bahaya, lo mbak.’

‘Maaaf ya cak. Maaf.’ Katanya resmi, ‘Oiya cak. Aku ada keponakan, anaknya kalem. Sikapnya ramah, wajahnya teduh, pakai kerudung pisan. Tak kenalin mau ya cak?. Mau ya?’

Saya geleng-geleng kepala. “Asyu, tenan’

 

*Surabaya, 07 Januari 2018

Iklan

4 thoughts on “Babak Baru Kesombongan Orang Beragama

  1. jejakandi berkata:

    Aku juga pernah mengalami hal itu, Pak. Bekaa tempat saya sholat langsung di pel. Waktu itu dalam hati maki-maki gak karuan. Tapi sekarang aku mulai memahami. ‘Yoh ben…’ gitu kataku. Kalau saja aku mau jahil bisa tuh tiap waktu sholat, sholatnya di sana biar dia capek sendiri nge pel. Tapi… 😂
    Eh, 2 paragraph terakhir itu nyentuh loh. Kesombongan beragama nampak mulai menggerogoti dan gak habis pikir… Saya bisa membenci diriku sendiri ketika tersadar, pernah terbesit dalam benak… Membandingkan orang-orang dari tampilan luar, cara berpakaiannya… Tapi itu juga tak bisa disalahkan sebab dengan sendirinya orang Jawa punya warisan leluhur ‘ajining diri ono ing lati, ajining rogo ono ing busono.’
    Pak kalimat terakhir, kayaknya sih yang sebetulnya pengen disampaikan dalam pos ini kan, Ya? Heuheuheu mau aja lah pak dikenakan. Aku juga mau lho pak… Hehehehe sugeng enjang, Nggih. Mugi sehat wal afiat selalu. Salam.

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s