Memandang Titik koordinat Uang 12 Ribu

IKIIII

@bs_totoraharjo

Salah satu karunia besar dari Allah yang tak henti-hentinya saya syukuri adalah bisa merasakan nikmatnya jelajah warung kecil kaki lima di pinggir-pinggir jalan. Tempat-tempat semacam ini tidak pernah dikotori oleh perilaku gemebyar dan gemerlapnya duniawi. Allah, pernah berkata kepada Nabi Musa, ‘Wahai Musa, jika engkau bersungguh-sungguh mencariku, temukan aku di tempat-tempat sunyi. Dan Sepi. Tidak-kah engkau menggunakan akal dan hatimu, jika ada pedagang kecil, maka tolonglah, disitulah Aku berada.’


Allah yang Maha Kasih Sayang, tidak pernah memperkenankan kepada saya dekat dengan segala macam sakit perut. He-he-hee. Toh pendekatan paling empris sehari-hari yang kita sodorkan, aktivitas kebudayaan untuk terus loading mendekat kepada-Nya. Kenyata’an hidup kita amat dekat dengan pedoman: ‘yawes, okeh, aku serahkan kepada kesaktian perutmu masing-masing.’

Umpanya kenyataan hidup saya berada pada ketiak zaman aristokrat. Zaman dimana kehidupan mainstream menempatkan kursi dan jabatan segala-galanya, alangkah repotnya kehidupan saya ketika hendak mendekat ke sebuah warung. Dan kemudian siap melahap makanan, justru terhalang oleh birokrasi tertentu. Beberapa ajudan sigap mengecek, makanan itu harus melewati serangkaian prosedur uji tes laboratorium. Makanan itu harus lolos uji. Apakah mengandung unsur-unsur yang berbahaya atau tidak?. Toh, pada detik ini kita semua amat bersyukur berada pada titik koordinat hidup manusia biasa.

Belum lama ini, seorang teman datang dari Ibu kota Jakarta, dalam rangka tugas kerja sekaligus hendak mensyukuri jalan-jalan bersejarah Surabaya. Maka sudah tugas saya sebagai ‘tuan rumah’, untuk mengajaknya mbambung ke berbagai tempat. Dengan pilihan-pilihan mbambung semacam ini, sebenarnya bisa mengurangi potensi pangsa pasar si jambret. Diam-diam, saya ajak lah ia untuk mengenal warung bakso langganan saya. Kami memesan dua porsi bakso Pak Dono. Karena ada wajah baru yang mendekat ke gerobaknya, Pak dono sigap merespon.

‘Orang mana yo, mas?’

‘Jakarta, Pak. Tapi rumah aku medan ini,’

‘Wah, gak iso jadi langganan ku ini,’ celetuknya.

Kemudian saya tertawa mendengar kerja-kerja pendekatan persuasifnya.

Tidak sampai hitungan 30 menit, seporsi bakso dalam mangkuk cap jago lenyap oleh rasa laparnya. Saya masih mengelap keringat. Sedangkan ia sudah mengelap mulutnya dengan tisu. Saya baru memesan segelas es teh. Sedangkan ia sudah menyisakan es batu dalam gelasnya. Saya tanya apakah rasanya cocok? Ia menjawab sambil.. hah-huh-hah…, dan memberi gerakan acungan jempol. Ia balik bertanya, berapa satu porsi bakso yang ia makan?. Sengaja saya tidak menjawab langsung. Tenaga jawaban saya, dengan tenaga jawaban Pak Dono, amat berbeda tingkat resonansi getarannya. Pak Dono bisa merasakan dahsyatnya perjuangan yang lebih nyata dibanding saya.

Ia mendekat Ke Pak Dono di samping gerobak, ’Berapa pak?’

‘Baksonya, seporsi 12 ribu mas,’

‘HAAAH?’ ia teriak dengan wajah tegang.

‘Serius Pak. Gilaa ini murah bangeet Pak,’ ia terkejut, ‘Kang, umpanya kalau aku kerja disini, bisa kaya mendadak aku.’ Kemudian pusat perhatian’nya berpindah, ‘Pak, misal bapak jual bakso di Jakarta, bapak cepat kayanya. Di Jakarta nih ya, Pak. Bakso semangkok tadi yang saya makan. Harganya 50 ribu.’ Ia masih tergeragap, ‘Makasih ya kang, sudah kau ajak kesini aku, ternyata uangku di sini 12 ribu masih ada nilainya.’

Kemudian bergantian Pak Dono yang tertawa, disusul gerakan membanting lap serbetnya di atas meja, lalu teriak, ‘Oh.. dampiot.. cah iki, bocah kok nyenengke ngene.’ Jika sampean-sampean semua punya perambahan luas terhadap bahasa, dari ciri-ciri aksentuasi tadi, sebenarnya sudah menggambarkan suatu daerah. Bahwa Pak Dono bukanlah orang kota. Ia orang desa. Sekali lagi, ia berasal dari pelosok daerah terpencil Trenggalek.

Hidup di tengah zaman yang mulai kabur muatan-muatan nilai kemanusian, tentu saya tidak mengajurkan anda anti terhadap kekayaan, jabatan, popularitas, saya sedang berjuang untuk terus istiqomah, terus bertahan menjadi seorang manusia biasa. Orang kecil di ketiak zaman. Manusia bloko yang tanpa pura-pura, tanpa kepalsuan hidup. Hari depan, sebentar lagi kita akan memasuki tahun-tahun bising pemilu. Menyulap manusia logam perak berkarat menjadi emas. Menyulap manusia takluk di hadapan kemegahan dunia. Derajad siapakah yang lebih tinggi dihadapan Allah yang Maha Agung: materi apakah kemanusian kita?

Know i’m such a fool for you. Bangsa Indonesia hari ini semakin tidak mengerti gejala-gejala kehadiran Allah: yaaa ayyuhallaziinna aamanuu lima taquuluuna maa laa taf’aluun: ‘Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau kerjakan?’

 

Surabaya, 19 Oktober 2018. @bs_totoraharjo.

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s