Orang Besar di Persimpangan Zaman

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Di tinggal kawan dekat yang sudah akrab membuat siapa saja merasakan kehilangan. Sarapan pagi dengan menu pecel yang biasanya menu paling enak, entah kenapa, mendadak rasanya turun drastis menjadi makanan biasa saja. Satu hari menjelang beliau mundur dari pekerjaan, pagi itu di kantor, di-ajak-lah saya muter-muter mencari sarapan di sebuah rumah makan. Kami berdua memakai sendal jepit. Mobil kita melaju menjauh dari kantor. Di dalam mobil, kami berembug, menghapus menu satu persatu: rawon, soto, dan gorengan, kami singkirkan sementara. Hingga tiba berhenti di lampu merah, kemudian sepakat pada pilihan:

‘Oke, nyoh, awake dewe makan pecel wae, yah?’ Katanya, menawari,

‘Enggeh, Pak. Beres!’

‘Kalo yang ini kayaknya sampean cocok, nyoh. Ada sayur kembang turine,’ katanya lagi, mengacungkan jempol. Nyo, setara dengan jancuk, sapaan ke-akraban budaya.

Godong keningker Pak,’ aku menoleh ke arahnya,  ‘Godong keningker? Ono ora, Pak,’

Beliau tersenyum tenang. Mendadak kakinya menginjak rem. Kemudian mematikan mobilnya dan membuka pintu. Sebelum turun, wajahnya menatap saya amat serius, dan berkata, ‘Hoo… cah deso. Ayuk ndang mudun. Takon bakule kana, mosok aku hapal. Lha wong kesini wae baru sepisan iki!

Kemudian aku bergegas turun, lalu terjadilah adegan kenang-kenangan, ‘Puas-puasno, ya, Pak, besok-besok kan sampean wes enggak bisa guyonan sama aku,’ kemudian kami tertawa ngakak-ngakak sepuasnya. Seperti hubungan seorang anak dengan bapaknya. Hidup di tengah zaman feodal antara atasan dan bawahan, adegan langka seperti ini bisa terjadi karena ketulusan hati dan sikap kemanusiaan.

Beliau berjalan di depan, dan aku ngetut buri dibelakangnya, setibanya di depan rak makanan, seorang ibu-ibu penjual berpakaian batik dengan rambut digelung menawari amat kalem, ‘Mau makan apa, ya Mas?’, lantas, Pak-kepala-cabang itu, juga menjawab, ‘Pecel semua, ya Bu,’ dan kemudian, beliau memilih tempat duduk paling pojok. Aku berhenti sejenak,  bertanya-tanya dengan ungkapan entitas desa, ‘Sayur keningkirnya ada, gak Bu?’

Lah-lah!’ Wajahnya agak terkejut, ‘Kok sampean ngerti keningker, Mas?. Wah.. pasti bukan orang Surabaya sini, ya?’ tanya-nya.

‘Coba ibu teliti. Dari suaraku, aku orang mana?’ aku mengajak pikirannya untuk kerja-kerja indetifikasi.

‘Ponorogo? Pacitann… Tegaaall?’

“Salah semua bu. Aku dari Panggul, Bu. Panggul-Trenggalek,’

“Ha-ha-ha, pantes. Mas.’ Katanya, sambil meletak-kan sepotong tempe goreng di atas sayur,’ Pantes Medok,’

Di jam 9-an pagi itu aku bertemu terakhir kalinya dengan beliau. Di atas meja makan ngobrol berbagai tema. Dua porsi pecel pincuk dengan dua gelas teh tawar hangat mengantarkan kami kepada masa silam. Kota dan segala macam budaya mentropolitan membuat kami senantiasa rindu pulang kembali ke desa. Sedangkan pecel adalah bagian dari entitas budaya jawa. Hidup di kota, entitas jawa  tidak kita letakan paling depan dalam segala urusan. Kita sudah lama memunggungi desa. Padahal, sekali lagi, itulah rumah kita.

Kita di sedulurkan oleh budaya desa semacam itu di tengah egoisme kehidupan kota. Dalam proses kerja sosial cita-cita membangun peradaban: desa bukan satuan waktu yang berada jauh dibelakang yang kemudian kita tinggalkan. Desa adalah masa depan bagi Indonesia dan dunia. Akan tiba Peradaban jawa – sengaja saya menulis dengan huruf ‘P’ besar – akan ngemong seluruh umat manusia.

 

*Cuplikan cerita ini di ambil dari draft naskah buku baru 2018 yang sedang saya kerjakan.

Kang Bs. Totoraharjo

Iklan

Satu respons untuk “Orang Besar di Persimpangan Zaman

  1. Ping-balik: B. S. Totoraharjo

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s