Buta Huruf Medis Dan Konsep Puasa

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Kalau ada sesuatu hal dalam kehidupan ini yang saya hampir sama sekali buta huruf adalah tentang masalah kesehatan. Mungkin saya hanya sedikit tahu bagaimana pola perhubungan metabolisme mikro dari ilmu kesehatan yang pernah dilakoni oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW: ‘Mandek makan sebelum kenyang’. Sengaja saya tulis ‘M’ dengan huruf besar karena islam adalah kata kerja. Hal itu terkait dengan konsep puasa.

Yang saya hanya sedikit tahu bagaimana pengelolaan kesehatan diri saya sendiri. Umpanya, kalo sedang lapar perut saya tidak menolak untuk disantuni dengan berbagai menu makanan warung kaki lima. Untuk dibidang pengelolan tenaga, dan fisik, badan letih saya manut-manut saja saya rebahkan di atas ubin lantai. Toh, enak dan nikmatnya, istirahat tidak terletak pada seberapa empuk dan mewahnya ranjang tidur di kamar. Melainkan sebab mata sudah byarpet, tidur dimanapun bisa. Sak enggon-enggon.

Istilah-istilah di dunia medis, bukan main sukarnya untuk saya pahami dan lacak jejak-jejak rambahan kepustakaan dan pikiran alam ilmiahnya. Ampun! Saya hamba yang sangat bodoh dan udik sekali. Maka itu saya mengunakan ijtihad ala kadarnya. Untuk mengetahui makanan yang saya makan hingga masuk ke perut dan kemudian terjadi mekanisme produksi maka lahirlah istilah fases. Allah Hu Akbar…, bukan main saya takjubnya.

Tenaga dan waktu yang saya keluarkan untuk mempelajari ilmu medis sama porsi dan frekuwensi energinya untuk mengetahui ilmu laduni tingkat tinggi. Satu-satunya pengetahuan yang saya pegang sekarang: Semakin banyak tulisan bermutu yang saya tuangkan di medium ini, semakin besar pula potensi buku-buku saya untuk laris terjual. Karena saya ingin cepat kaya dan bisa segera membiayai niat-niat baik saya untuk keperluan masyarakat luas. Wanita mana yang tidak tertarik dengan laki-laki yang punya cita-cita sosial?. Ha-ha-ha.

Lha kok hari sabtu akhir bulan yang lalu saya takluk dan harus bersentuhan dengan dunia medis. Sesudah baa’da isyak, datanglah saya ke seorang dokter dengan badan krekes-krekes. Bersamaan dengan agak berontaknya punggung saya, sesudah saya porsir habis-habisan. Yaa sudah, oke, saya turuti apa kemauanya. Saya pasrah!. Saya rebahan di ruang pemeriksaan, di ceklah tekanan darah saya. Si dokter diam. Saya sampaikan apa-apa keluhan saya. Si dokter masih diam.

Lalu di resepkanlah saya ke apotik bagian ruang depan, kemudian saya menebus obat dengan beberapa lembar uang. Baru sampai di kamar, saya segera duduk, megecek beberapa lembar obat. Kaget. Saya hitung jumlahnya ada empat tablet. Bermacam-macam nama obat, jenis, dan kegunaannya beserta efek samping konsumsinya. Bagaimana obat-obat ini bekerja? Sampai seberapa lama saya harus mengkonsumsinya? Kenapa harus diminum tiga kali sehari? Kenapa harus ada efek sampingnya?. Dan sederet pertanyaan bersifat ijtihad terus menjejal pikiran saya. Ternyata,  buta huruf pada dunia medis membuat diri saya amat rewel.

Pertanyaan-pertanyan itu tak mampu saya dekati dengan jawaban kritis. Semakin saya tanya ke kanan dan ke kiri dan kemudian mendapat sebongkah informasi semakin tak empiris pikiran saya. Saya tidak punya segenggam pengetahuan gerangan obat medis yang berada di tangan saya sebagaimana kepercayaan diri hendak menikmati secontong nasi yang manjamin memulihkan tenaga saya. Aduh, saya ini sedang tak enak badan, masak di suruh pikiran bekerja ekstra macam-macam. Dari pada semakin rewel. Saya ambil jalan tengah.

Agar obat dan kerja silaturohmi medis  itu memiliki nilai manfaat, saya ambil satu butir dari sekian empat tablet. Saya minum dengan segelas air putih. Saya minum dengan semangat kebudayaan tadadur: ‘wa kuluu wasyrobuu wa laa tusrifuu…’ Bangun-bangun menjelang dini hari, saya takjub untuk yang kedua-kalinya. Saya mengambil posisi duduk, udara malam itu agak segar, saya raba-raba badan saya. Terasa sangat ringan, suhu badan saya kembali adem. Alhamdulillah, ternyata ada enaknya juga menjadi manusia rewel.

*Surabaya, 07 Febrruari 2018

Kang, BS Totoraharjo

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s