Merindukan Kotbah Cinta Pak Khotib

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Ungkapan pengalaman hikmah sukar sekali di jumpai dalam khasanah tradisi mimbar-mimbar kotbah jum’at. Beratus kali saya menghadiri kotbah jumat. Beratus kali telinga dan pandangan mata saya bersilaturohmi, duduk mendengarkan dihadapan bapak Khotib tercinta itu. Saya  menggeser kedudukan saya, berpindah tempat dari masjid ke -masjid. Dengan perambahan tema tema materi yang  luar biasa variatifnya. Saya kagum. Oh Pak Khatib, kotbah jum’at kali ini tergolong luar biasa.

Ada Pak Khatib dengan pendekatan ortodok yang mendekati jamaah untuk menggandrungi akhirat dan bergerak menjauhi duniawi. Di mimbar yang lain, ada pula isi ceramah yang diungkapkan dengan ledakan emosi Pak Khatib bagaikan jilatan api neraka yang siap menyambar-nyambar kaki-kaki jama’ah. Tuhan diposisikan sebagai birokrat, birokratis, dan maha mengancam. Ada juga isi tema kutbah yang amat, abstrak, mengambang, hingga ajakan taqwa yang  di sampaikan bagai jargon-jargon canggih yang kehilangan pengaruh tenaganya.

Pada sesi kesempatan mimbar masjid tengah kota,  “Hadirin sidang jum”at yang berbahagia?” Kata Pak Khatib yang kesekian kalinya. Kemudian seorang teman saya yang sedang hangat-hangatnya mengenal islam, mencolek lengan saya dari belakang, “Kang… kang…” dia berbisik di telinga kanan saya. Tangannya menunjuk-nunjuk jam tangan di lengannya. Saya menoleh. Sudah jam satu kurang lima belas menit. Artinya kotbah jumat sudah 45 menit berlangsung.

Aduh aku tak bisa menjawab. Teman saya itu wajahnya menampak-kan suatu perubahan yang tajam.

Oke. Tidak apa-apa lama-lama Pak Khotib. Tapi plislah. Ingatlah kami-kami yang bekerja kantoran yang di dekte oleh jam masuk yang amat disiplin. Ingatlah pula seorang simba-simbah tua yang berangkat ke masjid memakai tongkat, yang duduk tiga puluh menit saja encok dan rematiknya mulai mengancam kenyamanan ibadahnya. Sementara taraf ketaqwaan kami-kami masih memble dikepung oleh situasi hidup yang semakin menghimpit, aduh, kami-kami masih jauh dari sapaan, ‘Jamaah kotbah Jum’at yang terhormat!’

Umpamanya aku langsung interupsi, jelas aku tidak memenui konsep kesopan-santunan di mimbar yang sangat suci itu. Akhirnya aku pun memilih ‘puasa nyangkem’ kemudian memilih menulis di ‘medium ini’ sebagai bahan kontemplatif kita bareng-bareng. Kotbah jum’at di metropilitan kurang menjabarkan, ‘inna akramakum ind Allāh atqākum’.. ‘sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa.’ maka kalau toh manusia harus di parameteri tinggi-rendahnya, semestinya dengan pertimbangan apa yang telah diraih dan diperbuat.

Saya sedang tidak ingin menggungat apa yang sedang saya cari dari khasanah intelektual islam di pusat-pusat perkembangan mimbar abad 21. Mungkin diri saya — bisa juga dengan orang lain — sedang proses islah kepada diri sendiri dan merenungi kandungan nilai yang sedang saya pelajari:  baik dan mulia mana antara orang yang diberi ilmu dengan orang yang mencari ilmu?. Maka itu aku titipkan pengalaman kisah ini kepadamu.

Aku sendiri sedang merenungi, jika islam disampaikan  hanya dengan ‘bab’. Dari tema ke tema, yang tidak punya tanggun jawab terhadap ilmu, dan penyelesaian problem-problem masyarakat, hal semacam itu jamak terjadi, sebagaimana masuk telinga kanan – kemudian keluar di kuping kiri. Menurut logika sejarah moral Muhammad Saw, kita belum muslim. Kita sudah ber-Ahqlak-kah? Bagaimana pemakana’an ahklak yang sebenarnya di zaman ini?. Apa sebatas ruang lingkup hubungan cinta kasih kepada sesama?. Kotbah adalah ruang-ruang ilmu sosial dan spritual yang digabung menjadi energi kehidupan.

Kali ini aku mendengar kotbaah jum’at di masjid belakang rumah di desa, para jamaah duduk tafakur mendengarnya, sesudah Pak Khotib mengeluarkan ungkapan pamungkas sosialnya, ’Para jama’ah yang saya cintai. Rasa welas asih bisa menghidupkan hati kita untuk saling  memberi maaf-me-ma’afkan, dan bisa menghidupkan ‘bentuk’ kebaikan-kebaikan yang lain. Bentuk kebaikan-kebaikan itu luas. Bisa kita artinya welas asih tidak hanya kepada manusia. Tapi mencintai alam, hewan, dan seluruh isi alam semesta.

Kotbah jumat kali ini yang mengisi di masjid belakang rumah desaku bernama Lek Syamsul. Sengaja aku menulis dengan kata ‘Lek’, karena sebutan nama ustadz, ulama, mengalami dekaden pemakanan yang begitu dahsyat tingkatan kronisnya. Di tengah-tengah suasana mimbar perkotaan yang jauh dari kesejukan, kesantaian beragama. Di tengah-tengah kehidupan kota yang saling mempertontonkan perilaku keganasannya terhadap kelompok lain, orang-orang kota harus belajar kepada kotbah desa semacam itu.

Karena itulah ‘Lek Syamsul adalah jargon firman Allah yang sangat hidup: Fastabiqul khayrat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

*Dusun Pinggir, 16 Februari 2018

*Kang BS. Totoraharjo

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s