Tahun Pemilu “Panggil Aku Gus”

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Beruntung sekali pada hari libur kemarin aku berserta teman-teman bisa klayapan silaturohmi ke kota Situbondo. Kami kesana berangkat dari Surabaya dengan menyewa kendaraan yang lumayan cukup nyaman untuk digunakan. Tapi cerita ini tolonglah jangan diasumsikan dengan dua hal: seorang pemuda yang mapan. Dan pemuda yang religius. Aku sendiri masih jauh dari hal semacam itu. Haha-haha.

Jika hari ini tema-tema ngobrol kita tentang makna dan darmabakti. Hal ini penting sekali untuk di rambah kandungan nilainya. Religi arti kata dari agama. Sedangkan religius itu terkait hubungan kesadaran kita yang terkonektisitas dengan hati, penglihatan dan pendengaran — sesudah menangkap gejala dan fenomena sosial di sekitar keberadaan kita. Sedangkan aku sendiri saja masih terus berjuang untuk berada pada posisi tersadar. Mengasah kepekaan terus menerus.

Jika aku bersilaturohmi ke pondok pesantren, tidak lantas engkau sematkan di depan namaku dengan label “Gus”. Jika aku ajek menghadiri komunitas majelis di berbagai tempat, tidak lantas pula aku calon seorang kiai. Dua nama itu dalam sejarah islam indonesia adalah hasil budaya pemikiran suci dari mata batin masyarakat. Imam ya ditunjuk oleh makmum. Dalam hal ini berarti proses memperoleh kepercayaan. Sedangkan peran kontribusi sosialku saja masih mines. Sampai sejauh ini aku masih berusaha pada merekam apa yang dibuang orang, mengingat apa yang dilupakan orang.

Beruntung sekali dalam perjalanan kemarin pandangan mataku masih prima di tengah kondisi badan yang agak krekes-krekes. Menjelang musim pemilu, baliho dan papan papan reklami di pinggir jalan dimeriahi oleh tokoh-tokoh elit politik yang sedang memperkenalkan, menghadirkan “nama” dirinya di ruang publik.

“Kenal yang itu kang?” Tanya seorang teman rombongan sambil menunjuk papan reklame.

“Oh.. babar pisan gak kenal kang” jawabku langsung. Dia bertanya lagi, mengupas, “bukanya sering muncul di media-media masa, ya? Itu kan yang suka clamitan… kok ada nama Gus-nya di papan reklame sih.?”

Aku menoleh kepadanya. “Gus kan anak kiai ya kang. Apa yang sampean maksud itu anak kiai sungguhan atau sedang ndempel-ndemel sebutan gus atau kiai. Yaa… sumangga di cari saja kang.”

Kemudian aku bercerita kepadanya. Kiai dan gus di desa kita di kenal orang baik sekali. Punya sejarah panjang tentang totalitas darmabaktiknya kepada masyarakat diberbagai bidang. Dari mulai merintis membangun pondok pesantrenya dari uangnya sendiri sampai menghabiskan sisa-sisa usianya untuk memikirkan perkembangan masyaratknya. Ini sangat berat, kau tak kan sanggup, biar Kiai saja.

“Ohh…yang itu berarti gus versi pemilu yo kang?” Tanyanya lagi mengejar.

Aku tak sanggup menjawab. Kemudian aku bercerita menuturkan pengalamanku.

Tahun-tahun lalu menjelang pemilu. Ada seseorang yang mencalonkan presiden dengan menaiki becak, padahal sejarah hidupnya tidak pernah berkayuh becak. Ia tidak merasakan was-was apakah hari ini dapat penumpang atau tidak? Apakah bisa makan atau tidak?. Gaya ‘kampanye’ politisi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan mutu kemuliaan:

Di papan-papan canggih visual kita. Nama besar Pak Soekarno dan Gus Dur, tidak di letakkan pada posisi menghormati martabatnya. Segala macam atribut, foto beliau, kutipan-kutipan kalimatnya di eksploitasi untuk menarik dukungan besar masyarakat.

Di wilayah arus bawah. Gaya eksploitasi kampanye juga terjadi. Gendong bayi atau anak-anak, makan di warteg, naik pesawat ekonomi, cium tangan ibu-ibu tua. Blusukan ke pasar-pasar. Sumuannya mendadak dekat sekali dengan masyarakat kecil.

Di depan mata kita, hari ini jamak terjadi para calon wakil aparatur negara, para calon pejabat semakin canggih dan taktis merayu masyarakat, melebihi strategi canggih setan yang hendak menggoda manusia. Agama dan Tuhan di ajak ikut “berkampanye”. Jadi sampean tau kan sekarang. Bangsa Indonesia semakin jauh dari: baldatun toyibatun warobun ghofur. Tak apa-apa zaman semakin berat dan ekonomi semakin mencekik. Asal disekitar kita masih banyak orang yang mencintai dengan tulus.

*Brandal Lokajaya

*Surabaya, 27 Februari 2018

 

 

 

 

 

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s