Bersilaturohmi Ke Jalan Madura

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Allah menyuruh kita menjadi orang desa. Orang jawa. Kemudian salah satu karunia besar dari-Nya yang tak henti-hentinya kita syukuri hari ini dan selamanya adalah ‘fasilitas’ silaturohmi. ‘Bersaudara tapi tak sedarah’. Ungkapan kharismatik ini ada di dalam Al-Qur’an yang mengalir dan hidup di dalam darah kita masing-masing. Kemudian silaturohmi itu yang sampai detik ini melahirkan peradaban islam yang kita kenal selama ini sebagai mudik.

Izinkan aku hari ini bertutur sebagai pendongeng kontemporer sekedar untuk berbagai kenikmatan. Tahadudts binimah. Pertengan bulan yang lalu, dari desa ke kota, aku dengan kawan karib-ku pada suatu hari senin, melakukan kunjungan persaduara’an. Yang pertama, datang ke daerah Campur Darat –Tulung agung — untuk memastikan pesanan maesan  sedulur pondok terkirim hari itu juga ke pelosok desa di ujung Jawa Timur.

Satu jam berikutnya, kendaraan kami tiba di kota tempat almarhum bung Karno di makamkan. Berkunjung ke rumah sahabat yang beberapa bulan yang lalu mengundurkan diri dari kantor. Dengan sangat resmi aku tulis – beliau bekas kepala cabang yang mundur dengan kepala terhormat. Kawan karib-ku itu sudah aku ceritakan tentang sepak terjang beliau yang sengaja mundur dari pekerjaan untuk menyelamatkan dan mengamankan kelangsungan pekerjaan rekan-rekannya. Maka sebagai seorang muslim kerja-kerja seperti itu, disebut, ‘assalamualaikum.’ Menyelamatkan harta benda, nyawa, dan martabat manusia dalam wilayah komunitas.

Maaf – aku belum bisa bercerita detail tentang tema-tema obrolan kami di rumah beliau. Di ruang tamu itu, beliau bertanya,

‘Nerbitin buku lagi?’

‘Harus Pak. Ini lagi nulis buku ketiga,’ kemudian pikiran-ku mengambang, memandang wajah beliau, aku berkata dalam hati, ‘Padahal ada salah satu bab, yang sengaja aku tulis khusus cerita tentang beliau dan kiprah pemimpin di era modern,’

‘Tema apa lagi?’

‘Yaaa.., masih rahasia, Pak, ha-ha-ha!’ jawab-ku agak cengengesan. Sengaja secara diam-diam, kisah hidupnya amat layak aku tulis. Menjadi bab khusus tersendiri. Hal ini penting karena sebuah prinsip besar: mengingat apa yang dilupakan orang. Menjunjung apa yang di remehkan orang. Pemikiran-pemikiran seperti ini, aku peroleh dari pengembaran majelis maiyah-ke-maiyah.

Mata dan pendengaran saya menjadi saksi. Beliau seorang yang sangat baik dan ramah, karena ada tamu yang datang dari jauh, istrinya yang siang itu masih dinas bekerja, dijemput-lah pulang ke rumah hanya untuk bersalaman dengan kami. Dan berkata:  ‘Oh mas boedi toh, yang datang,’ sejenak kepala saya belajar, hangat sekali cara menyambut seorang tamu. Karena jatah waktu sore semakin mengancam, kami di ajak-lah makan di sebuah warung ayam geprek di tengah kota. Selesai makan, dan kembali pulang, beberapa detik kami membuka pintu rumah, di panggilah anak mbarep-nya,

Lhe.., ada tamu ayah. Dari trenggalek’

‘Iyah, yah, tunggu,’

Aku dan kawan-ku, salaman dengan anak mbarep-nya.

‘Itu anak-ku yang aku ceritakan kemarin, yang ikut les gitar, Boed.’

Aku manggut-manggut, ‘Oh…, aku kalau gitar bisa sih Pak, tap….,

‘Ohh bisa gitar toh? Tak ambilin ya, gitar sekarang,’ katanya, menawari.

Aku mak-tratapan, ‘Modyar!’ batin-ku,

‘Udah sore, Pak, yuk balik,’ kataku ngeles, karena udah lupa cara mainnya.

Sore yang semakin datang. Dan mendung yang semakin gelap membuat kami untuk segera bergegas pamitan. Sudah jam tiga sore. Satu jam kami berada di rumah beliau. Aku dan kawan-ku yang akan merencanakan pernikahan mendapat hikmah, bagaimana membangun keluarga yang penuh kehangatan dan tata-krama. Dua kardus kue brownis bingkisan dari beliau menandakan perjumpaan silaturohmi berada di ujung senja. Waktu yang sungguh bermutu itu, berakhir dengan,  ‘Hujan mas, tidur sini saja, besok pagi wae pulangnya ya?’ kata beliau.

‘Gak bisa Pak. Kan trevelku berangkat ke Surabaya jam 8 malam, nanti!’

‘Kang Ibnu juga besok harus ngajar Pak!’ aku melihat inu, ‘Iyaa Pak, bener, besok aku ngajar,’

‘Laah, kirain besok balik ke Sby-nya,’

Kami kemudian bersalaman, lalu berpamitan, ‘Ngapuntene seng katah, ya Pak, kalau merepotkan. Besok-besok gantian, njenengan yang main ke rumah Trenggalek-Panggul,’ Di depan pintu beliau segera menjawab, ‘Gak-lah, Nyoh, seneng aku sampean bisa datang ke sini. Berarti gak omdo, gak omong-doang.. hahaha’. Lalu aku menjawab, ‘Orang Trenggalek kok ditantang silaturohmi, yo tak budali Pak.’  Kemudian kami tertawa bareng-bareng. Senyum tulus kebersamaan terakhir siang itu terjadi dengan hangat. Pelan-pelan kendaraan kami meninggalkan kediaman beliau. Kami melewati gapura depan.  Papan nama JL. Madura semakin jauh semakin tak terlihat. Persaudaraan tak sedarah yang amat membekas dalam hati.

*Tunggu cerita selengkapnya di naskah buku berikutnya

B.s_totoraharjo

Surabaya, 10 Maret 2018

Iklan

3 respons untuk ‘Bersilaturohmi Ke Jalan Madura

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s