Merindukan, ‘Ya Shobirin Ya Salam…’

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Hari ini kita sama-sama menunduk-kan wajah di depan beliau yang satu ini. Ia adalah tokoh sumber kebahagiaan bagi semua orang. Aku sebut tokoh di sini karena namanya teramat istimewa dari pada nama-nama tokoh politik yang beredar dihalaman depan media masa. Tentu apa istimewanya tokoh-tokoh politik papan atas hari ini, yang sejarah eksistensinya menyusahkan seluruh bangsa Indonesia – bagi saya, Shobirin punya tempat istimewa di hati orang-orang yang di jumpainya.

Sesudah menghadiri majelis Maiyah Mocopat Syafaat di Bantul, rombongan kami tiba di Surabaya sekitar jam lima sore. Di dalam kendaran beroda empat itu berisi tujuh orang. Kami semua orang desa yang sedang visabililah menatap masa depan di ibu kota. Yang dua orang sudah turun ditempat kosnya masing-masing. Setibanya di jalan rungkut — sesudah ‘toko besar klontong’ — aku bertanya pada salah seorang kawan yang lulu-lintas pekerjaan-nya mubeng dari daerah ke daerah.

‘Hendak berangkat jam berapa trevelnya kang?’

‘Di jemput jam 8 kang,’

‘’Jumat, sabtu, minggu, kita keliling kota Jogjo,’ kata Mas Agus, ‘Saiki dino minggu, terus budal nang Banyuwangi, urepmu kok nek dalan terus lo kang?’

‘Iyoh cah, uwong uripe kok nek nduwur ban,’ jawab Shobirin, polos.

Semua orang tertawa renyah sekaligus memegangi perut masing-masing. Mayoritas semua orang bisa membuat orang tetawa, tapi tidak semua orang memiliki wajah lugu dan polos. Dan kode-kode Allah itu tertulis: Fi Anfusiqum. Itu semua adalah kedahsyatan kekayaan Allah yang di ‘antarkan’ melalui estetika kesenian lewat orang-orang dusun semacam itu. Shobirin adalah wajah asli orang jawa yang di rindukan oleh bangsa Indonesia yang semakin jahat menggusur identitas kampung halamannya. Yaa shobirin ya salam.

Kalau engkau membaca pengalaman ini kemudian tumbuh pengharapan untuk menemukan kisah hebat, prestasi dan pencapaian layaknya ‘tokoh’ dunia intertaiment, ‘tokoh politik’, yang di-take camera sedang menyantuni anak yatim dan menjadi bahan tontonan kita semua. Stop. Saya sarankan. Jangan teruskan membaca tulisan ini. Apa hebatnya berbagi, sekaligus membusungkan dada?. Apa hebatnya memberi, membuat posko, lalu di atasnya tertancap sebuah baliho besar?. Kita semakin menggusur kejujuran hati sendiri. Kepalsuan amat dekat dengan kriminalitas.

Izinkan-lah sesosok yang saya ceritakan ini dengan menyebutnya sebagai saudara karib. Agar saya dan tentu sampean juga, lebih dekat dan terhindar dari kecenderungan feodal. Karena nama tokoh sangat asosiatif dengan aristokrasi kelompok elit tertentu.  Terus terang, aku banyak belajar darinya, pada saat itu, namanya sempat berminggu-minggu menjadi primadona di kantor tempat saya bekerja, karena ucapannya mengandung kedalaman ruhani, ‘Wong aku huruf Iqro wae ra tau moco, kang, mosok kon ngerjakne tes-tesan huruf gundul ngene iki?’

Ungkapan itu di sampaikan sesudah ia mengerjakan soal-soal psikotes. Lagi-lagi semua orang tertawa bebas. Seorang kepala cabang saat itu, memanggil saya ke ruangannya. Di depan saya, ia menampak-kan wajah serius, guratan di dahinya menunjuk-kan sesuatu yang real, ‘Kang, kancamu kae orang jujur, orangnya polos, orang HRD Jakarta banyak yang suka.’

Di manapun ia berada dan dengan siapa ia berjumpa, ia telah membuat aturan baku terhadap dirinya sendiri: menggembirakan dan menyenangan hati semua orang. Di komunitas kami anak-anak majelis Maiyah Panggul, ia sudah sering kali menghibur sekaligus mendidik kepala kami sekeras-kerasnya. Saat itu, dalam rombongan kendaraan menuju daerah di pelosok Jawa Timur, ia membuat pengakuan, ‘Kang, bioskop itu kayak apa, toh? Lha aku belum pernah masuk toh?’ Semua orang tertawa bukan main kerasnya.

Di tengah-tengah kepungan arus modernitas ia justru naik sekoci melawan serbuan dahsyat kebudayaan mainstrem. Bagaimana ia akan masuk dan mengenal bioskop, sedangkan di dalam dirinya sendiri adalah panggung hiburan, panggung etalase terdepan orang-orang mampu mengenal dirinya sendiri, lalu membasuh badan rohaninya dengan ‘Man’ arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu’. Ini bukan gugatan manusia menceraikan benda-benda asing di zaman modern, tapi siapa memimpin apa? Dan apa memimpin siapa?. Semuanya dialektis.

Di kantor tempatnya bekerja, semua orang rindu jika tak melihat Shobirin dalam beberapa jam sesudah pamitan, ‘mau ke Polda dulu, bu’. Bapak dan ibu pimpinan, sekaligus rekan-rekan kerjanya, lari tunggang-langgang mencari keberadaan Shobirin melalui pesan wasshaap. Ternyata, segera ia merespon, ‘Iya, ini mau balik, kantor bu! Tadi mampir warung beli rokok!’ anda, tahu, ia tidak sedang kemana-mana, melainkan, duduk di dalam Masjid.

Sebanarnya masih banyak cerita-cerita segar, lucu, penuh romantisme, yang saya dengar darinya. Pernah di suatu mejelis Maiyah bang-bang wetan, ia membocorkan arti namanya kepada saya, yang di ambil dari Qur’an, tapi biarkan tulisan ini mandek di sini. Jika pada suatu hari ada hamba Allah yang mencibir, membuly, perilaku kebudayaan jawanya: percayalah, saya Bs. Totoraharjo siap berjalan paling depan untuk membela martabatnya.

Surabaya, 23 Maret 2018

Bs. Totoraharjo

 

Iklan

3 respons untuk ‘Merindukan, ‘Ya Shobirin Ya Salam…’

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s