Buku, Meja, Dan Pengalaman Berbelanja

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Urutan pertama belanja online yang sering kali saya kerjakan adalah membeli buku dan kitab-kitab islam klasik. Dalam sebulan, sesudah gajian, saya menganggarkan dana khusus untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan isi kepala minimal dengan membeli buku lima eksemplar. Sengaja saya memilih kata ‘menganggarkan’ bukan ‘menggelontorkan’, karena kata ‘menggelontorkan’ amat asosiatif dengan kejahatan korupsi. Sedangkan isi dompet saya, serius saya jamin seratus persen:  halal. Hee-he-hee.

Jauh-jauh hari sebelum saya hendak pergi ke toko buku, biasanya saya me-list judul-judul buku bermutu apa saja, dan dari penulis siapa saja yang hendak saya konsumsi. Dunia literasi memang syurga bagi penikmatnya. Tentu buku-buku yang hendak saya target, tidak semuanya tersedia di toko buku. Berburu buku bagi saya sama halnya petualangan menemukan sebongkah emas.

Saya punya pengalaman bersentuhan dengan dunia toko buku: Ada dua hal yang membuat saya senang saat berada di toko buku. Pertama jelas adalah potongan diskon sampai 15%. Sekaligus bonus memandang keramahan estetika mbak-mbak kasir tanpa basa-basi ‘prosedur approach. Berikutnya pengalaman personal touch dari seorang bapak-bapak penjaga parkir berkumis yang amat ramah dan menunjuk-kan sikap tulus perusadaraan. ’Sebentar, ya mas, boleh minta karcis parkirnya?’ katanya sambil berkali-kali menundukan kepala, kepada setiap pengunjung toko.

Sentuhan-sentuhan lembut semacam itu, kenikmatan pelengkap, selain suguhan bau harum tumpukan buku yang baru saja keluar dari mesin percetakan.  Apakah saya sudah kecanduan terhadap dunia literasi? Sampai sejauh ini, buku juga bagaikan zat adiktif. Buku adalah investasi, memang penampakan wujud fisiknya hanyalah tumpukan-tumpukan kertas yang segera usang dimakan zaman, tapi bagi saya itu adalah syurga kecil dimana nilai otak kita semakin dekat dengan kebudayaan bernilai tinggi.

Ah, kadang aku kurang beruntung juga!

Sering kali buku-buku yang saya incar sudah tidak ada lagi stock-nya di toko buku. Alias ludes. Bisa juga sudah tidak dicetak lagi. Akhirnya! Sat-set-cas-cus. Saya pun segera menengoknya ke pelapak-pelapak online yang menggelar dagangan-nya di media sosial. Buku-buku karya Cak Nun dan Cak Nur, dan lain sebagainya, yang di-terbit-kan tahun-tahun masa silam, misalnya, saya peroleh dari sebuah akun twitter yang sering ngeposting jualan buku bekas di lini-masa. Oh, sekarang saya yakin, buku selalu berjodoh dengan penikmatnya.

Untuk mendukung kerja-kerja perenungan, pemikiran, dan ijtihad — yang kemudian saya pindahkan menjadi sebentuk tulisan. Belum lama ini saya membutuhkan meja portable leptop agar mudah dibawa kemana-mana dan nyaman untuk dipakai. Karena kebutuhan jenis barang ini mendesak dari pada baju, kopyah, dan sarung, saya pun memutuskan untuk membelinya via toko online. Meja portable ini hanya di jual di toko online, maka saya pun segera melakukan riset kecil-kecilan tentang perbandingan harga dan kualitas produk.

Untunglah ada aplikasi Tokopedia, ada fitur yang memudahkan kita memilih harga sesuai kemampuan ‘anggaran belanja’. Tersedia, dari harga tertinggi sampai harga yang paling murah. Lengkap beserta ulasan-ulsan segar dari berbagai pembeli seantero nusantara. Jadi tumpukan ulasan ‘kertas-kertas digital’ itu,  menjadi bahan referensi kita untuk melakukan berbagai pertimbangan yang pas. Di sana, seluruh penjual tumplek-blek menjadi satu: yang menyebabkan harga barang semakin bervariatif.

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat berbelanja meja leptop portable di Tokopedia. Saat itu nama akun penjualnya berada di kota Bogor, dan saya memakai alamat pengiriman ke kantor, Surabaya. Terhitung tiga hari, pada hari Sabtu siang, barang pesenan saya sudah sampai di kantor via kurir. Karena meja loptop portable ini taraf kebutuhannya amat mendesak, saya buka kardusnya. Segera saya keluarkan barangnya. Dari ujung-ke-ujung saya cek keadaaan kondisi fisiknya. Keren. Bagus. Tapi ada sedikit pesok di bagian alas-nya.

Segeralah saya menghubungi pihak penjual, saya komplain,’ Maaf ya mas, barangnya pesok!’ lalu kemudian foto-foto bagian yang pesok saya kirim kepadanya.

Gak nyangka, si penjualnya ramah, dan merespon cepat, “Waduh, itu penyok waktu pengirimannya mas.’ Komentarnya,

‘Terus gimana enaknya, Mas?’

Kami pun akhirnya berembug hangat, ‘Kirim balik lagi aja ya, Mas, nanti saya ganti yang baru, mau?,’ katanya menawari, karena pesoknya gak terlalu dalem, akhirnya saya mencoba untuk memperbaiknya secara manual.

‘Bentar ya mas, yang pesok saya tekan dulu dari dalem,’ jawab saya, ‘Oh, masih oke ternyata mas,’

‘Mas, karena barang yang di terima kurang bagus, saya potong harga aja ya, Mas.’

Saya pun setuju sekaligus berbahagia, ‘Okee mas.’ Lalu dalam beberapa detik, saldo di akun Tokopedia saya bertambah menjadi Rp, 25,000. Alhamdulillah, nominal yang cukup besar asalkan kita menggalinya dengan rasa bersyukur.

baca juga: Private Villa untuk Honeymoon

Karena saldo di akun Tokopedia saya belum cukup membeli tiket kereta api. untuk jalan-jalan ke kota Jogja, dan belum cukup juga untuk membeli tiket konser musik, saya pun memutuskan untuk kembali seperti biasanya: menabung. Menata anggaraan, dan tetap setia mendekat  kepada buku-buku. Karena dengan buku-buku, pengetahuan tak membawa kita pada marabahaya. Kesempitan, kedangkalan, dan kebodohanlah yang menyengsarakan hidup manusia.

Surabaya, 25 Maret 2018

Bs Totoraharjo

 

Iklan

6 respons untuk ‘Buku, Meja, Dan Pengalaman Berbelanja

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s