Preman Ngaji dan Bertanya, ‘Dimana Tuhan?’

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Saya hampir saja tidak percaya dengan kejadian ini. Belum lama ini, pada suatu pagi, seorang teman lama dari daerah Batu tiba-tiba mengontak saya via washaap. Saya mengerti sejarah latar belakang kehidupannya, tapi kali ini saya benar-benar kagum, ‘Kang,’ katanya,’Kang, yak opo carane sholat seng khusuk?’ saya membaca ini sambil duduk di warung kopi belakang kantor, lalu pertanyaan lain menyusul, ‘Sedangkan kita tidak pernah bertemu dengan Tuhan kita? Bagaimana ini Kang?’Gendeng! Asal sampean tahu. Pertanyaan bermutu ini diajukan oleh seorang bekas Gento kawakan. Boleh alhamdulilah. Boleh istighfaar.

Alhamdulillah karena pertanyaan ini mengandung khasanah ilmu hikmah dan menyumbangkan pemikiran intelektual islam. Istighfar karena pertanyaan ini diajukan bukan kepada seorang kiai, ulama, ustadz yang sejarah hidupan-nya tidak pernah bergaul dengan kitab kuning, bergaul dengan mekanisme kurikulum formal, dan ‘ijazah’ sebagaimana yang terjadi selama ini pada kebudayaan dunia  pesantren. Untunglah saya di Surabaya ia di Batu, kalau dekat, niscaya tangan saya gatel, bisa langsung saya jundu kepalanya. Hehehe.

Rasa-rasanya justru aku sendiri yang belajar kepada pertanyaan itu. Pengembaraan pemikiran pertanyaan itu muncul, dan lahir, dari praktik-praktik penghayatan, perenungan yang dalam, pasca kemusliman itu dikerjakan. Sedangkan aku sendiri, berangkat ke masjid dan diteruskan mengaji beratnya bukan main, pulangnya lebih berat lagi godaan’nya, yakni merasa lebih baik dari yang tidak sholat di masjid. Banyak yang sukses berangkatnya. Namun sepulang dari Masjid? Sampean-sampean semua, bisa meraba hati sampean sendiri. Betapa hati kita punya peluang besar menjadi orang yang sombong.

Betapa standar parameter hidupku sangat rendah. Mendapat pertanyaan serius semacam itu sungguh amat istimewa bagiku di tengah banyak pilihan hidup untuk mengejar dan memikirkan duniawi sepanjang siang dan malam. Artinya, aku mendapat saudara dengan energi untuk sama-sama belajar. Hidup memang pembuktian. Alllah sendiri menganjurkan untuk itu: yaa ayyuhallaiziima ammanu lima taqulluuna maa laa taf’allun. ‘Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?’

Maka dalam menjawab pertanyaan ini, tentu saya bukan orang yang soleh. Jangankan kok soleh, baik saja masih belum. Sesama murid memang tidak-di-perbolehkan saling mengisi rapot.  Kiai-ulama- ustadz mana yang harus kita hormati dan cintai di zaman now? Orang yang berilmu tinggi? Apa orang yang mengamalkan ilmunya?. Aku sendiri jatuh hati terhadap orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Allah sendiri sering memberi tahu kepada kita: ‘Fa laa tuthi’il mukazzabiin.., maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Karena ini negara demokrasi izinkanlah saya memakai hak jawab, sebagai penegasan sikap untuk saling ngancani. Dan upaya menciptakan ketentraman sosial. Demi kesopan-santunan dalam hubungan bebrayan sosial, antara aku dan kawan tercintaku; maka aku ketikan tulisan ini. Lha, memang bagaimana yang di sebut khusuk itu?.  Khusuk itu hubungan keindahan kita dengan Allah. Jadi kalau niat shaolat itu namanya kebaikan. Kalau menjalankan sholat sesuai aturan syariat itu namanya kebenaran. Kalau kita sholat, lalu kemudian hati kita gerundel dan pikiran kita kemana-mana, tidak fokus, kira-kira Allah sendiri tersinggung apa tidak?.

Umpamanya, kalau aku ngobrol di warung kopi, terus ada teman lawan bicaraku pegang gejed terus-terusan, tanpa mendengar dengan baik apa yang aku ceritakan, otomatis bisa langsung saya jundu, ‘Ndayasmu! Rungokno, ndeng!Heu-hee-heu. Kepada kawan dekatku yang berada di kota Batu itu, aku bersyukur betul oleh pertanyaan pencarian semacam itu. Gara-gara itu, kita terus mensyukuri perbaikan-perbaikan yang tak mengenal kata stop.

*Baca juga: Islam dan Kerja-Kerja Bilhikmah…

Yaa, begitulah persaudaraan kemanusian itu. Ada yang perlu di tanggapi dengan ilmu. Ada wilayah tema-tema yang cukup di tanggapi dengan cinta dan romantisme. Sedangkan untuk bagian, ‘Cak, kita tidak pernah bertemu dengan Tuhan kita? Bagaimana?’. Jawaban terbaik adalah tidak di jawab itu sendiri. Selebihnya cari sendiri saja jawaban-nya. Lha, karepmu aku staf-nya Malaikat Jibril opo?. Lebih baik mana, mencari ilmu sendiri apa di kasih tahu? Lebih mulia mana orang yang mencari ilmu apa orang yang di kasih ilmu?’.

*Bahan pemikiran ini di ambil dari telaga khasanah Maiyah

Bs Totoraharjo

Surabaya, 04 Maret 2018

 

 

 

 

Iklan

3 respons untuk ‘Preman Ngaji dan Bertanya, ‘Dimana Tuhan?’

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s