Mbah Kimin Dan Orang Desa Yang Meninggal dengan Tenang

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Sore itu perhatian pikiran saya benar-benar tidak bisa mengelak. Kawan dari desa sebelah itu berhasil total menggiringku untuk tidak miset kemana-mana. Di dalam kosnya yang – maaf — tidak luas dari parkiran mobil itu, ia menyampaikan kabar getok tular dari desanya. Fakta itu kemudian berubah menjadi kado cerita yang amat melegakan batin. ‘kang, kemarin sebelum magrip ada mbah-mbah sepuh yang meninggal di mushola belakang rumah ku.’ Hati saya berdegub.  

Kabar duka itu ada dua pilihan nuansa menyikapinya. Boleh sedih. Boleh juga mengucap syukur alhamdulillah. Tapi kali ini hati saya lebih memilih sikap bahagia sekaligus tersenyum bangga. Saya kejar teman saya itu untuk melanjutkan cerita hikmah kontemporer-nya, ‘Kang, kemarin itu, mbah Kimin itu pergi ke mushola bareng istrinya, kang. Ndilalah-nya sore itu kok ya pas mati listrik. Sesudah mengambil wudhu dan siap-siap adzan, istrinya bertanya, ‘Pak, ndang adzan toh, keburu magrip-nya kelewat?’ belum juga ada jawaban. Istrinya membuka tirai pemisah antara sekat jamaah laki-laki dan perempuan. Berjarak empat-sampai-lima saf di sebalahnya, mbah kimin dalam keadaan duduk tidak bergerak.

               ‘Pak, adzan, Pak?’

               ‘Kok diem toh, Pak!’

 Istrinya mulai curiga.

               ‘Pak, kok diem toh Pak?’

‘Loh-loh Pak.,’ istrinya mbah Kimin mulai was-was,  ‘Sampean kenapa Pak?’ kemudian badan mbah Kimin tergeletak di atas karpet mushola. Istrinya menggerak-gerakan bahunya amat pelan, tapi mbah Kimin masih tidak bersuara.  Dengan situasi yang agak panik. Kemudian istrinya meminta bantuan kepada warga sekitar mushola. Beberapa warga kampung masuk ke dalam. Dari dalam Mushola itu tangis menggema amat kencang.

Ternyata, mbah Kimin sudah di timbali Allah dalam keadaan suci dan hendak mengumandangkan adzan. Izinkanlah saya memakai idiom resmi regulasi moral Muhammad: ‘Lokasi yang paling Allah Swt sukai adalah Masjid atau langgar, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.’ Keindahan kepergian mbah Kimin sudah cukup untuk membuat hati kita semua terasa lapang.

Cerita masih belum selesai, saya kemudian mengejarnya lagi. Ada yang memang harus kita gali kemudian kita genggam, ‘Kang, bagaimana, hidup mbah Kimin keseharian-nya?’ ia geleng-geleng kepala. Ini jelas pertanda baik. Gerakan tanggan-nya mengacungkan jempol. “Top, kang. Top-lah pokoknya,’ katanya, ‘Selama ini yang masyarakat kenal terhadap mbah Kimin selalu menyapa duluan setiap bertemu orang. Siapa saja, entah orang tua, entah anak-anak muda. Grapyak banget. Supel,’ katanya, dahsyat.

Islam dan jawa itu dua wilayah getaran energi yang saling tarik-menarik. Sementara kepergian mbah Kimin di desa kali ini berjodoh dengan informasi dari Allah: ‘fa may ya’mal misqoola zarrotin khoiroy yaroh,.. izinkanlah saya memperjelas aturan-mainya: maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberapa zarrah, niscaya dia akan melihat balasan-Nya.’ Mbah Kimin adalah manusia yang merintis kehidupan: hidup ini maju dan bergerak ke arah mana?. Beliau punya kesanggupan sebagai manusia Al-janah. Artinya kebun. Kehidupan adalah berkebun agar kelak kita benar-benar terlatik ketika berpindah menghuni kebun syurga.

baca juga: kiaikenduri.com/store

Mbah Kimin sudah benar-benar siap berladang dikebun syurga. Kesadaran pikiran beliau sudah pada taraf kebudayaan. Beliau adalah simbol peradaban orang-orang desa. Sedangkan kehidupan kita semakin hari semakin keserimpat-serimpat semak belukar zaman yang jauh dari nilai-nilai keluhuran, kepolosan, apa-adanya. Pikiran kita semakin hari semakin tercemari oleh egoisme duniawi yang secara habis-habisan kita perjuangkan tapi tidak bisa kita bawa mati. Mbak Kimin adalah alarm zaman bagi kita semua. Selamat jalan duluan Mbah, kami semua sedang antri, namun tidak tahu alamat untuk bertanya berapa nomor urutannya?.

*Bs. Totoraharjo

Surabaya, 21 April 2018

 

Iklan

5 respons untuk ‘Mbah Kimin Dan Orang Desa Yang Meninggal dengan Tenang

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s