Selang-Selang Infus dan Zaman Koyak Moyak

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Akhirnya sebulan yang lalu saya benar-benar ‘tewas’. ‘Tewas’ disini bukan berarti meninggalkan kasunyatan dunia. Tapi tumbang oleh suatu mahkluk utusan dari langit yang entah saya tidak tahu kapan ia nemplok dan aksesebel terhadap kondisi saya. Seorang kawan mengantar saya masuk ruang unit gawat darurat. Sesudah tangan kanan saya di masuki benda asing dan selang-selang cairan, ia berkomentar, ‘Wong pendekar kok kalah sama nyamuk!’ saya membalas agak halus, ‘Cak, kurang ajar sampean,’ hehehe. Saya tumbang oleh mahkluk yang sejarah penciptaanya dimulai dari bahtera kapal Baginda Nabi Nuh.

Kesehatan itu nikmat. Sakit juga deretan kenikmatan yang lain: wabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban. Segala nuansa kehidupan baik masalah dan problem-probelmnya semua datangnya dari Allah. Kita kembalikan lagi semuanya kepada pemilik yang sah atas segala kehidupan. Kita wajib menggengam satu senjata: pasrah sekaligus bertawakal. Asal syarat utamanya mendekat kepada ilmu syukur dan hikmah. Tidak ada yang terbuang sia-sia. Sari pati dan gizinya kita pegang, kunyah, kemudian telan, energinya sebagai bentuk perkenan silaturohim. Bahwa hati ini benar-benar melewati serangkaian tes.

Jam satu dini hari saya masuk kamar rawat inap. Dalam ruangan yang lebih luas dari kos saya itu, saya berada di tengah. Samping kiri saya, seorang kakek tua terbaring selimut tipis yang mulai akrab dengan fungsi-fungsi organ tubuh tertentu yang sudah mulai kendor. Semacam memasuki babak baru pemberkasan ‘administrasi’ khasanah: penyakit sesepuh. Pak ‘Sepuh’ itu tak sendiri. Istrinya berjaga di sampingnya dengan posisi tertidur sambil duduk. Kedua wajahnya saling bertemu, tepat bagaikan dua mahkluk Allah yang bekas semalam suntuk bercerita. Lukisan hidup sikap komitmen cinta dan kesungguhan kesetiaan.

Kepala saya berganti menengok ke arah kiblat. Di samping kanan saya, seorang pasien yang kebetulan – maaf – boleh saya taksir usianya masih sekitar 40 tahun. Ia masih terjaga. Di atas kasur ia beberapa kali melakukan gerakan sujud semampunya. Sayup-sayup aku mendengar ia mengucap beberapa kalimat doa mengharapan dan di tutup dengan doa salam. Di atasnya terdapat dua kantung darah terhubung selang masuk ke tangan kanannya. Pikiran saya berklebat-klebat tertuju pada seorang terdekat saya. Masya Allah, saya sempat bergidik.

Mendadak ia duduk menghadap ke saya, ‘Cak sakit apa sampean?’

Saya membalas, ‘Hanya di gigit nyamuk, Pak!”

‘Makan yang banyak Cak, besok minum air putih minimal dua botol sehari pasti cepat pulang cak!’ ia seperti sudah akrab dengan jenis penyakit ini.

Saya menganguk, tangan saya meraih botol air mineral, kemudian meminumnya.

“Nah, gitu cak. Pasti cepet sembuhnya,’

Saya membalasnya dengan senyum tulus kemanusian.

Dalam hati saya diam-diam membatin: ada yang kurang beres dengan fungsi ginjalnya. Mendadak entah satu pertanya’an mendamprat masuk ke dalam telinga saya. ‘Cak, kebanyakan kalau cuci darah itu, banyak yang gagal sampai meninggal ya?’ Allah huakbar. Saya melihat wajahnya tertunduk pasrah. Pucat. Dan kulitnya mulai kering-keriput. Seolah psikologisnya sedang tertimbun masalah besar. Ia sendirian, entah siapa yang bertugas menjaganya. Pikiran saya sudah siap antri di ujung lidah. Kalau saya berbicara terlalu panjang, bisa mengancam jatah waktu ideal istirahatnya. Kalau saya berbicara agak keras, bisa mengancam ketentraman kesunyian segenap penghuni ruangan.

Saya kupaskan ‘buntelan makanan kepala’ yang barang kali langsung berguna, “Allah yang mengatur segalanya, Pak. Orang mati tidak ada hubungannya dengan umur. Bisa orang tua atau anak muda. Bisa orang sakit. Bisa orang waras. Orang mati bisa kapan saja dan di mana saja. Satu menit, dua menit kedepan? Siapa yang tahu? Itu seratus persen hak Allah atas hidup kita. Pendapat vonis medis jangan di posisikan mutlak kebenarannya. Dokter dan ulama, semua sedang nunggu atri Pak. Kalau Allah menghendaki sampean besok bangun tidur langsung sembuh. Ndak ada yang tidak mungin kan Pak?. Ya, sudah sampean istirahat saja sekarang… siapa tahu Allah kasian sama saya, atau sama sampean sehingga di sembuhkan?’

‘Cak, sampean belajar nyantri dimana?’

‘Oh, saya gento Pak. Ndak Nyantri,’ kemudian ia menarik sarungnya, memakainya sebagai selimut.

Pendapat vonis dokter, pendapat ulama, cerdik, cendekia, maupun begawan-begawan lain, siapa yang paling bener pendapatnya? Siapa yang paling sejati? Tongkat musa atau kebesaran Allah itu sendiri?. Kehebatan kita letakan lagi atas anugrah dari langit. Semua harus di tempuh dengan proses kerendah hatian sikap dalam berjuang. Kita semua sama-sama punya posisi sejajar dalam konteks bidang ke ilmuan: ’menurut pendapat saya, dan sekali lagi, menurut pendapat saya, Allah bilang begini… bla-bla-bla..’ untuk sampai mendekati keputusan final iya, dan tidaknya, semua berlaku kehendak Allah. Tergantung gusti Allah maunya apa.

Dengan layar kecil seadanya digenggaman tangan kiri, dan agak gratu-gratul sewaktu mengetik, saya kemudian segera menuliskanya sekelebat tulisan ini. Siapa yang paling merasa bersalah atas mandegnya daya jelajah ribuan bahkan jutaan pikiran saudara-saudara kita? Siapa yang paling bertanggung jawab atas kejumudan akal yang menyebabkan beribu-ribu kepala manusia menderita kebudayaan kebuntuan berpikir?. Sedang para auliya – bolone gusti Allah — dari zaman ke zaman hingga pemimpin agung kita kanjeng Nabi Muahamd Saw, mempunyai protap yang jelas; berhati-hati dan waspada dalam bertutur dan berucap.

Orang tidak boleh mandek dengan setiap harinya dengan terus bertanya, ‘Berhati-hatilah dengan pikiran kita sendiri, pikiran bisa berubah menjadi ucapan.’ Maka kita perlu menaik-kan tenaga kewaspadaan itu menjadi, ‘Berhati-hatilah dengan ucapan dari lidah kita sendiri, karena ucapan bisa berubah menjadi tindakan.’ Lalu pada taraf yang lebih serius, ‘Tindakan bisa berubah menjadi sifat atau karakter.’ Sedangkan kegelapan sudah ada di depan mata, ‘Karakter bisa berubah menjadi kebudayaan, hingga naik lagi kebudayaan menjadi peradaban.’ Itulah yang terjadi di Indonesia hari ini. Indonesia dengan segala macam peradaban koyak moyaknya.

Ulama, ustadz-ustadz dengan segala macam peradaban kesombongan ilmunya. Indonesia dengan segala macam peradaban korupsinya. Demokrasi dengan segala peradaban saling sikut, memperebut-kan jabatan dan kekuasaan. Praktik peradaban mengklaim paling benar sendiri diberbagai dimensi tema dan konteks seolah-olah paling tahu segalanya. Meracuni kita, mengepung kita setiap hari, dan jenis zaman peteng dedet lainnya.

Pengingkaran dan segala macam pertengkaran zaman peteng dedet itu tidak hanya menyusahkan seluruh masyaraat, tapi sudah melecehkan keberadaan Allah itu sendiri: wa wajadaka ‘aaaaa’ilan fa aghnaaaa.., ‘Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekuarangan, lalu Dia memberikan kecukupan.’

Akan tetapi, dimulai dari esok hari, dan seterusnya. Allah sendiri memberi informasi yang amat terang kepada kita untuk meraba hati kita dalam-dalam: ‘Kullu nafsim bimaa kasabat rohiinah.. ‘setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya’. Lalu hal apa lagi yang perlu di-takut-kan atas hidup sedangkan Allah bersama kita setiap hari.

 

Surabaya, o1 Juni 2018

*Kyai Loka Jaya

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s