Mudik Dan Merenungkan Kembali Pemikiran Islam Kita

IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Dengan ringkas. Aku menghaturkan teramat khusus lewat tulisan ini — tentu sampean-sampan semua akan setuju jika mengucap terimakasih kepada Kh. Abdul Wahah Chasbullah. Karena pada tahun 1948 telah merintis sekaligus menggagas istilah ‘halal-bi-halal’. Ritus budaya mudik setahun sekali yang sekarang kami petik buahnya dan mensyukurinya sesudah melepas rindu dengan keluarga di desa. Di lapisan masyarakat dusun, punggawa Mangkunegara satu beserta jajaran keraton turut serta membuka jalan peradaban dengan memberi contoh sikap welas asih dengan saling memberi maaf. Aku kok meyakini, sepertinya nukleus budaya ‘islam jawa berpeci’ lahir dari peristiwa indah ini.

Peristiwa halal-bi-halal itu telah melahirkan kebahagian diberbagai tempat, diberbagai desa. Jutaan hati manusia mengucap syukur karena bersentuhan dengan pengalaman baru. Ada pandangan hidup yang dapat diperbaharui. Ada zaman yang sedang dan sudah bergerak. Hidup kami maju, tapi sejatinya ia ‘maju kembali ke tahap awal’. Lahir kesadaran baru. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.  Kita memperkerjakan kata ‘kembali,’ kemudian ‘mengenal’, dan ‘mendalami’ keutuhan keberadaan kita sebagai manusia.

Pirintilan-printilan pengalaman lebaran yang membekas dalam hati itu banyak sekali.

Lebaran kedua, ada seorang tamu sekeluarga yang datang ke rumah. Saya mempersilahkan sang tamu itu masuk, kemudian duduk di ruang tamu. Ada berbagai kue-kue produksi pabrik sebagai suguhan makanan kecil. Simbok pergi ke pawon membuat unjukan teh hangat. Bapak duduk di samping saya, jempol tangannya menyongsong maju ke depan, ‘Ayo, nduk, jajannya di buka?’ kata Bapak, kalem. Sang tamu sekeluarga itu, tidak ada sentuhan gairah untuk mendekat menikmati hidangan di atas meja kami. Roti, kue-kue kering, dan sebangsanya masih utuh. Sesudah salam-salaman, kami ngobrol santai, ia seorang pedagang es buah yang amat populer di depan SMA satu Panggul tempat ku belajar dulu. Aku membuka obrolan,

“Sudah nyetok buah untuk lebaran, Lek?’ aku memanggilnya lek. Meletakan kata ‘lek’ sebagai denyut romantisme hidup berdusun-dusun.

‘Lha, kulkasku kosong semua, nang,’ jawabnya,

‘Lhaa, ini kan lebaran dua hari. Banyak orang kok malah gak jualan, Lek?’

Jawaban-nya benar-benar membangunkan saraf-saraf kesadaran otak-ku yang sedang tertidur pulas.  ‘Ndak, nguber donyo, Nang. Waktunya lebaran, ya lebaran. Yang jualan, biar saja tetap jualan,’ katanya, masih belum selesai, ‘Kalau aku, ya milih libur, wong waktunya silaturahmi,’ jawabnya dengan wajah bersahaja. Dahsyat.  Aku langsung mengacungkan jempol ibu jari untuknya. Aku berkata dalam hati: ‘Ampuh.’ Kepalaku langsung terguncang: mungkin ini yang di sebut manusia-manusia yang tidak tergiur oleh berbagai kemudahan hidup. Beliau tidak tergiur oleh rezeki nomplok di tengah gegap-gempita iklim perniagaan yang goal besarnya adalah mengejar materi sebanyak-banyaknya. Beliau bukan pedagang.  Tapi manusia.

Pagi harinya, lebaran hari ketiga, saat matahari belum tergelincir dari arah timur. Jam enam pagi terdengar bunyi sepedah motor bebek tua, buntut, dan ngegas-ngegas masuk ke gang rumah. Asapnya berklebat-klebat membumbung keudara. Aku yang masih blebetan sarung menengok dari dalam jendela ruang tamu. Sang tamu kedua itu menurunkan keranjang yang berisi satu kambing jawa yang sudah di sembelih. Terjadilah percakapan transaksi antara dua manusia: pedagang dan pembeli. Aku mendengarnya samar-samar dengan mengamatinya.

“Kang, aku belinya, 500 ribu,’ ia memangil bapak-ku dengan sebutan kang.

                ‘Ooo…, iyo Nang,’

‘Sampean, bateni aku 150 ribu ya kang?,’

Tanpa berpikir panjang. Bapak mengambil uang beberapa lembar. ‘Sampean hitung, nang,’ bapak lalu menyodorkan uang.

‘Oke, Kang. Wah. Beres, ya.’

                “Beres..’

Kepalaku hampir saja pecah. Aku keliling dari tempat-ke-tempat di ibu kota, amat mustahil menemukan posisi ‘manusia pedagang’. Belajar dari mana cara berdagang dengan akad kejujuran dan keterusterangan semacam itu?. Sedangkan kehidupan mereka jauh dari sumber literer, dari berbagai macam jejak kepustakaan islam. Di desa, sikap saling percaya, sikap saling mengamankan itu masih hidup. Dan menjadi pedoman. Dengan tergesa-gesa aku menghampirinya. Bersalaman dengannya. Simbok baru saja memanaskan air di atas pawonan kayu, namun sang tamu itu keburu-buru pergi. Kemudian pamitan. Bapak menghantarnya sampai di depan jalan. Enak sekali bertemu dengan orang-orang kecil di desa semacam ini.

Di desa semua ketenangan dan ketentraman hidup itu masih ada dan terawat. Yang ini sungguh sangat jelas di depan mata kita: Silaturohmi. Menyambut tamu dengan hidangan dan unjukan. Berdagang dengan keterbukaan hati. Mengantarkan tamu yang pulang sampai ke depan pintu. Dan seabrek-abrek kebaikan yang lain adalah harapan sekaligus modal bahwa peradaban Desa akan tetap ada 1000 tahun lagi. Kehidupan abad dua-satu hari ini materi menjadi pusat gerak-gerik manusia secara total dan habis-habisan.

Sedangkan orang-orang di desa-desa kami, kehidupan mereka berpedoman pada: ‘Mang kaana yuriidu harsal-aakhiroti nazid lahhu fii harsih, wa mang kaana yuriidu harsad-dun-yaa nu’tihii min-haa wa maa lahuu fil-aakhiroti min nashhib. Taraf kesadaran manusia yang sudah mencari kesejatian dengan memilih keabadian rohani, mencari keuntungan akhirat sekaligus. Silahkan sampean semua mengamini, jika anda percaya.

*Kertosono, 17 Juni 2018

*Kiai Kenduri.

Iklan

Monggo pinarak?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s