Desa dan Kerinduan Kita


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Pada saat gue memasuki Surabaya pada tahun 2010, gue adalah anak kampung yang kehilangan induknya. Pikiran gue masih di kampung halaman, sementara fisik gue sudah di kota Metropolitan. Urbanisasi memaksa gue untuk membelah diri, bermetamorfosis. Dari Kecebong menjadi Kodok Bangkong. Dulu…., lidah gue masih medok. Sisiran rambut gue, belah tengah yang kalo di zoom, terus dilihat dari jarak dekat, kutunya lagi ngaspal jalan pakek ketombe. Gue juga sering keluar rumah memakai sendal jepit merk Swalow. Mungkin kalo pas lagi jalan-jalan ke Mall, gue langsung di ciduk sama petugas keamanan, karena gue di sangka kembarannya Tarsan. Baca lebih lanjut

Iklan

Sepotong Pesan Untuk Orang Bertitel


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Saat masih kecil. Di waktu pagi tiba, menjelang mau berangkat sekolah. Ibu rutin menyisir rambut kita di depan cermin sebelum berangkat sekolah. Gue inget banget, suasana moment penuh asupan kasih sayang ini, sempat gue nikmati, saat masuk sekolah Taman Kanak-Kanak hingga, gue memasuki Sekolah Dasar, kelas satu. Berikutnya, saat waktu terus berjalan, secara pelan-pelan, seriing dengan masa pertumbuhan, ibu meletakkan sisir itu di depan cermin, moment berharga itu mulai lenyap. Sisir yang semula biliau gunakan, untuk merapikan rambut gue, kini gue sendiri yang harus melakukan-nya. Ada pesan, yang ndak perlu ibu sampaikan secara langsung: bahawa gue sudah besar. Baca lebih lanjut

Suara Senyap Pak Camat Dan Kenalpot Brong


DSC_0016

Foto: Suasana depan pendopo kecamatan Panggul, penuh dengan anak-anak gaul masak kini, yang kelewat kegaulen sampek bloon, 01 January 2015 [@Cupunoted]

Sejak kapan pergi ke belakang, di identikkan dengan pup (baca: ngiseng). Tidak ada yang tau kejadian persisnya. Sama halnya, dengan, sejak kapan perayaan tahun baru di identikkan dengan kembang api dan mercon. Juga tidak ada yang tahu. Zaman kolonial belanda, ketika nenek gue masih semuda dengan Luna Maya, perayaan tahun baru hanya menggunakan obor bermerk oncor yang terbuat dari, bambu sebatang ros, dengan berbahan bakart gas minyak tanah. Lalu, pada tengah malam tiba (entah jam berapa, karna waktu itu belum ada jam), oncor itu di tiup dengan pipi yang menggupal penuh udara. Puh…. biyar pet. Kemudian tidak ada pesta makan-makan, hanya ada, kain bernama jarek lalu krukupan, dan tidur pulas sampek pagi tiba. Baca lebih lanjut