Islam dan Kerja-Kerja Bilhikmah…


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Seorang teman dekat saya yang bekerja sebagai manager di perusahaan per-bank-kan mengatakan ‘benda-benda padat dan cair’ pada kehidupan modern adalah sebuah benda magis. ‘Benda sihir’ yang kedudukan kastanya menyumbang prioritas utama jaminan kebahagian abadi. Saya luangkan waktu saya untuk melihat wajahnya yang begitu berat. Saya geser tempat wilayah kerja-kerja persaudara’an saya ke tempat yang lebih tenang dan rileks. Saya dan dengannya duduk di sebuah warung di bawah pohon besar. Saya dengarkan gangguan-gangguan besar di kepalanya. Baca lebih lanjut

Iklan

Yang Terhormat Desa Saya


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Orang modern hidup seperti robot. Gerakannya sungguh mekanik setiap hari.  Berjalan serentak secara masal. Keluar rumah hanya untuk bekerja. Saat langit mulai gelap mereka pulang dan mengunci pintu. Tiada yang tahu siapa nama tetangga di samping rumahnya. Tiada yang tahu siapa warga kampung yang meninggal sore itu. Tuhan kehidupan di kota sungguh sangat sibuk.

Baca lebih lanjut

Perempuan Yang Menangis di Bawah Ka’bah


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Selama ini kita di doktrin untuk hidup sukses harus bertahan di ibu kota. Entah rumus itu datang dari mana, kota menjadi ‘juru selamat’ menghidupkan impian besar anak-anak dusun?. Anak-anak sedesaku yang sekolah di kota, hampir semuanya tidak pernah kembali ke desanya.  Sesudah lulus, mereka mengembara ke kota, mendekat kepada pusaran besar jaminan-jaminan hidup yang lebih merdu dari pada suara deru mesin penggiling padi. Pada sore awal bulan Maret, sesudah pulang kerja, tembok kamar menjadi tempat yang paling enak untuk bersandar. Terdengar ada pesan washaap yang masuk. Baca lebih lanjut

Penjara Hidup Dan Kekerdilan Manusia


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Tamu yang datang ke ndalem-nya bapak pagi itu dari dusun sebelah. Dusun desaku bernama Pinggir. Sedangkan dusun sebelah namanya Sorondolo. Belum siang, waktu masih jam sembilan pagi. Bapak, simbok, dan aku, masih duduk lesehan di atas kursi sofa ruang tamu. Bapak merokok klepas-klepus lalu di susul ngunjuk wedang kopi hitamnya, dan berkata, “Kalau di rumah cuma dua hari… mbok ya ora usah pulang toh, nang. Opo gak, kesel di jalan?” Baca lebih lanjut

Berkawan Tanpa Kepentingan


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Kadang kala, semakin lama kita tidak bertemu, tak saling tanya kabar satu sama lain, semakin kita ngempet rindu. Masalahnya kawan kita itu, dengan mendadak memberi undangan mantenan. Undangannya bukan lewat telfon, juga bukan lewat ulem-ulem seperti di desa-desa. Namun lewat pesan wasap. Dan tanpa geden-geden seperti ritus mantenan kebanyakan. Aku pun terpana juga, ketika di ujung kalimat pesannya ada sebuah pesan: “Kang, di rumah sudah di siapkan makanan enak. Ada bakso, dan kue-kue. Tapi… tolong lo kang, tolong. Aku ndak menerima buwuhan.’ Pesan itu, ialah laksana badik yang menikam kewajaran. Baca lebih lanjut