Mengenali Kembali ‘Warasatul Anbiyaa..’


Sudah terbukti dari dahulu, dari zaman-ke-zaman, uang, jabatan, dan kursi-kursi kekuasan menjadi pusat gerak-gerik pergerakan dan perpecahan antar kelompok manusia di setiap zaman. Kalau kita bersedia duduk, urun tenaga dan melekan membaca sejarah, sesudah kanjeng Nabi Muhammad Saw kepundut,  aku sendiri pernah membaca kisah hebat dua sahabat kanjeng Nabi yang teramat tawaduk ini.

Betapa sayidina Umar bin Khatab, yang badannya begitu sangat gagah perkasa, tapi kedua matanya mampu menangis tersendu-sendu manakala saat sahabat karibnya sendiri, Khalifah Abu bakar Shidiq, menunjuk dirinya sebagai calon pengganti khalifah berikutnya. “Jika sampean benar-benar mencintaiku, wahai khalifah, janganlah sampean bebankan amanat sebesar itu ke pundak dan punggungku.’ Demikian kira-kira permintaan sahabat Umar kepada seniornya itu.

“Masih banyak orang lain yang mampu, dari pada aku,’ Kata Umar melanjutkan lagi. Sahabat umar ini menangis boleh jadi — jika aku boleh berpendapat — membayangkan betapa berat menjalankan amanah tanggung jawab itu. Juga yang paling inti dalam hidupnya, membayangkan betapa kerasnya metode hisab di hari perhitungan nanti di akhir zaman. Tapi allhamdulillah kalau kehidupan sekarang ini kita nyicil-nyicil membicarakan tema-tema semacam ini.

Muawiyah saja, khalifah islam yang dikenal paling representatif, tidak adil, dan korup, terdiam menunduk ketika seorang ulama memperingatkan dengan keras ketika beliau naik haji menggunakan anggaran Baitul Mal.  Saaat kritik itu terlontar dengan keras, Muawiyah marah dan tegang, tetapi cepat-cepat ia pergi ke belakang. Lantas muncul kembali dan berkata, ‘Saya ingat betul hadis Rosul, bahwa apabila amarah menimpa, hendaknya kita segera berwudu agar hati menjadi jernih kembali. Sekarang saya telah berwudu, dan saya nyatakan saya memang bersalah dan akan membayar utang itu.’ Sungguh dahsyat posisi sikap hidup beliau.

Zaman memang sudah berubah total. Sulit sekali menemukan ada pejabat kok tidak korup dan tidak adil. Malah dibaliho-baliho dan papan-papan megah reklame di pinggir jalan semuanya mengaku paling amanah. Semuanya mengaku paling bersih. Mungkin tidak paham atau tidak punya ilmu, atau benar-benar sungguh bodoh. Ada orang kok mengaku, dirinya sendiri hebat. Wong belum bekerja kok mengaku paling amanah. Muskil dan degil sekali.

Imam Al-ghazali  pernah menerangkan: “Rusaknya rakyat, karena rusaknya para pemimpinnya, dan rusaknya para pemimpin karena rusaknya para ulamanya’. Sekitar 800 tahun yang lalu di zaman wali songo, kedudukan ulama, mempunyai derajat dan kewibawaan yang sangat disegani. kedudukan ulama sekarang ini menjadi teramat bias. Ada ulama tablig dari mimbar ke mimbar. Ada ulama yang masuk dalam gelanggang politik praktis. Ada ulama yang menjaga jarak dengan kekuasaan lalu memilih keliling dari desa-ke-desa, ngancani sekaligus membesarkan hati masyarakat.

Sungguh, bangsa Indonesia  butuh banyak kiai dalam pengertian kalimat terakhir itu. Menjaga mibawa dan martabatnya.

Surabaya, 02 Januari 2019

Bs Totoraharjo

karya kang: @ibnuharits99
Iklan