Jalanan dan Wajah Kebudayaan Kita


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Gue ngerasa kalo sedang di jalanan itu masuk perangkap maju kena, mundur kena. Apa lagi jalanan ibu kota Surabaya yang para pengendaranya menyemut memadati jalan raya yang lebarnya nggak lebih luas dari koyo cap cabe. Kita yang udah hati-hati banget, matuhin segala peraturan lalu lintas yang ada. Tapi orang lain malah ngaco, yang ngebuat nyawa kita semurah kedele goreng yang di jual di Appel Stroe. Parah. Baca lebih lanjut

Iklan

Dua Jagoan Yang Menembus Bidikmisi


INI mereka berdua, Sandra dan Dina, pas abis belajar makannya rakus

INI mereka berdua, Sandra dan Dina, pas abis belajar makannya rakus

Selepas gue sholat magrip. Jam lima lebih tiga puluh menit. Gue melepas sarung. Lalu bergegas menyalahkan motor metik tua. Baru beberapa meter jalan, dada gue deg–degan, ini yang ikut ujian bidik misi siapa, tapi malah gue yang mulai yang was-was. Sore kemarin, adalah hari penentun, antara dua pilihan. Jika Sandra dan Dina lolos seleksi jalur undangan rapot, yang sekarang namanya SNM-PTN, artinya gue lolos dari beban biayain kuliah mereka berdua. Jika mereka ndak lolos, siap-siap deh, gue bakal jadi cowok kere, seadanya. Baca lebih lanjut

Yang Harus Kamu Kerjakan Setelah Kejar Resolusi


Cover Sampul Awal 'cinta Kesandung Gunung'

Cover Sampul Awal ‘cinta Kesandung Gunung’

Setelah melakukan lari maraton dan sampai garis finish. Ada saatnya untuk beristirahat sejenak. Ada saatnya untuk membasuh jiwa yang kering akan dahaga dengan segelas air putih. Dan ada saatnya tubuh yang lelah, mendapatkan sentuhan penghargaan karena telah berjasa untuk di ajak berjuang bersama. Ketika langkah kaki, mampu bertahan menapaki setiap jalur pendakian pada sebuah bukit berbentuk Punden Berundak, sampai di titik puncak perbukitan, rayakan pencapaian itu dengan seremonial sederhana, mengucap pekik, “Iyap, aku mampu.!” Baca lebih lanjut

Ruang Rahasia Di Balik ‘CKG’


Cover Sampul Awal 'cinta Kesandung Gunung'

Cover Sampul Awal ‘cinta Kesandung Gunung’

Pada awal bulan Januari tahun 2015, gue berdiri di depan Majalah Dinding yang menempel kuat di dinding kamar. Beberapa lembar berisi resolusi menyambut datangnya tahun baru gue tempelkan di sana. Resolusi itu lumayan banyak, tapi masih bisa dihitung dengan jari. Ketika dua lembar tertempel dengan paku jamur, pandangan gue terfokus pada lembar urutan nomer tiga. Gue mengambil napas. Lalu otot-otot anggota tubuh mulai gemertak. Tangan kanan gue mengepal dengan sangat keras. Dada gue membusung. Dengan sebuah keyakinan baru, gue berusaha menyihir diri gue sediri, kemudian gue bilang. Baca lebih lanjut