Dadi Wong Apik Opo Dadi Wong Lanang?


IMG-20180402-WA0049

karya kang: @ibnuharits99

Siapa yang tidak khetar-khetir. Seorang teman yang di tindih geluduk besar ‘persoalan’ doa restu oleh calon mertuanya tak kunjung menemui kepastian. Di antara siang dan malam, hati kami di sekap oleh rasa was-was. Teman teman kita di desa, hampir setiap hari menanyakan kabarnya kepadaku. Aku pun merasa kebingungan juga. Dan hanya bisa memberi jawaban yang itu-itu saja setiap hari: ‘masih susah di kontak kang, pesan dan tefonku belum juga ada jawaban.’ Orang tua, orang tua angkat ini, kekhawatirannya nyaris mendekati kecurigaan besar. Baca lebih lanjut

Iklan

Ekspedisi #SeedForLife ke Puncak Pulau N’jorok


Foto: Tunjung {notedcupu.com}

Foto: Tunjung {notedcupu.com}

Cerita ini gue tulis di kampung halaman. Maka alangkah lebih baiknya, dalam menulis #noted ini, menyesuaikan dengan suasana yang ada di desa. Hal-hal yang ada di dalam cerita ini, di tulis dengan apa adanya. Nah, sebagai blogger yang berasal dari desa terdalam di kota Trenggalek. Yang sudah sering kali, sewaktu menulis di ibu kota, memakai perwujudan anak gaul dengan nama ‘gue’. Tapi kali ini beda, aku kembali menjadi mas-mas jawa. Biar gak kuwalat, aku pakai bahasa asli dari sana. Setuju, ora?. Baca lebih lanjut

Dari Journalistik Menjadi Buku


Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Gue tergolong sebagai mahasiswa murtad. Menyandang label mahasiswa cupu, dengan bersemedi dibawah fakultas ekonomi, lalu menyembah jurusan perpajakan. Kenapa gue murtad dari jurusan?.  Ceritanya, gue nggak mau magang di perusahaan cuma di jadikan B2 (Babu), terus di suruh kesana-kemari buat foto copy dan pekerjaan ini-itu yang ora jelas!.

Gue sempat denger cerita dari Ucup—teman se angkatan gue. Kalo dia magangnya malah parah banget. Di tempatnya dia magang. Entalahlah di perusahaan apa, gue ora ngerti. Tiap dia sampai ke perusahaan itu, dia cuma domblong doang, duduk-duduk di sudut ruangan sampek ngiler. Ucup nganggur, nggak ngerjain apa-apa di sana. Dari pagi sampai sore, yang Ucup lakuin cuma leyeh-leyeh di atas kursi. Kelakuane jan koyo bos. Badannya yang segede Bagong, membuat ucup semakin menjadi pemalas.  Kadang-kadang kalo dia haus, dia ngacir ke pentri buat bikin kopi. Nah, setelah kopi itu siap sedu, Ucup balik lagi ke mejanya, lalu nyalain sebatang rokok, kemudian mengisapnya pelan, penuh nikmat. Puuuhh…..

Baca lebih lanjut